It’s My Life


Akhirnya
Desember 18, 2008, 12:13 pm
Filed under: Personal | Tag:

Rabu, 17 Desember 2008.

Akhirnya, aku dapat juara I Lomba Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak yang diselenggarakan oleh AJI dan Unicef. Kemenangan ini melengkapi kemenanganku sebelumnya, juara Harapan II dalam Lomba Karya Jurnalistik 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang diadakan oleh Persatuan Wartawan Multimedia Indonesia. Thank God.

Berikut kutipan pengantar anggota dewan juri lomba kategori media cetak, Willy Pramudya mengenai tulisanku.

Setelah melakukan penilaian dan membuat peringkat atas naskah-naskah yang memenuhi kriteria, Dewan Juri memilih 10 naskah yang berhasil meraih nilai “teratas”. Terhadap 10 naskah itu Dewan Juri melakukan penilaian akhir dan menetapkan tiga pemenang. Hasilnya naskah berjudul “Keluh Kesah Penyandang Cacat; Dianggap tidak Sehat Jasmani” karya Ratna Hidayati, jurnalis pada Koran Tokoh, Denapsar, Bali dengan jumlah nilai 104, ditetapkan sebagai pemenang pertama; kedua, naskah berjudul “Dampak Iklan Rokok terhadap Remaja di Pekanbaru; Selagi Dijual Kami tidak Berhenti Merokok” karya Ahmad Fitri, jurnalis pada harian Riau Pos, dengan jumlah nilai 92, ditetapkan sebgai pemenang kedua; dan ketiga, naskah berjudul “Hak Anak Digusur Sekat dan Ruangan” karya Yos, jurnalis pada harian Radar Malang, dengan jumlah nilai 89, ditetapkan sebagai pemenang ketiga.

Ketiga karya tersebut sebenarnya sama-sama mengangkat isu atau kasus anak dalam perspektif hak asasi manusia (HAM). Namun karya berjudul “Keluh Kesah Penyandang Cacat…” tampil sebagai karya jurnalistik yang paling mengesankan para anggota Dewan Juri. Tulisan ini terasa tampil sebagai hasil kerja jurnalistik yang utuh dan kuat. Dibandingkan dengan dua pemenang lainnya karya ini mampu menjadikan kerja di bidang jurnalistik atau media massa lebih dari sekadar sebagai manusia dan lembaga penyampai berita, melainkan juga entitas penyampai makna dalam perspektif kemanusiaan yang kuat. Keberpihakan yang muncul dalam tulisan ini samasekali tidak membuat karya ini menjadi cacat secara jurnalistik, sebaliknya justru menjadi pembuka pemahamam, kesadaran, bahkan pencerahan.

Karya ini seperti ingin mengatakan bahwa tugas jurnalis dan media massa adalah menginspirasi dan menggerakkan tanpa harus kehilangan kesejatiannya sebagai karya jurnalistik. Isu dan kisah penyandang cacat tubuh yang diangkat cukup menarik sekaligus mampu membuka mata betapa kelamnya nasib mereka di hadapan masyarakat yang merasa dirinya sehat serta negara yang belum memperlakukan mereka secara setara dengan kelompok masyarakat yang bukan penyandang cacat tubuh. Dimulai dengan lead yang menarik, pembaca dibawa masuk ke dalam komposisi yang terfokus dan utuh, dengan struktur dan bahasa jurnalistik yang menarik dan efektif. “Keluh Kesah Penyandang Cacat…” membuktikan bahwa di tengah-tengah perubahan zaman, kerja jurnalistik yang dilakukan dengan sikap profesional akan menghasilkan karya yang inspiratif dan menggerakkan sebagaimana karya tulis di luar jurnalistik.

….


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Selamat Gek, btw, karyanya dmn ya??biar aku bisa baca gt??salam buat Tini di Tokoh ya!!

Komentar oleh Didik




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: