It’s My Life


Belajar dari Tenganan: Berswasembada Pangan dengan Melestarikan Hutan
Januari 14, 2009, 1:14 pm
Filed under: Umum | Tag:

Sejak dulu, Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem dikenal sebagai desa tradisi yang sangat arif memanfaatkan kekayaan alam termasuk desa tempat tinggalnya. Dari 917 ha wilayahnya, 66,41 persen tanah di Tenganan Pegringsingan merupakan tanah tegalan yang sekaligus berfungsi sebagai hutan, 25,73 persen lahan persawahan, dan 7,86 persen merupakan wilayah pemukiman. Seluruh tanah tersebut adalah milik desa adat meskipun atas nama individu atau kelompok. Awig-awig desa mengatur tentang pengelolaan tanah di desa tersebut dan orang Tenganan Pegringsingan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar. Tak mengherankan, luas wilayah Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga sekarang tetap sama.

Peraturan lain yang cukup ketat adalah mengenai pengambilan hasil bumi milik pribadi. “Pohon yang ada di wilayah Tenganan Pegringsingan tidak boleh ditebang secara sembarangan, terutama pohon nangka, kemiri, cempaka, tehep, pangi, dan durian walaupun di atas tanah milik pribadi,” ujar Sadra, mantan kepala Desa Tenganan Pegringsingan. Kalau ada izin penebangan kayu, desa adat akan mengirimkan utusan untuk memeriksa pohon yang akan ditebang. “Jika yang memeriksa kayu mengatakan kayu tersebut sudah mati, baru boleh ditebang,” sambungnya. Beberapa jenis buah, seperti durian, tehep, pangi, dan kemiri tidak boleh dipetik dan harus dibiarkan matang di pohon sampai jatuh dengan sendirinya. Siapa pun yang menemukan buah yang jatuh tersebut, berhak menjadi pemiliknya.

Konsep kehidupan berkelanjutan telah dimiliki orang Tenganan Pegringsingan sejak dulu. Ibarat lambang Swastika di Bali, konsep desa itu seakan berpesan kepada keturunannya agar terus menjaga keseimbangan hidup sehingga kehidupan ini bisa senantiasa berlanjut. Tak ingin berhenti sampai di situ, desa penerima anugerah Kalpataru pada tahun 1989 ini terus berupaya melakukan upaya pelestarian lingkungan yang berkesinambungan.

“Potensi sawah yang dimiliki desa ini sangat besar. Potensi lain yang dimiliki Tenganan Pegringsingan adalah sumber air yang melimpah, di antaranya 350 liter/detik debit air sungai Buhu,” ungkap I Made Suarnatha, Direktur Eksekutif Yayasan Wisnu, organisasi nonpemerintah yang peduli terhadap isu lingkungan. Sawah itu dibagi dalam dua subak, yaitu Subak Naga Sungsang di sebelah timur sungai Buhu dan Subak Sengkawan di sebelah barat sungai. Jika diasumsi luas sawah di Tenganan Pegringsingan 250 ha dengan masa panen dua kali dan satu ha menghasilkan empat ton gabah, maka dalam setahun desa tersebut memiliki gabah sebanyak 2.000 ton.

“Padi yang dihasilkan tentu perlu disosoh. Karena itu, masyarakat memerlukan selip beras,” kata Suarnatha. Mesin selip beras umumnya menggunakan bahan bakar solar. “Harga bahan bakar pasti akan naik terus. Mereka memerlukan bahan bakar yang murah namun ramah lingkungan agar tak mengubah citra mereka yang peduli terhadap kelestarian lingkungan,” imbuh Suarnatha. Potensi sumber daya air itu pun akhirnya dimanfaatkan untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Mikrohidro merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil. Karena energi yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro relatif kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga air dalam skala besar, hal itu berimplikasi pada pemakaian alat yang sederhana dan sempitnya lahan yang digunakan untuk instalasi dan pengoperasian mikrohidro. “Hal itu menjadi keunggulan pembangkit listrik tenaga mikrohidro, yaitu tidak merusak lingkungan akibat alih fungsi lahan. Air sungai yang digunakan juga tidak berkurang karena hanya berfungsi memutar turbin. Setelah itu, air kembali ke subak tanpa mencemari lingkungan sekitar,” papar Suarnatha. Di Tenganan Pegringsingan, dengan ketinggian 8 m dihasilkan listrik sebesar 12.500 watt.

Rumah pembangkit tenaga listrik mikrohidro itu terletak di sebelah barat sungai Buhu. Listrik yang dihasilkan dialirkan ke rumah selip beras yang berada lebih kurang 200 m di sebelah utara rumah pembangkit tenaga listrik mikrohidro. “Pembuatan selip beras dengan teknologi mikrohidro ini dimaksudkan untuk menciptakan model pengembangan usaha masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Suarnatha. Dalam jangka pendek, masyarakat Tenganan Pegringsingan diharapkan berswasembada pangan dan melestarikan lingkungan dengan tidak melakukan polusi akibat pemakaian bahan bakar solar. “Masyarakat juga ‘dipaksa’ melestarikan hutan karena penggunaan teknologi mikrohidro memerlukan pasokan air terus-menerus,” susulnya.

Dalam pelaksanaannya, proyek yang disponsori oleh Global Environmental Facilities ini melibatkan peran seluruh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan sebagai pemberi mandat kepada KSU Danendra untuk mengelola usaha tersebut serta sebagai pemasok dan pengguna beras yang dihasilkan. Dengan adanya pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini, masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan akan memahami dasar-dasar potensi riil dari sawah mereka.

Ke depan, jenis usaha yang dikembangkan tidak terbatas pada selip beras tetapi juga pengolahan makanan ternak dan destilasi minyak asiri dari berbagai jenis tanaman yang ada. “Mereka juga akan mengembangkan pertanian padi organik,” ujar Suarnatha. Saat ini, upaya untuk mendapatkan jenis padi lokal seperti padi gaga merah dan putih serta ketan hitam, harus dengan membeli karena hampir semua sawah di Tenganan sudah ditanami dengan padi jenis unggul. Hal ini merupakan pengaruh pengenalan padi bibit unggul pada tahun 1980-an melalui proyek revolusi hijau. Pupuk yang kian hari makin mahal pun mendorong penanaman padi organik. “Dalam konteks lingkungan, penanaman padi organik memberi kredit besar dalam pelestarian lingkugan. Dari Tenganan, kita belajar melestarikan lingkungan,” kata Suarnatha.

Juara Harapan II Lomba Karya Jurnalistik Tingkat Nasional, Persatuan Wartawan Multimedia Indonesia, November 2008.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: