It’s My Life


Kemiskinan Jadi Sahabat, Warga Harus Diajari Memecahkan Masalah
Desember 7, 2008, 8:23 am
Filed under: Umum | Tag:

HIDUP dan bertempat tinggal di lingkungan yang terisolasi bukan pilihan hidup yang menyenangkan. Kondisi seperti itulah yang dialami warga Banjar Bunut dan Banjar Madia, Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kedua banjar tersebut masuk dalam daftar 1.289 lokasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) dari 165 kabupaten, 26 provinsi di Indonesia.

Akses menuju kedua desa itu sangat terbatas. Kedua banjar tersebut bisa didatangi dengan menyeberangi Danau Batur atau melalui jalan darat lewat Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Banjar Madia terletak di puncak Gunung Abang. Jalanan terjal dan mendaki menjadi jalur yang wajib dilewati. Meski KAT sudah ditetapkan melalui Keppres. No.111/1999 dan Kepmensos. No.06/PEGHUK/2002, program pemberdayaan KAT belum dijalankan secara optimal oleh pemerintah daerah. Kemiskinan seolah menjadi sahabat bagi kehidupan kedua warga di banjar tersebut.

Ni Wayan Mejiki (28), warga Banjar Madia mengatakan, tak ada fasilitas umum apa pun di lingkungannya. Sekolah dasar yang ada terletak di Banjar Bunut, lebih kurang 4 km dari Banjar Madia dan di Terunyan, di kaki gunung. Anak-anak harus melintasi gunung dan menyeberangi sungai untuk mecapai sekolah tersebut. “Kalau musim hujan, kami tak mengizinkan anak bersekolah karena air sungai kerap meluap,” ujar ibu tiga anak itu.

Jika anak-anak bisa bersekolah saja, rasanya mereka sudah bersyukur. Rata-rata, pada usia 14-15 tahun, anak-anak itu sudah menikah. Tingkat perekonomian yang rendah membuat orangtua tak bisa berbuat lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan atau kesehatan anak-anak. Pihak sekolah pun tak ingin menambah beban orangtua siswa mereka. Tak ada kewajiban menggunakan sepatu atau seragam yang sesuai. Seperti yang digunakan Rahayu, siswi kelas 2 SD Negeri 3 Desa Terunyan. Saat ditemui, Rahayu memakai sandal jepit. Seragam putihnya yang beremblem Taman Kanak-kanak berubah warna kecoklatan. Tubuhnya kurus. Rambutnya kumal. Tas sekolahnya bertuliskan I’m An Angel, sumbangan dari komunitas I’m An Angel – Ku De Ta, Kuta. Pemandangan serupa tampak pada teman-teman sekolahnya. Ingus kental berwarna kuning mengalir dari kedua lubang hidung beberapa anak tersebut. Sebagian lagi membiarkan ingus itu tersedot mulut mereka. Anak-anak itu kekurangan gizi. Kalau orangtua mereka memiliki ayam bertelur, mereka memilih menjual telur itu daripada dikonsumsi sendiri.

Pekerjaan warga Banjar Madia kebanyakan berkebun. Mereka menanam bawang. Walau berada di puncak gunung, mereka kekurangan air. Karena kering, musim tanam bisa hanya sekali dalam setahun. Makanan sehari-hari, seadanya. Yang pasti, singkong rebus yang dicacah kerap menjadi menu utama. Pasar tradisional terdekat, di Tianyar yang letaknya lebih kurang 60 km. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, perlu waktu berjam-jam. “Paling cepat, saya ke pasar sebulan sekali, itu pun jika ada yang bisa dijual,” kata Mejiki.

Ketergantungan warga terhadap sumber daya alam sangat tinggi. Jangankan pelaksanaan program konversi pemakaian minyak tanah menjadi elpiji, kompor minyak tanah pun tak bisa ditemui. Mereka menggunakan kayu bakar untuk memasak. Pohon-pohon di sekitar gunung menjadi sasaran mereka. Alhasil, gunung gundul.

Sarana dan prasarana kesehatan bagi masyarakat pun samasekali tak ada di kedua banjar tersebut. Selain anak-anak, ibu-ibu pun kekurangan gizi. Jika ada ibu hamil, mereka menjalani masa kehamilan begitu saja. Secara alami, sang suami menyiapkan bambu yang diruncingkan yang akan digunakan dalam proses persalinan. Kalau ada gunting, mereka tak lagi memerlukan bambu untuk memutus jalinan ari-ari antara ibu dan bayi yang dilahirkan. Seperti yang dialami Nang Putu Dana, warga Banjar Bunut. Suaminya menjadi “bidan” dalam proses kelahiran putra ketiganya di gubuk mereka. “Saya punya gunting, jadi ari-ari dipotong pakai gunting itu,” tuturnya. Selain bambu yang diruncingkan atau gunting, mereka juga menyiapkan air. Di Terunyan, kalau tak ada air saat melahirkan, mereka menggunakan air kelapa dan kunyit. Satu batok air kelapa dipakai untuk membersihkan bayi dan puting susu ibu.

Tampung Air Hujan

Pada tahun 2005-2006, pemerintah daerah memasang pipa-pipa air sepanjang 5 km di Banjar Bunut dan pembuatan cubang (bak penampung air) di Banjar Madia karena di banjar tersebut tak ada sumber mata air. Air hujan yang ditampung dalam cubang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan air. Jika musim kemarau berlarut-larut, tak ayal, mereka makin kesulitan mendapatkan air. Walau ada program pemasangan pipa air di Banjar Bunut, warga banjar tersebut masih kekurangan air.

“Pertama kali kami datangi, kami berbincang dengan warga. Mereka memunyai cubang tapi tak ada air. Keinginan warga Banjar Madia, daerah mereka dipasangi pipa air,” papar Asana Viebeke Lengkong, pendiri Yayasan Pratista Parisara Karana dan koordinator program I’m An Angel. Yayasan itu pun siap membantu. Sayang, setelah dilakukan evaluasi, program pemipaan tak bisa dilaksanakan. “Di sana tak ada listrik. Semua teknologi pemipaan air memerlukan listrik,” ujar Asana. Mereka pun memutuskan bersurat kepada pengelola PLN dan pemerintah daerah. Sampai sekarang, baru ada tiang listrik yang dipancangkan di Terunyan, belum sampai di Madia.

Uang sumbangan yang telanjur terkumpul akhirnya dialihkan untuk melaksanakan program kesehatan. Mereka lapar, kekurangan makanan. Banyak di antara warga yang kekurangan gizi atau menderita penyakit kulit. Anak-anak buang air sembarangan. “Pernah, ada anak buang air besar di celana. Celananya hanya dibilas air lalu dijemur di tembok. Setelah itu, ibunya melanjutkan memasak tanpa mencuci tangan lebih dulu,” kisahnya. Akhirnya, Asana memberikan diri berbicara kepada warga. Ia mengusulkan agar warga memasukkan program kebersihan dan kesehatan dalam awig-awig atau perarem. “Mereka setuju, asal diberi pendampingan karena mereka tak mengerti,” susulnya.

Bermukim di wilayah yang terpencil secara geografis dan sosial-budaya, membuat mereka merasa dikucilkan, tak diperhatikan, dan merasa sendiri. “Pemberdayaan masyarakat, itu yang diperlukan agar mereka maju,” ujar Asana yang bergelut selama 20 tahun dalam kegiatan sosial ini. “Kalau orangtua berdaya, mereka akan memunyai waktu memikirkan anak. Jika tidak, mereka akan mengajak anak-anak bekerja daripada bersekolah,” imbuhnya.

Karena itu, Asana mengembangkan pembangunan berbasis komunitas. “Kami tidak memberi mereka uang. Jika diberi uang, langsung habis karena mereka tidak paham kebutuhan sesungguhnya. Orang berpikir, agar terlihat bagus, seseorang harus memiliki televisi, radio, atau sepeda motor. Kami menggali kebutuhan mereka dan menyediakannya,” papar Asana.

Janji pemerintah selama tiga tahun untuk membuatkan jalan akhirnya terpenuhi tahun ini. Proyeknya, pengaspalan jalan sepanjang 1 km, yang kemudian hanya terealisasi sepanjang 800 m. Itu pun, dengan catatan, badan jalan disiapkan secara swadaya oleh masyarakat.

“Ketika program itu mau dijalankan, warga kedua banjar tidak akur. Warga Bunut terkesan cemburu karena warga Banjar Madia mendapat bantuan. Saya hanya bilang, kalau mau maju, ayo bergerak. Kalau tidak, terserah, masih banyak daerah lain yang memerlukan bantuan,” katanya tegas. Alhasil, warga yang bertikai itu pun akur. Tetapi, mereka kembali bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Warga harus diajarkan memecahkan masalah mereka. Saya bilang, orang muda mencari batu, yang tua membersihkan jalan. Mereka akhirnya bekerja sama memecah gunung, membuat badan jalan dengan cangkul dan peralatan sederhana lain,” kata Asana. Kedua banjar yang dipisahkan oleh sungai lebar, kini disatukan sebuah jembatan. Meski masih dalam tahap proses pengerjaan, badan jalan itu sudah memberi manfaat warga kedua banjar. “Saya tidak terlalu khawatir lagi kalau anak saya bersekolah. Jalanan sudah lebih baik,” kata Mejiki. “Pembuatan jalan itu merupakan langkah awal untuk membuka akses di bidang pendidikan, kesehatan, atau ekonomi,” tambah Asana.

Kini, warga dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan pembuatan jalan dengan aspal atau beton. “Ini jalan lingkungan. Berbeda dengan jalan provinsi atau kota, pemerintah pasti tidak akan terlalu memperhatikan kelanjutannya. Aspal mudah rusak jika tergerus air hujan. Karena itu, sebaiknya aspal diganti beton yang lebih awet. Warga juga diajak melakukan reboisasi agar gunung tak gundul sehingga rawan longsor.

Menurut perempuan yang mengenyam pendidikan di Pitman College, London ini, pembangunan berbasis komunitas adalah sesuatu yang penting karena komunitas itu yang berbicara, merasakan, dan menyatakan yang dialami mereka. “Yang bisa mengatakan miskin, ya hanya orang miskin. Berbicara dengan mereka memang melelahkan. Mereka susah mengerti. Tetapi, begitu mengerti, mereka akan bergerak,” katanya serius. – rat

Media muat: Koran Tokoh Edisi 517, Minggu 7/12


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: