It’s My Life


Media, Perempuan, dan Anak
Desember 11, 2008, 6:46 pm
Filed under: Gender, Pendidikan

Dalam sebuah diskusi kelompok media pada acara Temu Nasional Aktivis Perempuan Indonesia di Jakarta, Agustus 2006, ada catatan penting tentang representasi perempuan di media massa, yaitu media dinilai telah melanggengkan nilai-nilai bias gender dalam masyarakat. Isu perempuan dan anak jarang menjadi prioritas pemberitaan media massa. Pemberitaan tentang perempuan dan anak kerap dihubungkan dengan kegiatan seremonial seperti peringatan Hari Anak Nasional atau Hari Kartini.

Kebijakan redaksi merupakan dasar pertimbangan suatu lembaga media massa untuk memberitakan atau menyiarkan suatu berita.[1] Berita bukan cermin dari suatu realitas. Berita adalah hasil konstruksi wartawan dan media.[2] Media yang berbeda bisa menghasilkan gambaran beragam tentang perempuan dan anak.

Potret Perempuan dan Anak Dalam Media Massa

1. Penggunaan Bahasa

a. Media massa memiliki kecenderungan menggunakan kata-kata sensasional dan terkesan sadis. Pilihan kata sensasional itu dianggap menarik, terutama dalam penulisan judul. Dalam praktik jurnalisme, membuat judul yang menarik memang mutlak. Padahal di sisi lain, kata-kata yang sensasional itu menimbulkan efek kekerasan mendalam.

Contoh, ”Suami Hajar Istri Dengan Pipa Besi”[3], “Suami Bunuh Istri”[4], “Terlambat Pulang, Istri Dipukul Besi”[5]

b. Media massa memiliki kecenderungan menggunakan kata-kata atau kalimat yang mendudukkan anak/perempuan korban perkosaan sebagai objek.

Contoh, “Pekak Gauli Gadis Cilik”[6], “Balita Dicabuli Buruh”[7], “Buruh Bangunan Cabuli Bocah Empat Tahun”[8], “Penjual Sosis Setubuhi Bocah 8 Tahun”[9].

Penggunaan kata-kata ‘dicabuli’, ‘disetubuhi’, ‘digarap’, ‘digagahi’, ‘dijos’ justru memberi pembenaran pada kasus perkosaan. Kata-kata itu telah mereduksi makna sesungguhnya: memperkosa.

c. Media massa memiliki kecenderungan mendeskripsikan detail peristiwa yang dialami/dilakukan anak/perempuan, khususnya dalam peristiwa perkosaan/kekerasan.

Contoh,

“Penjual Sosis Setubuhi Bocah 8 Tahun”[10]

Batununggul. Kasus pedofilia atau pencabulan anak dibawah umur tak hanya dilakukan turis Australia di Buleleng. Seorang penjual Daging sosis asal Desa Patuk, Kecamatan Wacak, Malang, Jawa Timur nekat mencabuli seorang bocah umur 8 tahun. Bocah malang ini dicabuli di tempat sepi, di sebuah kebun, di belakang Pura Dalem Desa Batununggul, Nusa Penida.

Aksi cabul ini diawali saat tersangka Subiantoro (25) berjualan sosis di sekitar lapangan Sampalan, Batununggul. Saat itu korban bernama DM (8) kemudian datang meminta sosis kepada tersangka namun tidak dikabulkan.

Subiantoro akhirnya mau memberi 2 buah sosis dengan syarat DM bersedia dicium. Setelah keadaaan dirasa cukup aman, DM kemudian melancarkan aksi bejatnya. Tersangka kemudian memberi korban dua buah sosis sambil membawanya ke tempat sepi.

Belum sempat menikmati sosis, pakaian bocah DM akhirnya dipreteli tersangka. Di tempat sepi itu DM dicium dan disetubuhi tersangka dengan posisi menungging.

Beristri Dua, Gauli Putri Kandung”[11]

Melati menuturkan, perbuatan itu dilakukan ayahnya saat kondisi rumah sepi. “Saya takut berteriak karena bapak mengancam akan membunuh. Bila saya beri tahukan kepada nenek, saya akan dibunuh juga. Maka saya diam saja,” ucapnya dengan mimik muka yang sedih.

Agar Melati tidak hamil, Arson selalu memberikan pil KB kepadanya. Arson menjelaskan kali pertama menyetubuhi anaknya saat minta dipijit. Entah setan apa yang menggerogoti kepala tersangka sehingga dia tega menggauli anak kandungnya tersebut. “Saya khilaf, Pak,” ujarnya.

“Bayi 6 Bulan Dianiaya Anak 11 Tahun Hingga Tewas”[12]

Korban bernama Jalil, 6 bulan meninggal dunia akibat dipukuli anak tetangganya, Adil. Kejadian itu bermula saat Neneng, ibu korban, menitipkan Jalil kepada Adil karena ingin berbelanja di warung. Namun sepeninggal ibunya, bayi itu menangis tanpa henti. Adil pun panik dan memukul Jalil berulang kali hingga korban terdiam. Sekembalinya dari warung, alangkah terkejutnya Neneng melibat bayinya biru-biru akibat bekas pukulan di sekujur tubuhnya. Setelah sempat dirawat di RS M. Jamil Padang selama 3 hari, bayi malang itu akhirnya meningal dunia.

Kecenderungan memberitakan secara detail sebuah peristiwa dapat memberi dampak negatif bagi anak-anak, perempuan, dan pembaca/pemirsa/pendengar. Dalam kasus perkosaan, deskripsi peristiwa yang terlalu mendetail dapat mengembalikan trauma bagi anak dan perempuan. Berita itu pun berpotensi menjadi bentuk eksploitasi terhadap anak dan perempuan.

Pada kasus korban perkosaan, liputan yang mendetail sama halnya sebuah perkosaan baru oleh wartawan.

d. Media massa memiliki kecenderungan mengganti nama korban perkosaan dengan nama ”bunga” atau nama-nama bunga seperti mawar, melati, dsb.

Contoh,

“Bocah SD Diperkosa Kakek”[13]

Banyuwangi. Aksi pemerkosaan dengan korban anak di bawah umur, terjadi di Dusun Sidomulyo, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Korbannya dialami Bunga (nama samaran), 12. Bocah itu mengaku diperkosa oleh Suparno, 60, kerabatnya sendiri.

Dengan diantar salah satu tantenya, korban yang masih duduk di kelas VI salah satu SDN yang ada di desanya ini, mendatangi polsek setempat untuk melaporkan perbuatan bejat sang kakek tersebut kemarin. “Saya empat kali diajak main gituan,” cetus Bunga pada polisi.

Beristri Dua, Gauli Putri Kandung”[14]

Musi Rawas. Lelaki asal Durian Remuk, Muara Beliti, Musi Rawas, ini benar-benar keterlaluan. Sudah beristri dua, Arson, lelaki berusia 33 tahun itu masih tega menggauli putri kandungnya. Bejatnya lagi, perbuatan itu dilakukan saat sang putri masih duduk di kelas IV SD sampai kelas I SMP.

Atas perbuatannya itu, Arson ditangkap polisi kemarin. Perbuatan itu kali pertama dipergoki ibunda Melati -nama samaran korban. Sabtu dini hari, dia melihat sang suami keluar dari kamar Melati sekitar pukul 01.00.

Semula Arson bungkam. Tapi, dia tidak bisa mengelak ketika paginya sang istri memeriksakan Melati ke puskesmas. Melati pun baru bersedia menceritakan perbuatan laknat sang bapak setelah dirayu dengan berbagai cara.

Penggunaan kata ganti ‘bunga’, ‘mawar’, ‘melati’, dsb. yang sejenis untuk inisial anak khususnya untuk anak yang menjadi korban perkosaan, mempersepsikan asosiasi kepantasan karena bunga memang harus ‘dipetik’ dalam arti diperkosa. Istilah ini merugikan anak dan perempuan.

e. Media massa melanggengkan istilah yang merugikan anak dan perempuan. Contoh, penggunaan istilah ‘perek’ untuk sebutan anak-anak yang menjadi pekerja seks atau sebutan wanita tuna susila. Di Semarang, ada sebutan ‘ciblek’ untuk anak pekerja seks. Istilah ‘perek’, ‘ciblek’, ‘wanita tuna susila’ merugikan perempuan dan anak karena istilah tersebut berkonotasi negatif. Anak dan perempuan tidak mendapat perlindungan tetapi diperlakukan secara negatif oleh masyarakat.

Sebaiknya gunakan istilah Anak-anak yang Dilacurkan untuk anak-anak yang menjadipekerja seks komersial. Istilah ini lebih berorientasi pada upaya perlindungan dan menempatkan anak-anak yang menjadi pekerja seks sebagai korban yang perlu dilindungi. Istilah ini secara sosiologis juga lebih melihat bahwa pelacuran bukan datang atas satu kehendak namun lebih merupakan proses pemaksaan secara social, seperti kemiskinan, budaya patriaki, dsb. Proses-proses inilah yang memaksa anak-anak, perempuan, untuk menjadi pekerja seks.

Istilah lain, Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan Pekerja Rumah Tangga Anak (PRTA). Istilah ini perlu disosialisasikan. Penggunaan kata ‘pekerja’ hendaknya lebih diprioritaskan daripada penggunaan kata ‘pembantu’. Meskipun bekerja dalam rumah tangga, mereka perlu mendapat perlakuan yang sama dengan pekerjaan lain. Penggunaan kata ‘pembantu’ seolah menempatkan pekerjaan mereka sebagai pekerjaan “membantu” dan berkonotasi “rendah”. Penggunaan kata ‘anak’ pada PRTA untuk membedakan mereka dengan pekerja rumah tangga dewasa.

2. Perempuan dan Anak Diposisikan sebagai Penyebab Munculnya Tindak Kekerasan

“Busana Seksi Remaja Memancing Berahi”[15]

Kasus pelecehan seksual di Bali disinyalir lumayan mencemaskan kalangan orangtua maupun komunitas peduli anak. Sementara orangtua menganggap busana seksi remaja ikut menyumbang terjadinya tindakan pelecehan seksual.

Seorang remaja tanggung mengendarai sepeda motor. Kaus oblong ketat melekat di tubuhnya. Celana pendek sebatas paha menggoda lirikan pengguna jalan lainnya. “Penampilan remaja dengan busana seperti itu memang sedang in. Tetapi, itu juga bisa mengundang aksi pelecehan seksual lho,” ujar Maria Sri Muktiarti (43), ibu tiga anak yang bekerja di lingkungan farmasi di Denpasar ini.

Berita yang dimuat Koran Tokoh ini menegaskan, cara berpakaian seseorang khususnya perempuan, yang menjadi penyebab munculnya tindak kejahatan pelecehan seksual.

“Rio Tersinggung, Ningsih Dibunuh”[16]

Liputan6.com, Serang: Kerap diejek karena dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis sang kekasih, seorang pria di Serang, Banten, tega menghabisi Ningsih. Saat ditemukan di sebuah kamar kosong, belum lama ini, polisi berkesimpulan bahwa korban tewas karena dibekap. Tersangka Rio yang diringkus di sekitar lokasi mengakui perbuatannya. Dia mengaku tersinggung, kesal, dan emosi usai melakukan hubungan intim.

“Tolak Pulang Kampung, Istri Dibunuh”[17]

Liputan6.com, Tapanuli Tengah: Seorang pria suami di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, belum lama ini, tega menghabisi istrinya sendiri. Yusuf alias Buyung kalap karena karena sang istri menolak ajakan pulang kampung.

Jenazah ibu dua anak itu ditemukan warga Desa Rawa Gejer, Sibabangun, dalam kondisi mengenaskan. Selain terluka, tangan, dan kaki Rianti Manik diikat.

Tersangka yang sempat mengancam warga dengan sebuah parang panjang akhirnya diringkus warga dan polisi. Kini Yusuf harus mendekam di sel tahanan polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Judul berita ”Tolak Pulang Kampung, Istri Dibunuh” menunjukkan kalimat pasif yang lebih menonjolkan objek atau peristiwa. Menurut Eriyanto (2005), efek dari kalimat pasif adalah bisa menyembunyikan kehadiran pelaku karena tidak memerlukan subjek. Dalam berita mengenai kekerasan, tata kalimat ini sangat merugikan korban.[18] Dalam tata kalimat pasif, perempuan korban kekerasan diperlakukan tidak adil karena dia yang sesungguhnya adalah korban malah menjadi pelaku.

“Bapak dan Anak Memperkosa Secara Bergiliran Gadis Tetangga yang Menumpang Nonton TV karena tidak Tahan Melihat Kemolekan Tubuh Korban”[19]

Bapak dan anak dituduh memperkosa gadis di Kampung Cempaka, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, ditangkap polisi, Jumat.

Tersangka AW,46, dan anaknya JM,24, dijebloskan ke sel Polsek Padalarang. Korban DPS,13, gadis di bawah umur, diakui keluarganya sudah dua bulan telat datang bulan.

Aksi dugaan perkosaan yang dilkakukan bapak dan anak terjadi pada 27 Juni lalu. Di hadapan penyidik, kedua tersangka mengakui melakukan perbuatan bejat tersebut.

“Kami tergiur melihat tubuh korban. Apalagi korban setiap malam numpang nonton TV di rumah hanya dengan daster tipis menerawang dan kadang tidak memakai bra,” kata tersangka kepada polisi.

Tersangka AW mempaparkan, ia mencabuli dan memperkosa korban pada Jumat malam, dua bulan lalu. Saat itu, korban yang sedang nonton televisi di rumahnya. Menurut AW korban pada saat itu tidak melawan bahkan keesokan harinya masih tetap menumpang nonton TV.

Hal sama diakui tersangka JM, anak kandung tersangka AW. Saat diperiksa di Mapolsek Padalarang, pria yang sudah beristri ini, mengaku tergiur melihat kemontokan tubuh korban.

Fakta tentang adanya kasus perkosaan tidak bisa dibantah. Tetapi, berpakaian daster tipis menerawang dan terangsang adalah dua hal yang tidak selamanya bisa dijadikan hubungan sebab akibat untuk kasus perkosaan. Orang berpakaian lengkap pun banyak yang menjadi korban perkosaan.

3. Perempuan Subordinat Laki-laki, Anak-anak Subordinat Orangtua

Media pun dapat melanggengkan pandangan masyarakat terhadap perempuan, yakni perempuan adalah subordinat laki-laki. Sebagai subordinat laki-laki, perempuan digambarkan sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya. Sebaliknya, kepentingan laki-laki lebih dikedepankan. Persepsi ini tentu merugikan perempuan karena pada dasarnya, dua penyebab utama kekerasan dalam rumah tangga adalah budaya patriarkis yang mendudukkan laki-laki sebagai mahluk yang dianggap superior dan perempuan sebagai mahluk inferior serta pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama sehingga menganggap bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan.[20]

Pemahaman bahwa perempuan adalah properti dan hak milik laki-laki makin memperlemah posisi perempuan. Dengan anggapan seperti itu, perempuan bebas diperlakukan apa saja termasuk mendapat tindak kekerasan oleh laki-laki seperti contoh berita berikut.

“Suami Hajar Istri Dengan Pipa Besi”[21]


Bebetin. Mencurigai istrinya “mamitra” atau berselingkuh lantaran terlambat pulang ke rumah, seorang suami di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, nekat main hajar dengan menggunakan sebatang pipa besi.

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT yang menimpa Luh Sari Ningsih (24), dilakukan suaminya Nyoman Suarjana alias Caplin (32).

Aksi premanisme dalam rumah tangga ini membuat terkejut sejumlah tetangga, sebab tindakan pelaku mengakibatkan korban mengalami luka parah pada bagian kepala dan tangan akibat pukulan pipa besi bertubi-tubi.

“Kemarahan suami korban disebabkan korban terlambat pulang ke rumah dari berbelanja ke pasar hingga kemudian berlanjut dengan aksi pemukulan dengan sebatang pipa besi yang telah dipersiapkan pelaku,” ungkap Perwira Humas Polres Buleleng Kompol I Made Sudirsa.

“Bangunkan Suami, Malah Dihajar Keluarga Suami”[22]

Gianyar, Malang benar nasib Ida Ayu Tirtawati. Gara – gara membangunkan suaminya, ibu beranak satu ini dikeroyok oleh keluarga suami. Bukan hanya keluarga, sang suami pun ikut melayangkan bogem mentah ke muka wanita berumur 36 tahun ini. Kok Bisa?

Selasa pagi merupakan hari apes buat Dayu Tirtawati. Lantaran sang anak semata wayangnya, Ida Ayu Dinda (9 bulan) sakit, dirinya membangunkan suaminya, Ida Bagus Nyana (37) asal Banjar Griya, Tampaksiring, Gianyar.

Ia membangunkan sang suami untuk mengantarkan sang anak berobat. Tapi apa yang didapat? Si suami bukannya langsung mengajak anak ke dokter, tapi malah memberinya hadiah bogem mentah.

Tak berhenti sampai disini keluarga lainnya seperti Desak Kolam (30), Ida Ayu Badung (38), Ida Bagus Geledeg (35), ikutan mengeroyok wanita yang merupakan istri kedua dari Gus Nyana. Akibat dikeroyok, Dayu Tirtawati mengalami pembengkakan pada pipi kanan dan kiri.

Ibu Muda Tega Bunuh Anaknya”[23]

Liputan6.com, Tangerang. Malang nian nasib Raihan. Bocah berumur setahun itu harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Tangerang, Banten, Selasa (18/11). Namun, ternyata ia sudah tak bernyata. Ironisnya, Raihan tewas di tangan Neni, ibu kandungnya. Neni diduga mencekoki Raihan dengan racun serangga.


4. Pencitraan Negatif Perempuan dan Anak

Pada media yang tidak sensitif gender, secara disadari atau tidak, media tersebut memberi sumbangan terhadap pelestarian nilai ketidakadilan gender, salah satunya stereotipe atau pencitraan negatif terhadap perempuan seperti berita berikut.

”Mengaku Dianiaya Ibu Tiri, Gadis Cilik Telantar di Pantai Buleleng”[24]

Singaraja (Bali Post) –

Seorang gadis cilik yang mengaku bernama Wayan Arni (10) dari Desa Sandar Kecamatan Pupuan, Pupuan, Tabanan ditemukan telantai di pantai di sekitar Perumahan Satelit Asri Singaraja, Kamis (4/12) sore kemarin. Gadis itu mengaku lari dari rumah karena dianiaya oleh ibu tirinya.

Berita ini membangun ciri negatif yang melekat pada status ibu tiri. Stigma ini tentu membuat perempuan yang menyandang status ibu tiri mengalami kesulitan dalam beradaptasi dan secara tidak langsung akan dipersepsikan sebagai orang yang berkelakuan negatif.

“Arni Dipulangkan ke Rumah Orangtuanya”[25]

Tabanan, DenPost
Ni Wayan Arni Susanti (12), nama lengkap seorang gadis yang ditemukan di Buleleng, dipulangkan dan tiba di kampung halamannya di Desa Sanda, Pupuan, Tabanan, Jumat (5/12) kemarin.
….

Menurut sumber setempat, gadis tersebut sepertinya mempunyai “hobi” alias kebiasaan suka minggat dari rumahnya. Yang selalu dikatakan Arni karena tidak betah tinggal di rumah jika harus menghadapi ibu tirinya. Bahkan dia pernah minggat ke Jawa Timur.
Kondisi kejiwaannya pun sepertinya masih labil. Begitu juga dengan kalimat-kalimat yang terucap dari mulutnya terkadang ngelantur. Lebih dari setahun yang lalu, Arni pun sempat ditemukan telantar di wilayah Kecamatan Marga, Tabanan. Gadis berkulit legam itu pun sempat mengaku bernama Ni Made Suastini, namun beberapa saat ketika itu ditanya lagi mengaku bernama Ni Putu Suarni.
Sementara dari sang ayah tak ada komentar tentang putrinya itu. (969)

Anak ini kemungkinan sedang dalam masalah. Pemuatan kalimat “gadis tersebut sepertinya mempunyai “hobi” alias kebiasaan suka minggat dari rumahnya” memberi citra buruk pada si anak, yang bisa menambah masalahnya.

“Ketua LSM Mengusili Janda”[26]

Di manapun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) terkenal usil, demen mengkritisi situasi. Tapi di Temanggung (Jateng) Cahyadi, 45, ketua sebuah LSM justru diseret ke Polsek karena “mengusili” seorang janda. Memang tak tertangkap tangan “berbuat” dengan Ny. Tutut, 40, tapi perilaku itu bikin gerah warga.
….

Apa nama LSM-nya, tak begitu jelas. Yang pasti Cahyadi memang buka kantor di rumah janda Yu Tutut tersebut. Asal kemalaman mengurus pekerjaan di situ, dia langsung menginap di rumah Yu Tutut yang masih seksi menggiurkan dalam usia kepala empat itu.Dari cithakan (baca: wajah)-nya saja sangat memukau, karena dia tergolong cukup cantik di kelasnya. Jadi ibarat jago cemani yang tinggi hitam macam Cahyadi, ketemu babon (induk ayam) Kedu, ya dikejar terus! Hampir setiap malam dia berkokok: Kukuluruuuuk, jagone Cindelaras, omahe durung lunas…..!

Selama ini, masyarakat memberi pelabelan negatif pada penyandang status janda. Tak sedikit dari mereka dicap sebagai perebut suami orang, perayu, dsb. Begitu juga halnya dalam pemberitaan kasus aborsi. Saat seorang perempuan mengaborsi bayinya, muncul istilah “ibu biadab”. Tak ada cerita di balik kisah itu: betapa pengecutnya laki-laki yang tidak bertanggung jawab atas bayi yang dikandung si perempuan.

5. Mengutamakan Sensasi daripada Esensi Masalah

Media massa memiliki kecenderungan tidak mempertimbangkan dampak pemberitaan. Media massa terkesan mengutamakan sensasi daripada esensi masalah. Korban perkosaan malah “diperkosa” oleh tindakan wartawan yang mengajukan pertanyaan bertubi-tubi: “Bagaimana rasanya diperkosa?”, “Ceritakan prosesnya”, dsb. yang membuat korban makin tertekan.

Ketika anak-anak menjadi pelaku tindak kejahatan, media pun berpotensi menghakimi pelaku dengan pemberitaan yang mengutamakan sensasi daripada esensi masalah seperti berikut.

“Ketika Siswi SMA Terbelit Kasus
Adegan Syur Direkam Lewat Lubang Kunci”[27]

TAK terima rekaman adegan syurnya tersebar luas di kalangan teman-temannya, Komang Y (15), siswi Kelas I SMA AP Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng, terpaksa melaporkan kasus itu ke polisi. Bukan hanya menyasar penyebar adegan itu, sang pacar, tersangka Putu Eric Yudi Antara (17), siswa kelas III di sekolah yang sama, juga dilaporkan ke polisi.
….

Dari enam yang diperiksa, polisi baru menetapkan dua tersangka yakni Putu Eric Yudi Antara yang dijerat dengan pasal 81 UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Ketut Juniawan yang dijerat pasal 287 dan 282 KUHP tentang penyebaran adegan tak senonoh ke masyarakat.
‘’Kami akan kembangkan lagi kasus ini dan kemungkinan tersangkanya bisa bertambah,’’ tegas AKP Sudirga. (bin)

”Jos Siswo SMA, Siswa SMA Diamankan”[28]

Diakui atau tidak, seks bebas di Karangasem sudah merambah ke anak-anak usia sekolah. Seperti yang dilakukan sejoli Ketut Suk (18) dan Putu Sis (14). Kedua remaja yang masih berstatus pelajar ini tepergok ngejos di sebuah rumah di Dusun Pelasan Tumbu, Desa Tumbu, Karangasem Kota, beberapa hari lalu. Apes bagi Ketut Suk, siswa kelas II salah satu SMA swasta ini akhirnya diamankan ke Mapolres Karangasem karena orangtua Putu Sis tak terima kejadian tersebut.

”Atasi Trek-trekan Libatkan Pecalang”[29]

Negara (Bali Post)-

Maraknya trek-trekan di beberapa titik jalan di wilayah hukum Jembrana selama ini makin meresahkan. Adu kecepatan motor liar ini pun tak jarang dikeluhkan oleh masyarakat. Bahkan, kegiatan negatif yang sering dilakoni anak muda ini telah menelan korban jiwa beberapa kali. Tetapi tidak ada solusi yang tepat untuk menghentikan atau mencegahnya.

Anak-anak kerap dianggap sumber masalah tanpa didengar suaranya. Seharusnya, orangtua, pemerintah belajar mendengar dan memfasilitasi kebutuhan anak-anak untuk tumbuh kembang mereka.

Citra Perempuan Dalam Iklan

Sosiolog Dr. Amrin Amal Tamagola (dalam Ibrahim dan Suranto, 1998) menemukan lima citra perempuan dalam iklan yang ia sebut P-5: citra peraduan, citra pigura, pilar rumah tangga, citra pergaulan, dan citra pinggan.[30]

Citra peraduan berkaitan dengan citra perempuan sebagai objek seksual. Dalam citra pigura, perempuan diidentikkan dengan makhluk cantik dan harus menjaga kecantikannya dengan latihan fisik, pakaian, kosmetik, diet, aksesori. Sebagai pilar rumah tangga, perempuan harus menjalankan tugas domestik mulai sumur, kasur, dapur, sampai kegiatan lain yang agak ”modern” seperti menemani tamu suami. Sebagai pilar, perempuan harus bisa menjadi manajer rumah tangga: mengelola barang-barang di rumah, mengelola keuangan keluarga, dan mengelola anak-anak dan para pekerja. Dalam citra pergaulan, ada sangkut pautnya dengan citra peraduan; mendampingi suami. Perempuan dalam citra pinggan, perempuan sebagai orang yang bertanggung jawab atas urusan dapur di rumah tangga.

Sudah menjadi sebuah keharusan, media menjadi agen kontruksi yang positif dalam upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Ratna Hidayati

Makalah ini disampaikan pada Pelatihan Komunikator Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Denpasar, 10 Desember 2008.


[1] Tebba, Sudirman. Jurnalistik Baru. Kalam Indonesia: 2005. Jakarta.

[2] Eriyanto. Mendeteksi Bias Gender Dalam Berita. Makalah Ini Disampaikan Dalam Training of Trainers Jurnalisme Berperspektif Gender, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta 22-26 Februari 2005.

[3] BeritaBali.com, Hukum dan Kriminal. 1 Desember 2008.

[4] Liputan6.com. 29 November 2008.

[5] Denpost. MetroBali. 2 Desember 2008.

[6] Denpost. Hlm. 1. 29 November 2008.

[7] Denpost. 9 November 2008.

[8] Bali Post. 9 Desember 2008.

[9] BeritaBali.com. Hukum dan Kriminal. 11 Agustus 2008.

[10] BeritaBali.com. Hukum dan Kriminal. 8 Agustus 2008.

[11] Jawa Pos. 9 Desember 2008.

[12] TOPIK. ANTV. 1 Desember 2008.

[13] Radar Banyuwangi. 9 Desember 2008.

[14] Jawa Pos. 9 Desember 2008.

[15] Tokoh Edisi 515, 23-29 November 2008.

[16] Liputan6.com. 18 November 2008.

[17] Liputan6.com. 29 Oktober 2008.

[18] Subiyantoro, Eko Bambang. Jurnalisme Berperspektif Gender. Makalah Ini Disampaikan Dalam Short Course Jurnalisme Berperspektif Gender, Koran Tokoh, Denpasar 22 April 2006.

[19] detektifromantika.wordpress.com. 23 Agustus 2008.

[20] Venny, Adriana. Panduan untuk Jurnalis: Memahami Kekerasan Terhadap Perempuan hlm.7-8. Yayasan Jurnal Perempuan & The Japan Foundation. Jakarta. 2003.

[21] BeritaBali.com. Hukum dan Kriminal. 1 Desember 2008.

[22] BeritaBali.com. Hukum dan Kriminal. 25 November 2008.

[23] Liputan6.com. 19 November 2008.

[24] Bali Post. 5 Desember 2008.

[25] Denpost. 6 Desember 2008.

[26] Pos Kota. 7 Desember 2008.

[27] Denpost. 6 Desember 2008.

[28] Denpost. 29 November 2008.

[29] Bali Post. 26 November 2008.

[30] Hartiningsih, Maria. Gender dan Media Massa Dalam Telaah Kritis Potret Perempuan di Media Massa. Primamedia Pustaka Jakarta.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: