It’s My Life


Pedagang Kaki Lima Terima Orderan Lewat Telepon Selular
Desember 30, 2008, 9:11 pm
Filed under: Umum

Pertumbuhan jumlah pelanggan telepon di Indonesia terus meningkat. Hingga kuartal ketiga tahun 2007, tercatat 100 juta sambungan telepon yang terdiri atas 9 juta pelanggan telepon tetap, 82 juta telepon selular GSM (Global System for Mobile Communications), dan 9 juta fixed wireless access. Menurut Eddy Satriya dalam blognya, total sambungan sekitar 100 juta tersebut telah memberikan tingkat telekomunikasi hampir 50%. Artinya, tiap dua orang dari penduduk Indonesia memiliki satu sambungan telepon untuk berkomunikasi.

Bagi sebagian masyarakat, kepemilikan telepon seperti menjadi kebutuhan primer. PT Telkomsel, PT Excelomindo Pratama, dan PT Indosat tercatat menguasai jumlah pelanggan telepon selular GSM, masing-masing sebanyak 44,5 juta pelanggan, 22 juta pelanggan, dan 13 juta pelanggan hingga kuartal ketiga tahun 2007. PT Telkom, PT Bakrie Telecom, dan PT Indosat merajai jumlah pelanggan telepon tetap nirkabel berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access), yaitu masing-masing sebanyak 5,6 juta pelanggan, 2,9 juta pelanggan, dan 500 ribu pelanggan sampai kuartal ketiga tahun 2007.

Jumlah pelanggan yang menggunakan kartu bayar di muka mencapai 96% dari total jumlah pelanggan telepon selular. Persaingan merengkuh jumlah pelanggan operator telepon selular tersebut kian ketat dengan kehadiran operator telepon lain seperti PT Mobile-8, PT Hutchison CP Telecommunications Indonesia, PT Sinar Mas Telecom, dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia. Salah satu akibatnya, persaingan tarif penggunaan telepon pun tak terelakkan, terutama pada tarif kartu bayar di muka.

Program promosi pun digalakkan. Kartu XL yang dimiliki PT Excelcomindo Pratama misalnya, menawarkan program “Nelpon Sampe Puas”, “Nelpon Semaumu, Bayar 1 Menit Gratis Menelepon 17 Jam”, atau “SMS Semaumu, Rp 9/SMS ke Semua Operator”. PT Telkomsel dengan kartu simPATI PeDe, memberi penawaran program “Nelpon Rp 0,5/detik Gak Ada Batas!” atau kartu As dengan program “Forever Kartu As: Forever Aktifnya, Forever Murahnya, Forever Pake’nya”. PT Indosat meluncurkan Mentari dengan tarif murah Rp 0,1/detik seharian. PT Bakrie Telecom memberikan bonus SMS 240 ribu karakter bagi pelanggan Esia.

Pengaruh bagi Masyarakat

Persaingan operator selular menurunkan tarif telekomunikasi tidak serta-merta membuat masyarakat makin loyal pada satu produk. Sebagian pengguna kartu telepon selular malah lebih suka berganti-ganti nomor telepon selular untuk mendapatkan harga yang paling murah. Umumnya mereka tidak memperhatikan secara seksama penawaran program yang diberikan oleh operator selular. Misalnya, batasan waktu menelepon secara gratis, kewajiban melakukan pengiriman SMS sebelum mendapat manfaat SMS gratis, dsb. Operator selular hanya mencantumkan “syarat dan ketentuan berlaku” pada materi promosinya.

Dalam memilih sebuah produk, biasanya masyarakat melewati beberapa tahap, yaitu tahap pengenalan, ketertarikan, pertimbangan, pencobaan, dan pemakaian/penolakan. Pada tahap pencobaan, pengguna telepon selular yang tidak puas akan melakukan penolakan terhadap produk yang ditawarkan karena dianggap tidak sesuai dengan keinginannya. Atau, ada juga yang pasrah, menerima kualitas layanan telepon yang buruk karena harga murah. Konsumen kartu Flexi misalnya, menjadikan slogan “Flexi bukan Telepon Biasa” sebagai sebuah “permakluman” karena tingkat call drop yang tinggi.

Harga yang murah, dalam jangka pendek, memberi imbas pada tingginya jumlah permintaan sambungan telepon. Esia, misalnya, mencatat pertumbuhan yang signifikan dari tahun 2006 sampai 2007. Program paket telepon dan kartu perdana senilai mulai Rp 199 ribu yang ditawarkan meningkatkan hampir 100% jumlah pengguna pada tahun 2006 sampai kuartal ketiga tahun 2007. Program paket murah itu pun kini diikuti oleh pemain lain seperti Flexi Trendy dan XL. Pada tahun 2008, Smart malah meluncurkan gratis telepon genggam dengan pembelian pulsa perdana Rp 120 ribu. Harga murah ini tentu dapat mendorong kepemilikan telepon selular pada kalangan menengah ke bawah. Ceria, misalnya, lebih memilih memperkuat jaringan pelanggan telepon di perdesaan.

Sekarang, urusan delivery order bukan hanya milik pengelola restoran cepat saji seperti Mc Donald’s, KFC, atau Pizza Hut. Di Sanur, misalnya, seorang pedagang kaki lima menerima orderan nasi goreng lewat telepon selular. Jika pembeli ingin pesanannya diantar, cukup menambah sejumlah uang tanpa patokan sebagai pengganti ongkos jalan. Kalau tak ingin makanannya diantar, pembeli bisa memanfaatkan nomor telepon penjual untuk memesan menu lebih dulu agar tidak mengantri di warung tersebut. Hal ini tentu dapat membuka akses pedagang kecil meraup jumlah pelanggan lebih banyak dengan biaya yang terjangkau yang secara otomatis meningkatkan pendapatan mereka.

Dalam masyarakat kini, ada kecenderungan menggunakan jaringan operator yang sama demi menghemat pengeluaran. Misalnya, seorang ibu menggunakan nomor telepon XL, maka anaknya disarankan menggunakan nomor XL juga. Sebaliknya, pada remaja, ada kecenderungan mengganti nomor telepon selularnya guna menyesuaikan dengan nomor telepon pacarnya. Atau, mereka membawa dua nomor telepon selular sekaligus: satu disesuaikan dengan operator telepon keluarga, satu lagi sesuai operator telepon pacar. Kecenderungan seperti ini sebenarnya bisa meningkatkan jumlah pengeluaran. Alasannya, jika satu orang memiliki dua nomor telepon selular dari operator yang berbeda, maka orang tersebut harus mengeluarkan dua pos pengeluaran telepon dalam sebulan. Apalagi pada pemakai kartu bayar di muka yang dibatasi oleh masa aktif kartu. Hal ini amat jarang disadari oleh pengguna telepon selular. Sebaliknya, ada pula kecenderungan pada sebagian masyarakat menggunakan dua nomor operator berbeda karena tak ingin menonaktifkan nomor telepon selular pertama yang sudah dikenal banyak orang.

Dampak penurunan tarif telekomunikasi juga berpengaruh pada kualitas hubungan seseorang. Orangtua yang sibuk bisa memanfaatkan telepon selular sebagai sarana berkomunikasi dengan anaknya. Begitu juga, antara suami dan istri. Atau, hubungan antara atasan dengan bawahan dalam mengoordinasikan pekerjaan jika tak bisa bertemu secara langsung.

Telepon selular juga memberi pengaruh positif dalam kegiatan sehari-hari lainnya. Misalnya, penggunaan layanan mobile banking. Biaya yang dikeluarkan untuk transaksi melalui mobile banking menjadi jauh lebih murah daripada harus mendatangi kantor cabang atau anjungan tunai mandiri (ATM) bank yang dimaksud kalau hanya ingin mentransfer dana ke pihak lain.

Di sisi lain, telepon selular juga membawa dampak negatif. Contoh, kian maraknya kasus penipuan melalui telepon selular melalui SMS atau kejahatan melalui telepon selular lainnya. Seseorang mudah tertipu melalui SMS yang menyebutkan bahwa pemilik nomor telepon tersebut memenangkan sebuah undian dan diharuskan membayar pajak hingga 50% dari nilai hadiah atau mentransfer pulsa ke nomor telepon selular tertentu. Biaya SMS yang murah juga kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan berita bohong, fitnah, atau teror seperti kasus penyebarluasan berita tentang SMS santet melalui nomor telepon berkode 0866 beberapa waktu lalu. Di Denpasar, pernah terjadi penggalangan massa melalui SMS untuk melakukan demonstrasi ke LP (Lembaga Pemasyarakatan) Kerobokan guna menuntut percepatan eksekusi terpidana kasus Bom Bali. Atau, ada juga kasus penipuan dengan mengatakan salah satu anggota keluarga mereka mengalami kecelakaan dan harus dioperasi segera. Ujung-ujungnya, mereka ditipu hingga puluhan juta rupiah.

Perkembangan teknologi memang selalu membawa nilai positif atau negatif. Yang penting adalah menyikapi secara positif semua perkembangan yang ada. Tawaran yang diberikan oleh para operator selular diharapkan tidak memicu budaya konsumerisme pada pengguna. Di sisi lain, operator selular sudah seharusnya memberi pendidikan bagi pelanggannya agar lebih bijak dalam pengeluaran pribadi mereka.




1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Mbak, panjang bangettttt….tapi informatif dan inspiratif. Minta ijin memasang alamat blog mbak di blog saya, kalo mau berkunjung ke blog saya juga boleh, ini alamatnya guawijaya.wordpress.com

Komentar oleh Budhi




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: