It’s My Life


Dari Kongres IX Bahasa Indonesia: “Manusia Ajaib” Wartawan yang tak pernah Belajar Menulis
November 13, 2008, 9:00 am
Filed under: Umum

ASI (Air Susu Ibu) yang berkualitas dapat membentuk anak yang berkualitas. Sastra itu ibarat ASI. Kalau bangsa kita tidak pernah menyerap “ASI” yang berkualitas, yaitu sastra yang baik, maka dapat dipastikan anak-anak bangsa ini juga tumbuh dengan kualitas yang tidak memadai. Sastra yang baik, mencerdaskan bangsa.

Pandangan itu terungkap dalam panel yang dihelat pada Kongres IX Bahasa Indonesia dengan topik “Peran Media Massa Dalam Membentuk Insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif” di Hotel Bumi Karsa, Jakarta Selatan. Willy Pramudya, salah seorang pemakalah mengatakan, berita yang termuat di media cetak adalah salah satu bentuk sastra. “Kalau kemampuan berbahasa kita tidak dibangun dalam atmosfer yang penuh ‘ASI’, kita tak perlu terlalu banyak berharap atas kemajuan bangsa ini,” ujarnya.

TD Asmadi, Ketua Umum Forum Bahasa Media Massa, yang membawakan makalah “Merintis Bahasa Indonesia Jurnalistik Baku untuk Mencerdaskan Bangsa” menyampaikan, ada wartawan ibarat manusia ajaib. “Ada wartawan yang tidak pernah belajar menulis, tiba-tiba menulis berita dan itu menjadi santapan masyarakat sehari-hari,” ujarnya. Sejak era kebebasan pers, banyak media massa yang terbit. Ironisnya, menjadi wartawan pun seperti sangat mudah. Ada organisasi wartawan yang dengan mudah membuatkan kartu pers. Mereka juga tidak mendapat keterampilan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Alhasil, tak sedikit kasus penggunaan bahasa Indonesia atau penulisan berita secara serampangan. Berita terlalu panjang atau terlalu singkat tanpa menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebuah harian di Sumatera Utara pernah memuat berita satu paragraf lebih dari 150 kata. “Bahasa media massa menjadi pedoman berbahasa oleh masyarakat,” katanya. Sifat eksklusif media yang ingin mendapat berita eksklusif berimbas pada penggunaan bahasa.

Pergulatan yang tinggi dengan bahasa Indonesia menyebabkan para wartawan harus terus berusaha agar bahasa mereka tetap mengikuti perkembangan zaman, di samping tetap juga bisa dipahami pembaca atau pendengar. Kecenderungan penggunaan bahasa asing oleh para tokoh baik yang ada di pemerintahan maupun nonpemerintahan juga menyulitkan wartawan. Apalagi jika kecenderungan itu juga ‘melanda’ pimpinan media massa. Sayangnya, banyak tokoh bicara ‘asal asing’ tanpa memahami benar-tidaknya kosakata yang disampaikan ke wartawan. Wartawan yang pemahaman bahasanya kurang, ditambah redaktur dengan kapasitas yang sama, menjadikan media massa sekadar ‘menyambungkan’ atau ‘meneruskan’ pernyataan seseorang tanpa memahami arti sebenarnya.

Prasetyo Sudrajat, Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, yang membawakan makalah “Membangun Bahasa Media Televisi yang Santun Melalui Gerakan Nasional Berbahasa Indonesia yang Baik” mengatakan, perubahan bahasa berlangsung secara perlahan tetapi tidak mengubah perilaku masyarakat secara drastis. Penggunaan bahasa prokem, bahasa gaul dsb. bisa membuat bahasa Indonesia terdegradasi. “Alasannya sederhana, bangsa Indonesia ini bangsa peniru. Bahasa gaul yang tidak jelas asal-muasalnya menjadi tren setelah muncul di televisi. Ini tentu memrihatinkan,” ujarnya.

Dengan begitu besarnya sifat imitasi pada masyarakat kita, maka kehadiran televisi dengan segala kelebihan yang dimilikinya yaitu audio visual yang atraktif membuat efek media dari televisi sangat besar memengaruhi efek kognitif dan efek afektif dari pemirsanya. Efek kognitif yakni pengetahuan dari seseorang (narasumber atau tokoh di televisi) dapat memengaruhi sikap pemirsanya. Selain itu, efek kognitif dari media televisi juga berpengaruh pada nilai-nilai yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, efek kognitif yang berasal dari media televisi dapat mengubah nilai yang saat ini eksis dan telah terpelihara di masyarakat.

Contoh terbaik penggunaan bahasa Indonesia yang baik tetapi dapat mengena di hati masyarakat adalah film “Laskar Pelangi” garapan sutradara Riri Reza. Jutaan penonton membanjiri bioskop untuk menyaksikan film yang mengangkat nilai-nilai luhur bangsa, dari mulai bahasa Indonesia yang baik dan menjunjung tinggi adat istiadat daerah setempat yang disebut kearifan lokal. “Bahasa film Laskar Pelangi lebih bagus daripada bahasa sinetron. Sekarang, sinetron lebih banyak menggunakan bahasa sarkastis. Ini soal kemauan,” ujar konsultan komunikasi dan media di berbagai perusahaan tersebut.

Kongres Internasional

Kongres IX Bahasa Indonesia yang bertaraf internasional yang diadakan Pusat Bahasa, 28 Oktober – 1 November 2008 ini merupakan puncak seluruh kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju era global, bahasa asing mulai memasuki ranah-ranah penggunaan bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan bahasa daerah tertentu telah meluas di seluruh Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. Di sisi lain, beberapa bahasa daerah mulai ditinggalkan kalangan muda.

Kongres yang diikuti 1.276 peserta dari seluruh provinsi di Indonesia dan beberapa negara seperti Australia, Belanda, Jepang, Malaysia, dan Singapura, ini membahas lima hal utama, yakni (1) bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan penggunaan bahasa asing, (2) sastra Indonesia dan sastra daerah, (3) pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, daerah, dan asing, (4) pengajaran bahasa Indonesia bagi orang asing, dan (5) penggunaan bahasa Indonesia di media massa.

Kongres bahasa ini menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, para pakar bahasa yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia. Tema Kongres IX Bahasa Indonesia, “Bahasa Indonesia Membentuk Insan Indonesia Cerdas Kompetitif di Atas Fondasi Peradaban Bangsa”. Kongres ini merupakan kegiatan lima tahunan. Kongres I Bahasa Indonesia diadakan di Solo, 25-27 Juni 1938; Kongres II di Medan, 28 Oktober-2 November 1954; Kongres III di Jakarta, 28 Oktober-3 November 1978; Kongres IV di Jakarta, 21-26 November 1983; Kongres V di Jakarta 28 Oktober -3 November 1988; Kongres VI di Jakarta, 28 Oktober-2 November 1993; Kongres VII di Jakarta, 26-30 Oktober 1998; Kongres VIII di Jakarta, 14-17 Oktober 2003.

Dalam kegiatan ini, Pusat Bahasa juga memberikan penghargaan kepada para pemenang Tahun Bahasa/Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2008 yaitu, (1) Adibahasa. kategori A: Provinsi Jawa Timur; kategori B: Provinsi Sumatera Barat; kategori C: Provinsi Sulawesi Tenggara, (2) Peringkat Media Massa Cetak Berbahasa Indonesia Terbaik Koran Tempo, Kompas, Sinar Harapan, (3) Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik Prof. Dr. M. Din Samsudin, Prof. Dr. Marie Elka Pangestu, Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, S.S.,M.A., Anas Urbaningrum, Maudi Kusnaedy, (4) Duta Bahasa. Pemenang I: Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, II : Provinsi Sumatra Barat, III: Provinsi Jawa Barat, (5) Penghargaan Sastra Pusat Bahasa: Hamsad Rangkuti dengan karya Kumpulan Cerpen Bibir dalam Pispot, Ahmadun Yosi Herfanda dengan karya Kumpulan Puisi Ciuman Pertama untuk Tuhan, Arthur S. Nalan dengan karya Drama  Sobrat, (6) Penghargaan Tokoh Pengajaran Bahasa Indonesia di Luar Negeri: Prof. Dr. Ulrich Kratz, Pengajar Bahasa Indonesia di SOAS, London, (7) Penghargaan Tokoh Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah: Dra. H. Suryatati A. Maman, Wali Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Panitia juga menyerahkan penghargaan kepada pemenang lomba
Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional, Penulisan Proposal Penelitian Bahasa dan Sastra untuk Mahasiswa (Tingkat Nasional), Sayembara Penulisan Cerpen Remaja Tingkat Nasional, Sayembara Penulisan Esai Pengajaran Bahasa/Sastra untuk Guru SD (Tk. Nasional), Sayembara Penulisan Puisi bagi Siswa SD , Lomba Kaligrafi Bahasa Indonesia, Lomba Pembuatan Poster, Debat Bahasa Antarmahasiswa, dan Penulisan Cerita Rakyat .

Luh Ayu Cinta Hertiyanti dari SMAN 1 Banjar Banyuatis, Bali, keluar sebagai pemenang I Sayembara Penulisan Cerpen Remaja dengan karya berjudul Misteri Daun Cengkeh. Siswa SMAN 1 Denpasar keluar sebagai pemenang V dalam Festival Musikalisasi Puisi. Georgina Audrey Imanuella Saptono Putri, SD Santo Yoseph 2 Denpasar keluar sebagai pemenang III Sayembara Penulisan Puisi bagi Siswa SD dengan puisi berjudul Istanaku. – rat

Media muat: Koran Tokoh, 9 November 2008


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bener buanget tuh Mbak.. bahkan sayapun masih harus terus belajar menggunaken bahasa Indonesa yang baik dan benar. Semangkin dipelajari ternyata bahasa Indonesia itu semangkin dalam. Butuh banyak pembelajaran dalam penggunaan kosakata baku bahasa Indonesa ya? harus mulai dari sekarang nih, kalau tidak kapan lagi? apalagi digenerasi Lu Gua dan Toko K seperti sekarang ini.. wahhh.. mulai ngelindur…. hehehehe ^_^

Komentar oleh rusakparah

hehehe dari generasi semangkin jadi generasi lu-gua🙂

Komentar oleh Ratna

Setuju,mari kita tingkatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar…!!!!!!!??????
Mudah-mudahan suatu saat nanti bahaasa Indonesia bisa menjadi bahasa Internasional…!!!!????
AMIIIIIIN

Komentar oleh Ahmad




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: