It’s My Life


Perusakan Itu Bernama Pembangunan
November 12, 2008, 5:44 pm
Filed under: 1 | Tag:

Kata orang, Bali begitu eksotis. Karena keindahannya yang tak didapat di daerah lain, Bali kerap mendapat penghargaan berkelas dunia sebagai destinasi pariwisata favorit yang layak dikunjungi. Bagi dunia kepariwisataan Indonesia, Bali menjadi tumpuan utama dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Tiap tahun, Bali dikunjungi rata-rata 1,3 juta s.d. 1,4 juta wisatawan mancanegara. Pada tahun 2007, Bali mencapai rekor kedatangan wisatawan mancanegara hingga lebih dari 1,6 juta orang, tingkat kunjungan tertinggi dalam dunia kepariwisataan Bali.

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menduduki peringkat pertama dalam tiga besar distribusi produk domestik regional bruto Bali atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha pada tahun 2006 yaitu 28,88% disusul 19,96% dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; 16,22% dari sektor jasa-jasa. Sebagai motor penggerak perekonomian, sektor pariwisata menjadi indikator bagi dunia perekonomian Bali.

Potensi pariwisata Bali yang demikian besar, tak hanya mengundang wisatawan datang ke Pulau Dewata ini tetapi juga para investor yang berharap mendapat keuntungan dari ceruk pariwisata. Lahan di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung menjadi incaran utama karena di dua daerah ini kegiatan pariwisata Bali lebih banyak dipusatkan. Pembangunan besar-besaran pun dilakukan di kedua wilayah tersebut. Di Kabupaten Badung, khususnya di kawasan Seminyak, Kuta, Tuban, dan Nusa Dua bahkan tak ada lahan lagi untuk membangun hotel baru. Lahan-lahan pun beralih fungsi.

Dalam makalah yang disampaikan pada Lokakarya Pengelolaan Lingkungan Hidup BKPSL Regional Bali – Nusa Tenggara di Denpasar, 27 April 2006 oleh I Wayan Sandi Adnyana dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana, disebutkan lahan pertanian khususnya sawah banyak beralih fungsi ke lahan bukan pertanian seperti permukiman, industri dan ruko.  Dari  data tahun 1994 hingga tahun 2001 menunjukkan penurunan luas lahan sawah, sedangkan luas lahan untuk permukiman menunjukkan peningkatan. Luas lahan persawahan terus mengalami penurunan rata-rata  723,4 ha per tahun atau seluas  6.511 ha selama kurun waktu 1992-2001. Pada sisi lain,  penggunaan lahan untuk permukiman meningkat dari 6,3% (1992) menjadi 7,3% (1997) dan 7,9% pada tahun 2001 (Bappeda Bali, 2005a). Menurunnya luas lahan sawah menyebabkan beberapa lahan subak di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar menunjukkan penyusutan yang sangat tajam. Dari 180 ha lahan sawah yang ada di Subak Abianbase, Kuta sekarang masih tersisa 15 ha.  Subak Ulun Tanjung, Legian yang dulunya 80 ha, saat ini hanya tersisa 1 ha. Di Kota Denpasar, Subak Sanglah dan Subak Tegal Injung sudah punah (Bali Post, 25 Agustus, 2006).

Dari data Bali Membangun 2002, tercatat alih fungsi lahan yang terjadi mencapai sekitar 1.000 ha/bulan. Berdasarkan data BP DAS Unda Anyar tahun 2004, luas lahan kritis Bali yang berada di luar maupun di dalam kawasan hutan mencapai 305.035 ha. Dalam dua tahun sejak 2002, terjadi kenaikan luas lahan kritis di dalam dan luar kawasan hutan sekitar 18.097 ha dan kawasan hutan di Bali pun makin menyempit. Catatan akhir tahun Bali Post pada 2006, hampir 20,4% atau 26.675 ha hutan di Bali masih kritis. Jumlah ini sebenarnya menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 55.313 hektar dari 130.686 ha.

Tak perlu diragukan, dunia pariwisata memberi kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat di sebuah daerah. Tetapi, di sisi lain, pariwisata juga memberikan dampak negatif yang harus diwaspadai.

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan pariwisata di daerah Bali Selatan, muncul sebuah tanya, yang disampaikan Kepala Bappeda Bali tahun 1991 dan dilontarkan banyak pihak hingga kini. Ketika melakukan kajian ulang atas Rencana Induk Kepariwisataan Bali yang disusun SCETO yang telah berumur 20 tahunan, ia mengemukakan, masyarakat Bali yang sebagian besar adalah petani yang bertempat tinggal di pedesaan mengalami disparitas penghasilan yang demikian besar dibandingkan mereka yang bekerja di luar pertanian. Mereka hanya bisa mengejar sapi dan kerbau yang minum air kali atau telabah. Mereka tidak mampu mengejar ‘kuda’ atau ‘kijang’ bahkan ‘bebek’ yang minum bensin. Selain itu, masyarakat Bali mempertanyakan hasil kepariwisataan Bali yang begitu gemerlap. Mereka bertanya, apakah Bali untuk pariwisata atau pariwisata untuk Bali? I Gede Ardika, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia ketika itu pun tersentak. (Ekowisata Kerakyatan, Memiliki Kembali Bali: Wisnu Press dan Matamera Book).

Pembangunan pariwisata berlebihan di Bali Selatan mendorong masyarakat khususnya kalangan produktif di kabupaten lain yang mengandalkan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, ataupun perikanan mencari kerja di Bali Selatan. Bayangan mereka, bekerja di hotel atau restoran adalah jalan mulus bergelimang dolar. Padahal, banyak warga di Bali Selatan menjual tanah mereka kepada investor dan mereka hanya menjadi pekerja yang hanya mendapat sedikit bagian keuntungan dari investor tersebut.

Pariwisata juga memberi dampak negatif terhadap lingkungan hidup seperti yang telah dijabarkan oleh World Tourism Organization (WTO) pada tahun 1996. Pembangunan fasilitas kepariwisataan (akomodasi dan sarana penunjang lainnya) menyebabkan kerusakan bentang alam, potensi peningkatan longsor dan banjir, serta memunculkan daerah-daerah kumuh di sekitarnya. Kaum urban yang datang ke daerah pusat pariwisata akan malu kembali pulang ke kampung halaman karena tak mendapatkan pekerjaan di kota. Alhasil, mereka memilih mendirikan dan tinggal di pemukiman kumuh dan bekerja apa saja asal bisa bertahan hidup.

Pembangunan juga dapat memberi kontribusi negatif bagi keberlangsungan hidup flora dan fauna liar. Contohnya, pembangunan besar-besaran di sekitar pantai dapat mengganggu keberlangsungan hidup penyu. Penyu betina akan kembali ke pantai yang sama tempat ia bertelur 2-4 tahun sebelumnya. Seringkali, saat ia kembali di tempat itu telah didirikan banyak bangunan atau kegiatan pariwisata yang bisa mengganggu proses penelurannya. Penyu mudah terganggu ketika datang ke pantai untuk menyiapkan sarang mereka. Orang-orang yang bergerak atau cahaya kemilau dapat menyebabkan penyu-penyu itu kembali menuju ke laut, tanpa bersarang. Kepunahan penyu di sebuah perairan merupakan indikasi rusaknya pantai tempat peneluran penyu.

Pertanyaan itu belum jua sepenuhnya terjawab tetapi keberhasilan pembangunan pariwisata di Badung telah memicu daerah lain mengembangkan potensi pariwisata mereka. Kawasan pesisir Bali seperti di sepanjang Pantai Candidasa, Karangasem, Gianyar, Tabanan, sampai Pantai Medewi, Jembrana menjadi incaran investor berikutnya. Di Gianyar, pembangunan vila di sepanjang pesisir pantai Cucukan, Desa Medahan, Blahbatuh dalam kurun lima tahun terakhir meningkat tajam.

Fakta membuktikan, tidak semua pembangunan fasilitas pariwisata dapat beroperasi seperti tujuan semula. Karangasem kini menyisakan bangunan hotel dan restoran yang tak lagi beroperasi karena bangkrut. Ironisnya, di tengah rendahnya tingkat kunjungan wisatawan ke Karangasem, pemerintah daerah malah memberikan izin pendirian hotel berbintang lima di kawasan Mimba, Padangbai walaupun melanggar peraturan daerah mengenai tata ruang dan tata wilayah.

Pelanggaran peraturan itu hampir merata terjadi di seluruh kabupaten/kota di Bali. Pembangunan vila di Kelating dan Penebel, Tabanan, serta vila di Uluwatu, Badung dapat menjadi contoh. Vila di Kelating melanggar batas sempadan pantai. Kasus teranyar, rencana pembangunan vila seluas 25 ha di lereng Danau Buyan, Pancasari, Buleleng. Kawasan di sekitar Danau Buyan adalah kawasan hutan lindung. Danau Buyan yang berdampingan dengan Danau Tamblingan merupakan taman wisata alam seluas 1.703 ha, terdiri atas 1.491,16 ha kawasan hutan dan 301,84 ha perairan Danau Buyan. Kawasan danau ini juga merupakan kawasan resapan, kawasan persediaan, dan kawasan pelindung tata air (hidro-orologis), sekaligus kawasan yang disucikan bagi masyarakat Bali. Danau Buyan dan Danau Tamblingan berfungsi sebagai area penyangga tata air di bawahnya dan mensuplai kebutuhan hidup serta irigasi bagi sebagian masyarakat Bali, terutama di Buleleng, Tabanan, Denpasar, dan Badung. Saat ini, Danau Buyan menjadi danau yang mengalami pendangkalan paling parah akibat berbagai faktor, seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan di sekitarnya, ataupun pemakaian air danau berlebihan oleh masyarakat. Jika pembangunan vila di daerah resapan air tidak dihentikan, tentu akan berdampak makin berkurangnya pasokan air bagi sebagian masyarakat Bali karena permintaan air untuk konsumsi pariwisata di daerah itu juga akan makin meningkat.

Contoh lain pembangunan yang tidak tepat dan mubazir adalah pembangunan theme park Taman Festival Bali seperti Dunia Fantasi Ancol di Padanggalak yang dibuka pada November 1997. Berbagai wahana rekreasi didirikan di sana seperti gedung film tiga dimensi, permainan mobil-mobilan, pertunjukkan teater laser di areal kolam, dan kebun reptil. Wahana rekreasi yang dibangun dengan dana miliaran rupiah itu tak bisa bertahan lama karena tak diminati warga. Harga tiket masuk seharga Rp 25 ribu terlalu tinggi. Wisawatan mancanegara pun minim ke tempat itu. Saat ini, Taman Festival Bali teronggok tak terurus, sebagian lokasinya malah tergerus akibat abrasi di sepanjang pantai Padanggalak. Ironis karena perusakan itu atas nama pembangunan.

Menelaah Kembali Pariwisata Bali

Pembangunan kepariwisataan di Bali sudah sewajarnya menggunakan pendekatan keseimbangan, yaitu keseimbangan pembangunan antar-satu daerah dengan daerah yang lain. Selain itu, pembangunan kepariwisataan juga harus mengepankan potensi masing-masing daerah. Misalnya, daerah yang potensial di bidang pertanian atau hutan harus dipertahankan sebagai daerah pertanian dan hutan. Daerah yang cocok untuk pariwisata budaya, dikembangkan menjadi desa atau kota budaya. Pembangunan yang mengabaikan pendekatan keseimbangan cenderung melahirkan konsentrasi perilaku pembangunan fisik maupun nonfisik yang terfokus di beberapa titik sehingga memunculkan bermacam kesenjangan sebagai dampak ikutannya seperti masalah sosial, ekonomi, maupun lingkungan seperti yang terjadi di Bali saat ini.

Pembangunan yang terkonsentrasi di Bali Selatan seperti Kuta dan Denpasar serta Gianyar di Bali Tengah berdampak terhadap makin padatnya penduduk di daerah tersebut. Dengan luas wilayah 127,78 Km² dan jumlah penduduk 458.337 jiwa, kepadatan penduduk Denpasar mencapai 3.587 per Km² (Badan Pusat Statistik Bali, 2006). Di Gianyar, kepadatan penduduk mencapai 1.052 per Km² dan di Badung, kepadatan penduduk mencapai 886 per Km² jauh lebih padat dibandingkan Jembrana yang memiliki kepadatan penduduk 229 per Km² atau Buleleng yang memiliki kepadatan penduduk 471 per Km². Hal ini tentu merangsang meningginya tingkat persaingan tenaga kerja yang yang berkorelasi positif terhadap tingginya jumlah penggangguran, meningkatnya angka kriminalitas, munculnya pemukiman kumuh, kemacetan lalu lintas, serta masalah lingkungan seperti membludaknya volume sampah dan banjir karena lingkungan tak dikelola dengan baik.

Pelajaran tentang pengembangan potensi daerah sebagai daya tarik pariwisata dapat dipetik dari pengalaman Desa Kiadan di Pelaga, Petang. Desa Kiadan menawarkan ekowisata yang bertanggung jawab. Luas wilayah Kiadan 242,3 ha dengan keliling 8,49 Km. 3,48% dimanfaatkan sebagai pemukiman, 76,40% sebagai perkebunan, 5,39% hutan bambu sebagai daerah perlindungan jurang, dan 14,73% adalah tanah negara yang digunakan sebagai kawasan hutan. Sebanyak 170 KK Kiadan rata-rata memiliki lahan seluas 0,5 ha per KK. Hingga saat ini, hanya 4 ha dari 180 ha tanah pribadi yang beralih hak milik ke tangan orang lain. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani kopi yang dilakukan zaman pemerintahan Belanda.

Dengan menerapkan ekowisata, masyarakat Kiadan tak meninggalkan pekerjaan mereka sebagai petani kopi tetapi merangkap sebagai pelaku pariwisata. Untuk menjaga kelestarian lingkungan di desa itu, penduduk tidak mendirikan hotel, walaupun sekelas hotel melati. Mereka hanya menyediakan penginapan di rumah penduduk sekaligus mengajak turis mengenali kehidupan masyarakat di sana secara langsung. Warga Kiadan pun ‘dipaksa’ terus melestarikan lingkungan seperti menebang kayu yang benar-benar layak tebang dan menanam pohon kembali, menghindari penggundulan tanah, dan penanaman dengan sistem teras siring di lahan miring.

Demikian juga yang dilakukan masyarakat di Tenganan Pegrinsingan (Karangasem), Nusa Ceningan (Klungkung), dan Sibetan (Karangasem). Dengan pola seperti itu, masyarakat merasakan langsung hasil dari sektor pariwisata yang mereka jalankan. Dengan demikian, pola tersebut menciptakan masyarakat lokal yang kuat dan berdaya sehingga mampu berperan aktif dalam pengambilan keputusan tentang tata ruang dan kebijakan sumber dayanya dalam upaya mewujudkan pelestarian dan pemanfaatan lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi berbasis masyarakat.

Dari sisi pembangunan menyeluruh, Bali sesungguhnya memiliki kearifan lokal yang bisa diadopsi untuk memaksimalkan pengembangan dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Bali yang memayungi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota seperti konsep Kahyangan Tiga, Nyegara-Gunung, Hulu-Teben, Utama-Nista, dan Dewata Nawa Sanga yang merupakan suatu sistem dalam bingkai bentuk, fungsi, makna yang tertuang pula dalam filsafat Tri Hita Karana.

Sikap tegas pemerintah daerah juga dituntut dalam pembangunan yang berkelanjutan. Tugas sebagai kepala daerah memang hanya lima tahun. Tetapi, konsep pembangunan harusnya tidak berhenti atau berubah-ubah hanya karena pergantian kepala daerah. Bali memerlukan konsep pembangunan pariwisata yang visioner, jauh hingga puluhan tahun ke depan.

Wisata Spiritual, Sebuah Alternatif

Ini hanya sebuah ide, bisa diterapkan, bisa pula tidak, bisa dikaji, bisa pula tidak. Mungkin, beberapa pelaku pariwisata di Bali sudah melakukannya. Selama ini, keindahan alam dan pantai menjadi salah satu daya tarik wisatawan datang ke Bali. Kunjungan ke berbagai objek wisata menjadi paket tur yang ditawarkan biro perjalanan. Wisata budaya pun menjadi andalan. Beberapa tempat menawarkan pementasan tarian Bali khusus untuk wisatawan. Seperti di Uluwatu, tiap hari, sekitar pukul 18.00 selalu diadakan pertunjukan tari Kecak. Seperti shampo, Uluwatu “menjual” paket two in one bagi wisatawan; menjual keindahan alam kala matahari terbenam sembari menonton kekayaan budaya Bali. Ini sebuah tindakan yang sangat tepat.

Pertanyaannya sekarang, apakah Bali akan terus-menerus “hanya menjual” keindahan alam dan budayanya? Kita tak tahu apakah kedua hal itu cukup kuat untuk menarik wisatawan sampai beberapa puluh atau ratus tahun mendatang. Selain itu, kita juga tak bisa mengklaim begitu saja bahwa pantai di Bali adalah pantai terindah di Asia Pasifik. Nyatanya, banyak negara yang mengklaim pantainya juga tak kalah indah dibandingkan Bali. Sri Lanka bahkan memanfaatkan popularitas Bali dalam promosi daerah mereka dengan tajuk “Welcome to the New Bali at Sri Lanka”.

Itulah sebabnya, kini kita memerlukan alternatif lain. Bali harus melakukan diversifikasi. Bali tidak hanya menjual keindahan alam dan wisata budaya. Bali harus punya sesuatu yang lain. Salah satunya adalah wisata spiritual.

Mengapa wisata spiritual? Tentu, pertanyaan itu yang akan muncul di benak kita. Ada dua alasan. Pertama, napas spiritual selalu ada dalam keseharian masyarakat Bali. Karena sudah terkondisikan seperti itu, Bali menjadi “pelabuhan” bagi beberapa pejalan spiritual dari berbagai belahan dunia. Sebut saja Ann Sinclair, seorang pewacana tarot dari Australia yang memilih Bali sebagai tempat tinggalnya. Alasannya sederhana, Bali merupakan daerah yang memiliki energi spiritual yang sangat bagus dibandingkan tempat lain.

Ada juga Karen Kingston, pionir dalam penerapan feng shui dan pembersihan ruang di budaya Barat kelahiran Inggris yang memilih menetap di Amed, Karangasem sejak 1990. Tinggal bersama keluarganya, penulis buku “Clear Your Clutter With Feng Shui” ini mendirikan Dancing Dragon Cottages di Amed. Cottages yang dirancang dengan sentuhan feng shui ini digunakan pula sebagai tempat seminar dan workshop Space Clearing dan Clutter Clearing di Bali. Hebatnya, pesertanya kebanyakan dari mancanegara. Ann dan Karen memiliki dua kesamaan; sama-sama memilih Bali dan sama-sama menyatakan, Bali adalah tempat yang sangat baik untuk kegiatan spiritual.

Kedua, dewasa ini telah banyak orang yang mulai mengubah tujuan hidupnya. Sebagian orang mulai berpikir untuk menemukan jati diri, tak melulu kepuasan duniawi. Dari sudut pandang marketing, hal ini merupakan pasar yang potensial. Mengemas wisata spiritual dengan apik tentu dapat mengundang “wisatawan dengan karakter baru”. Artinya, segment market Bali bertambah luas, tak hanya wisatawan pecinta keindahan alam, pecinta budaya dan para surfer.

Karena dua alasan itu, wisata spiritual tepat dijadikan sebagai salah satu unggulan wisata Bali. Lalu, apa yang akan dijual? Hari raya Nyepi. Satu hari tanpa kegiatan itu bisa menjadi daya tarik wisata spiritual di Bali.

Mengapa? Karena hari raya Nyepi merupakan salah satu saat yang tepat untuk melaksanakan wisata spiritual. Menurut beberapa pejalan spiritual, termasuk Ann dan Karen, Nyepi adalah saat yang paling baik untuk melakukan meditasi. Kata mereka, hanya Bali yang memiliki waktu khusus untuk lebih dekat dengan Pencipta secara bersama-sama. Nyepi adalah hari yang luar biasa. Sayangnya, paket menginap di hotel yang dijual selama ini terkesan untuk “menghindarkan diri” dari suasana sepi dan gelap pada malam hari.

Selain pada saat hari raya Nyepi, tentu ada paket wisata spiritual yang bisa ditawarkan. Contoh konkretnya, kita bisa memasukkan program meditasi dan yoga. Jika boleh, ajak para wisatawan itu malukat (penyucian diri) seperti yang biasa dilakukan masyarakat Bali. Mereka tak akan menemukan program itu di tempat lain.

Program wisata spiritual tidak memerlukan lahan luas untuk membangun mal-mal, kelab malam, atau tempat hiburan lainnya. Secara langsung, program wisata spiritual selaras dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan karena pelakunya dituntut agar hidup selaras dengan manusia, alam, dan lingkungan.


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wah, saya baru ketemu blog ini. Artikel ini saya copy saja dulu untuk dibaca dirumah. salam.

Komentar oleh nanoq da kansas

hi bli, selamat datang ya🙂

Komentar oleh Ratna

tulisane panjang dan lengkap. bagus buat referensi ttg dampak negatif pariwisata yg sudah kadung jd mantra di bali.🙂

Komentar oleh a!

@ a!: thanks..panjang, ampe capek baca hehehe

Komentar oleh Ratna

After I originally left a comment I seem to have clicked on the -Notify me when new comments
are added- checkbox and from now on each time a comment is added
I receive four emails with the same comment.
Perhaps there is a way you are able to remove me from that
service? Appreciate it!

Komentar oleh online tarot




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: