It’s My Life


Menjaga Pulau Tetap Utuh
Februari 15, 2009, 2:27 pm
Filed under: Umum

MADE Jorti tak tahu berapa usianya kini. “Mungkin 80 tahun,” katanya. Ia penduduk asli Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan. Sebelum Serangan direklamasi oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) pada tahun 1996, ia sama seperti 80% penduduk Serangan, bekerja sebagai nelayan.

Saat berupa pulau, Serangan memiliki segudang potensi bahari. Terumbu karang, udang, kepiting, siput laut, cacing laut, dan rumput laut adalah biota laut yang mudah ditemui warga di pantai. Warga bahkan sangat gampang menemukan ikan hias atau kuda laut. Saat itu, satu ekor ikan hias laku dijual seharga Rp 5.000. Karena itu, tak mengherankan, saat air laut surut, anak-anak SD di desa itu gemar ke laut, mencari ikan hias. Dalam sehari, mereka bisa mendapat 10 ekor ikan hias. “Tetapi sejak pesisir Serangan dikeruk dan ditimbun pasir, semuanya tak semudah dulu lagi,” ujar Made Jorti.

Kakaknya, Wayan Warca, juga merasakan perubahan itu. “Dulu kami gampang mencari ikan, cukup di pantai terdekat. Sekarang, jika mau mencari ikan, harus ke laut lepas,” katanya. Saat mereklamasi Serangan, PT BTID mengeruk pantai di sekitar pulau itu hingga kedalaman mencapai 12 meter. Diperkirakan, 800 juta meter kubik pasir dipakai untuk menimbun pantai-pantai di daerah itu sehingga membuat luas wilayah Serangan yang semula hanya 112 hektare berubah menjadi 481 hektare, tiga kali lipat lebih luas. Sebelum dikeruk, kedalaman pantai hanya tiga sampai empat meter. “Karena kini kedalaman mencapai 12 meter, kami tak bisa mencari ikan menggunakan jala lagi,” jelas Wayan Warca.

Kalau mau tetap bekerja sebagai nelayan, mau tak mau, Wayan Warca harus mengikuti jejak beberapa warga lain, menjadi nelayan laut lepas. Untuk itu, dia memerlukan modal besar. Sebagian warga terpaksa harus berutang lebih dulu agar bisa mengganti perahu. Sekali berangkat, mereka memerlukan modal Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Kalau tak dapat hasil, sudah dipastikan mereka merugi. Padahal dulu, dalam satu jam mencari ikan, ia bisa berpenghasilan Rp 15 ribu. Wayan Warca tak mampu. Ia memilih menjual jukungnya. Itu pula yang dilakukan 70% nelayan Serangan lainnya. Salah satu jukung mereka, kini menjadi pajangan di sebuah toko barang antik di Suwung. Sekarang, ia bersyukur jika bisa mendapat uang Rp 2.000 per hari. Begitu pula Made Jorti yang berganti pekerjaan menjadi buruh. Upahnya sebagai buruh, hanya Rp 1.000 sekali angkut. “Sehari paling banyak saya dapat upah Rp 5.000,” tuturnya. Sebagian nelayan yang tak lagi melaut, menurut I Wayan Sudarsana, Ketua Forum Pemulihan Pertiwi Masyarakat Serangan, beralih pekerjaan sebagai buruh bangunan, pedagang kecil, atau yang lain.

Harga ikan yang berhasil ditangkap nelayan sekarang memang lebih tinggi dibandingkan dulu. Bedanya lagi, hasil tangkapan yang kini diperoleh, jauh lebih sedikit. Bagi nelayan, kalau berhasil menangkap ikan, mereka lebih senang menjualnya daripada dimakan sendiri. Mereka memilih makan dengan lauk tahu dan tempe asal bisa membeli beras dan keperluan lain dari hasil tangkapan.

Merusak Ekosistem

Reklamasi Pulau Serangan tak hanya mengubah pekerjaan masyarakat setempat. Arus laut pun berubah. Ketika berbentuk pulau, arus laut memutari Serangan. Kini, arus laut berbalik arah, menyebabkan pantai-pantai hingga pantai di Tanjung Benoa, Nusa Dua dan Pantai Mertasari Sanur mengalami abrasi. Pembangunan itu juga merusak ekosistem di Serangan. Hamparan terumbu karang dan rumput laut hancur. “Karang akropora yang menutupi hampir semua wilayah laut di Serangan, tak lagi bisa ditemui,” kata Wayan Patut, warga Serangan. Padang lamun, habitat ikan baronang mengalami kerusakan paling parah. Ikan baronang yang menjadi salah satu hasil laut unggulan khas Serangan pun punah. “Rumput laut jenis sangu dan bulung jaja yang biasa dipakai upacara, juga tak bisa didapati lagi,” ungkap Wayan Patut. Serangan yang dikenal sebagai Pulau Penyu, kini bahkan tak pernah disinggahi penyu untuk bertelur. “Setahun belum tentu ada. Mungkin bisa ditemui, dua atau tiga tahun sekali,” lanjutnya.

Hamparan terumbu karang di Serangan, menjadi bagian dari 65,08 km terumbu karang di perairan Bali. Hamparan itu juga menjadi bagian dari 34,41% terumbu karang yang rusak dan 27,38% terumbu karang yang mati di perairan Bali. Menurut Agung Wardana, Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, tren kerusakan terumbu karang di Bali disebabkan pembangunan yang marak terjadi di wilayah pesisir terutama pembangunan hotel dan fasilitas pariwisata lainnya termasuk aktivitas wisata bahari.

“Tidak ada pulau tanpa karang,” kata Wayan Patut. Pembangunan yang tak memperhatikan lingkungan, sama saja dengan memusnahkan habitat manusia secara perlahan-lahan. Karang itu habitat biota laut. Ikan kecil bertempat tinggal dan bisa menyelamatkan diri dari ancaman ikan besar di dalam terumbu karang. Dalam rantai makanan, kalau tak ada ikan kecil, pasti ikan besar juga musnah. Kelangsungan hidup manusia pun ikut terancam.

Karang juga pelindung pantai dari empasan ombak dan penahan abrasi. “Dalam isu pemanasan global sekarang ini, terumbu karang juga sudah seharusnya dilestarikan,” kata lelaki kelahiran Serangan, 6 Juni 1971 ini. Menurut Wayan Patut, karang berfungsi menyerap karbondioksida. Saat membentuk terumbu, karang memerlukan karbondioksida tersebut. Satu meter persegi karang memerlukan 15 kg karbondioksida. “Melestarikan terumbu karang sama artinya dengan menjaga pulau tetap utuh dan membuat ikan-ikan kembali ke rumahnya,” paparnya.

Hal lain, kata Agung Wardana, terumbu karang merupakan ekosistem yang rentan dan mudah rusak. Selain pembangunan yang tak memperhatikan lingkungan, terumbu karang bisa rusak karena pengendapan, pencemaran, penangkapan ikan yang menggunakan sianida, potasium, atau bom, sampah, gempa dan binatang laut pemangsa karang. “Selama setahun, karang rata-rata hanya bertambah panjang satu cm. Kalau karang setinggi lima meter dirusak, diperlukan waktu 500 tahun agar karang itu kembali ke tinggi semula,” katanya mengingatkan.

Melestarikan Terumbu Karang

Menyadari hal tersebut, Wayan Patut berniat mengubah keadaan. Setelah mendapat pelatihan tentang terumbu karang, tahun 2003 ia mengajari delapan orang warga Serangan mengembangkan terumbu karang. “Saat diajari oleh teman-teman dari LSM Telapak di Bogor, saya yakin bisa melakukannya karena bahan yang diperlukan mudah ditemui di sekitar rumah,” kisahnya.

Ia membuat substrat dari sisa-sisa karang yang ditambang sebagian nelayan. Potongan karang setinggi 5 cm s.d. 10 cm dicarikan karang hidup dan ditempel. “Saya biarkan di laut, ternyata bisa hidup. Sejak itu, saya berpikir untuk mengembangkan kegiatan ini dalam skala yang lebih besar,” tuturnya. Tahun 2004, ia membuat kelompok nelayan “Karya Segara”. Anggotanya berjumlah 35 orang. “Karena lahan pesisir sudah habis, kami melakukan budidaya,” ujar Nyoman Sopi, ketua kelompok nelayan “Karya Segara” yang melakukan budidaya terumbu karang. Selain mereka, masih ada kelompok lain yang melakukan budidaya lobster atau rumput laut.

Mereka mendapat bantuan dari Community Based Coastal Resources Management, Filipina sebesar Rp 40 juta untuk melestarikan terumbu karang. Tahun itu juga, dalam program mitigasi kerusakan terumbu karang di Serangan, ia mendapat bantuan 2.000 bibit dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Hingga tahun 2007, bibit itu berkembang menjadi 150 ribu bibit.

“Dulu kami tak tahu kalau mencari ikan memakai potasium atau sianida serta memotong karang merusak habitat biota laut,” kata Nyoman Sopi lagi. Lahan yang digunakan untuk konservasi terumbu karang di laut Serangan mencapai satu hektare. Mereka pun menjadi pelestari terumbu karang. Tiap minggu, mereka dua kali menyelam ke laut untuk mengecek perkembangan terumbu karang. “Beberapa jenis ikan yang sempat menghilang akibat reklamasi, seperti Butterfly Fish, Kepe-Kepe, Putri Bali, dan Keranjang Bali kini datang lagi,” ungkap Wayan Patut. Di Serangan, ada 32 jenis karang yang terdiri atas karang akropora, karang masif, dan karang submasif.

Selain memperbaiki lingkungan, kelompok nelayan “Karya Segara” juga melakukan perdagangan karang lunak ke luar negeri seperti Inggris, Filipina, dan Amerika Serikat. Terakhir, mereka mengirim satu ton karang lunak ke Myanmar dengan harga Rp 5.000/kg. “Masyarakat sadar, kalau tidak ada karang, tak ada ikan. Mereka lihat hasilnya dan akhirnya, ikut terlibat,” kata Wayan Patut.

Mereka pun kini diminta membantu pelestarian terumbu karang di berbagai daerah seperti di Jemuluk (Karangasem), Geretek (Buleleng), Lombok, Pulau Sembilan (Sulawesi Selatan) sampai ke Filipina, India, dan Hongkong. Tahun 2007-2008, Wayan Patut dan 19 rekannya melakukan penanaman karang terbesar di dunia, yaitu sebanyak 180 ribu terumbu karang di dekat bandara Ngurah Rai Tuban. “Terumbu karang itu dapat meredam desingan suara pesawat di bawah laut,” ungkapnya. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 15 Februari 2009


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Selamat, semoga menang lagi bu…bagi-bagi ilmunya ke teman2 tokoh yang lain juga dong

Komentar oleh lodegen

Ya bu bagi ilmunya ya, and sekali lagi selamat dan salam kenal

Komentar oleh kushin ryu bali

@ Lodegen: thank Lod. Udah berbagi kok dan saat lomba ini, ada empat wakil Tokoh yang ikut. Cuma aku yang menang hehehe

@ Ryu: salam kenal juga..

Komentar oleh Ratna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: