It’s My Life


Menjaga Penyu, Menjaga Hidup Manusia
November 12, 2008, 5:36 pm
Filed under: Umum | Tag:

Go, go, go. You will see your mother soon baby. Go, go, go,” teriak wisatawan yang terlibat dalam pelepasan 38 ekor tukik (anak penyu) yang baru menetas di Pantai Kuta, Bali. Suara mereka membahana. Tukik-tukik itu hanya bisa merayap pelan. Tiga orang anggota ProFauna Indonesia menyinari pasir dengan senter agar tukik-tukik itu mengetahui arah jalan pulang.

Everybody don’t move,” begitu peringatan I Gusti Ngurah Tresna, Kepala Satgas Pantai Kuta ketika ombak mulai menyapu bibir pantai. Tukik-tukik yang tengah berusaha merayap ke laut itu tersapu ombak. Ada yang berhasil terbawa ombak, ada pula yang kembali ke daratan. Semua orang diminta melihat ke pasir. Tukik yang gagal terseret ombak ditempatkan di rute pelepasan dan disemangati lagi agar tukik-tukik itu bisa kembali ke laut.

Pukul 18.30 wita, setengah jam sejak awal pelepasan, seluruh tukik berhasil dilepas ke laut. Suasana pun berubah. Rasa senang, sedih, dan haru bercampur menjadi satu. Marilyn, seorang turis asal Perth, Australia melepaskan serangkai canang sebagai tanda cintanya kepada almarhum suaminya. “Pelepasan tukik ini saya persembahkan kepada almarhum suamiku,” katanya.

Tak banyak yang menyadari, begitu penting arti penyu bagi manusia. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, populasi penyu terus menurun dratis dan dikhawatirkan punah jika tak dilestarikan. Apalagi, pertumbuhan penyu sangat lambat. Penyu-penyu itu diperkirakan baru memasuki usia kawin dan bertelur pada umur 30 tahun. Ironisnya, menurut para ahli, dari 1.000 ekor tukik, hanya satu ekor yang bertahan hidup sampai dewasa.

“Musuh penyu sangat banyak,” kata I Wayan Wiradnyana, Koordinator ProFauna Bali Office dan Kampanye Penyu ProFauna sejak tahun 2001 ini. Ketika penyu-penyu bertelur di pantai, telur-telurnya kerap kali menjadi santapan anjing, babi, dan juga manusia. Penyu juga diburu manusia untuk diambil daging dan karapasnya.

Pusat perdagangan penyu adalah di Bali. Daging penyu diolah menjadi makanan tradisional dan sate. “Sebagian orang mengatakan, daging penyu itu digunakan untuk kegiatan adat dan agama. Padahal, para pemangku justru mengatakan tidak ada keharusan memakai penyu dalam sebuah upacara,” ujar Wiradnyana.

Permintaan daging penyu masih cukup tinggi walau menunjukkan perubahan yang signifikan. Salah satu warung yang menyediakan makanan penyu terletak di sebuah kawasan pemukiman penduduk di Sanur. Warung itu selalu buka pada tengah malam, di atas pukul 00.00 wita. “Kami sudah tidak menjual daging penyu lagi,” kata seorang ibu yang duduk di meja kasir. Ia mengaku hanya menjual nasi daging ayam. “Padahal saya sedang ingin makan daging penyu,” ujar seorang pembeli. Lelaki itu masuk ke ruang dapur. “Kalau mau makan daging penyu, datang pas malam minggu saja. Tetapi, harganya Rp 20.000 per porsi,” bisik ibu-ibu yang menyuguhkan makanan. Harga nasi daging penyu dijualnya lebih mahal dua kali lipat dibandingkan nasi daging ayam.

Eksploitasi penyu di Bali mengundang perhatian dunia internasional sejak tahun 1990. Saat itu, Greenpeace memublikasikan tentang eksploitasi berlebihan ini. UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dipertegas lagi dengan keluarnya PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Sejak itu keberadaan semua jenis penyu di Indonesia dilindungi.

“Investigasi kami pada tahun 1999 mencatat 9.000 ekor penyu hijau diperdagangkan secara ilegal dalam waktu empat bulan di Bali. Saat ini, penurunannya mencapai 80 persen berkat ketatnya pengawasan pemerintah,” ungkap lelaki kelahiran Denpasar, 4 Maret 1977 itu.

Sekarang sangat sulit menemukan penyu yang mendarat di pantai di Bali. Menurut cerita yang didapat Wiradnyana, dulu hampir semua pantai di Bali merupakan tempat peneluran penyu. Saat ini yang paling banyak adalah di daerah pantai selatan Bali, di mana sebagian besar penyu yang mendarat adalah jenis penyu Lekang (Lepidochelys Olivacea), misalnya di Perancak, Jembrana, Kuta, Badung, dan pantai-pantai di Klungkung antara lain Tegal Besar, Lepang, Sedayu, dan Klotok. “Tidak menutup kemungkinan ada daerah-daerah lain karena data dan informasi tentang hal ini masih minim,” kata lelaki yang mewakili Asian Alliance Conservation Task Force (ACATF) dalam 14th Conference of the Parties (CoP) Convention on International Trade of Endangered Species of Flora and Fauna (CITES), The Hague, Belanda, April 2007.

Kepunahan penyu di sebuah perairan merupakan indikasi rusaknya pantai tempat peneluran penyu. “Kalau masih ada penyu, berarti tempat itu masih bebas polusi,” ujar lelaki yang mulai aktif dalam dunia perlindungan satwa sejak tahun 1998 ini. Dalam proses bertelur, penyu betina memilih bersarang di lokasi yang bersih dari sampah.

“Penyu juga membuat suatu perairan yang dilewatinya menjadi subur karena penyu memindahkan unsur hara dari tempat subur ke tempat lain saat bermigrasi,” ungkap Wiradnyana. Penyu yang belum dewasa mungkin tinggal di satu area tempat makan selama beberapa tahun sebelum berpindah ke area lain. Perpindahan ini dapat terjadi dalam kurun waktu 10-20 tahun. Penyu menunggu umur 30-50 tahun sebelum mereka mulai berkembang biak. Tiap dua sampai delapan tahun – tergantung kondisi penyu-penyu dewasa ini – penyu dewasa melakukan migrasi dari tempat mereka mencari makan ke suatu pantai tempat mereka bersarang. Perjalananan ini berjarak antara 50 Km sampai 3.000 Km. “Perairan yang dilewati itulah yang menjadi subur,” lanjutnya.

Keberadaan penyu juga melindungi ikan atau biota laut kecil dari serangan predator tingkat tinggi seperti hiu dan memberi makan ikan atau biota laut di sekitarnya dengan sisa metabolisme penyu tersebut. “Secara tidak langsung, jika penyu punah, maka dapat mengurangi stok ikan di daerah tersebut,” papar webmaster ProFauna Indonesia ini.

Sayangnya, sedikit orang yang mengetahui pentingnya keberadaan penyu bagi manusia. “Pembangunan besar-besaran di sekitar pantai juga dapat mengganggu keberlangsungan hidup penyu,” ucap sukarelawan di Queensland Turtle Research Center, Mon Repos, Queensland, Australia, Desember 2004 ini. Penyu betina akan kembali ke pantai yang sama tempat ia bertelur 2-4 tahun sebelumnya. Seringkali, saat ia kembali di tempat itu telah didirikan banyak bangunan atau kegiatan pariwisata yang bisa mengganggu proses penelurannya. “Penyu mudah terganggu ketika datang ke pantai untuk menyiapkan sarang mereka. Orang-orang yang bergerak atau cahaya kemilau dapat menyebabkan penyu-penyu itu kembali menuju ke laut, tanpa bersarang,” katanya.

Begitu pula dengan tukik. Sejak lahir tukik memunyai naluri alami untuk berlari ke arah laut, yang dipandu sinar bulan. Tukik menjadi bingung dan kehilangan arah jika cahaya dari jalan atau bangunan bersinar lebih terang dibandingkan cahaya bulan. Karena itu, sangat penting menjaga pantai tempat bersarang penyu bebas dari cahaya buatan atau menguranginya seminimal mungkin.

“Upaya lain yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar penyu tetap lestari adalah tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik,” kata Wiradnyana. Jangan pula membeli dan mengonsumsi daging dan telur penyu atau membeli produk-produk yang terbuat dari bagian tubuh penyu, tidak mengganggu penyu yang sedang bertelur, atau melakukan pembangunan besar-besaran di sekitar pantai peneluran penyu. “Menjaga penyu tetap lestari sama dengan menjaga keberlangsungan hidup manusia. Ini adalah bentuk ngayah pada bumi,” tegasnya.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: