It’s My Life


Demi Rokok Relakan Anak Berhenti Sekolah
Maret 24, 2009, 7:31 pm
Filed under: Kesehatan, Umum

KETIDAKPAHAMAN masyarakat tentang bahaya rokok menjadi salah satu faktor sulitnya penanganan masalah rokok. WHO menyebutkan, merokok merupakan penyebab dari 90% kanker paru pada laki-laki dan 70% pada perempuan dengan angka kematian lebih dari 85%. Rokok juga penyebab dari 56% – 80% penyakit saluran napas kronik, termasuk di antaranya bronkitis kronik dan pneumonia. Secara umum, merokok merupakan penyebab 22% dari penyakit jantung dan pembuluh darah.

Perempuan dan anak-anak memiliki risiko kesehatan lain akibat merokok. Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia, termasuk 43 di antaranya bersifat karsinogenik. Menurut dr. Putu Siadi Purniti, Sp.A. dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unud/RS Sanglah saat workshop “Larangan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok sebagai Upaya Perlindungan Anak Menjadi Perokok” yang dihelat Lembaga Perlindungan Anak Bali bekerja sama dengan Aliansi Total Ban dan Komisi Nasional Perlindungan Anak di Denpasar, paparan asap rokok pada perempuan hamil merupakan penyebab utama kelahiran bayi dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, kelainan jantung, kelainan saraf, dan bibir sumbing. Anak-anak yang terpajan asap rokok orang lain mudah terkena infeksi saluran napas bagian bawah, infeksi saluran napas bagian atas, tuberkolosis, dan asma. “Anak yang sakit-sakitan otomatis jarang ke sekolah dan prestasi belajarnya menurun,” ujar dr. Putu Siadi.

Dampak bahaya rokok diakui semua pihak, termasuk industri rokok itu sendiri. “Buktinya, ada peringatan bahaya rokok di tiap bungkus rokok. Kalau rokok tidak diakui sebagai produk yang membahayakan kesehatan, tak akan ditulis di situ,” ujar Aries Merdeka Sirait, Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Menurut Fuad Baradja, Kepala Bidang Penyuluhan dan Pendidikan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM-3) Jakarta, efek buruk merokok yang muncul dalam rentang waktu yang terlalu lama menjadi salah satu pemicu ketidakpedulian masyarakat terhadap bahaya rokok. “Rokok dianggap sama dengan kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum,” ungkapnya.

Data Survei Sosial Ekonomi Indonesia (Susenas) tahun 2004 menunjukkan rata-rata jumlah konsumsi rokok orang dewasa adalah 11 batang per hari, laki-laki 11 batang dan perempuan 10 batang per hari. Dari jumlah rokok yang dikonsumsi, makin tinggi pendapatan makin tinggi rata-rata konsumsi rokok. Akan tetapi, dari sudut jumlah perokok, makin rendah pendapatan makin tinggi prevalensi merokok. Dengan sumber daya rumah tangga yang sudah terbatas, proporsi pengeluaran bulanan untuk belanja rokok rumah tangga yang berpendapatan terendah adalah 11,5%, sementara yang berpendapatan tertinggi 9,7%.

Pada tahun 2005, pengeluaran bulanan rumah tangga perokok untuk membeli rokok menempati urutan nomor dua (10,4%) setelah padi-padian (11,3%). Sementara pengeluaran daging, telur dan susu besarnya rata-rata 2%. Artinya, pengeluaran untuk rokok lebih dari lima kali lipat pengeluaran untuk makanan bergizi tersebut. Dilihat dari proporsi total pengeluaran bulanan, belanja rokok lebih dari tiga kali lipat pengeluaran untuk pendidikan (3,2%) dan hampir empat kali lipat pengeluaran untuk kesehatan (2,7%). “Masalah rokok itu berakibat ke semua lini, yaitu kesakitan, kebodohan, dan kemiskinan,” tegas Fuad Baradja.

Putus Sekolah

Ia menceritakan, ada seorang nelayan dari Muara Angke Jakarta yang diundang dalam sebuah acara yang diadakan Departemen Kesehatan RI di Jakarta. Sebagai nelayan, penghasilan terbaiknya per hari Rp 50 ribu. Kalau lagi apes, dia bisa merugi. Punya uang atau tidak, konsumsi rokoknya per hari sampai lima bungkus. Anaknya empat orang, dua orang sekolah, dua anak lagi terpaksa putus sekolah. “Saat ditanya, mengapa anak itu berhenti sekolah, si bapak menjawab, tak ada biaya. Padahal, biaya rokoknya lebih dari Rp 600 ribu per bulan. Ketika disinggung mengenai hal itu, jawabannya, lebih baik anak saya tidak sekolah daripada saya berhenti merokok,” kisahnya miris.

Sikap bapak itu, menurut Fuad Baradja, akibat zat adiktif yang terkandung dalam rokok. “Jumlah rokok yang dikonsumsi sudah menjadi tuntutan karena rokok itu adiktif. Awalnya, dia merokok sebatang. Lama-kelamaan meningkat. Toleransi nikotin dalam tubuh manusia pun terus meningkat,” imbuh Fuad Baradja.

Berdasarkan data Susenas tahun 2004, tiga dari empat rumah tangga memunyai pengeluaran untuk rokok. Hal ini berarti minimal terdapat satu orang anggota rumah tangga yang merokok. 84,2% dari perokok berusia 15 tahun ke atas merokok di dalam rumah bersama dengan anggota keluarga lainnya.

Fuad Baradja menuturkan kisah temannya yang perokok berat. Anaknya yang duduk di kelas 2 SMP bertanya pada ayahnya, “Pa, aku boleh merokok nggak? Satu batang saja.” Ayahnya terkesiap. Selama ini, ayahnya perokok berat. Tak ada hari tanpa rokok. Sang ayah tahu, rokok itu tak baik bagi kesehatan. Tetapi, ia terus saja merokok, termasuk di depan anak-anaknya. Karena terus didesak, sang ayah mengizinkan dengan nada risau. “Boleh, tapi satu batang ini saja dan harus di depan papa,” kata sang ayah. Tiga hari kemudian, sang ayah dipanggil pihak sekolah. Anaknya tertangkap basah sedang merokok di kamar mandi.

“Keluarga adalah garda terdepan dalam menanggulangi bahaya rokok,” kata Aries Merdekat Sirait. Sikap orangtua akan menjadi anutan bagi anak-anaknya. “Kalau orangtuanya tidak merokok, anak memiliki kecenderungan tidak merokok juga,” timpal Fuad Baradja. Orangtua yang perhatian pada anaknya, tentu tak akan merokok di dalam rumah karena merokok di rumah memberikan risiko bagi anggota keluarga yang tidak merokok menjadi perokok pasif di dalam rumah. “Bahaya menjadi perokok pasif, minimal sama dengan perokok aktif,” ungkap Fuad Baradja.

Sayangnya, rumah bukan lagi tempat yang aman bagi anak-anak agar tidak terpajan asap rokok. Berdasarkan hasil Susenas 2001, estimasi penduduk berusia 10 tahun ke atas yang terpapar asap rokok adalah 48,9% atau lebih dari 97 juta orang. Sementara 70% atau lebih dari 43 juta anak-anak berusia hingga 14 tahun dan 66% atau lebih dari 65 juta perempuan tidak terlindungi asap rokok orang lain di rumah sendiri. Data Susenas 2004, 30,5% atau 45,6 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas adalah perokok pasif di dalam rumah dan perempuan diperkirakan ada 36,7 juta atau empat kali lipat daripada laki-laki. 64,2% pelajar terpapar asap rokok orang lain di rumah sendiri dan 81% pelajar terpapar asap rokok lain saat berada di tempat umum.

Kesadaran Baru

Menurut Lisda Sundari, Office Manager Komisi Nasional Perlindungan Anak, masalah yang terjadi saat ini adalah adanya pandangan yang menganggap rokok adalah hal normal. Di sisi lain, informasi tentang bahaya rokok sangat minim. “Akhirnya, rokok buat masyarakat kita bukan masalah,” katanya. Lebih parah lagi, rokok dianggap sebagai bagian dari budaya. Misalnya, rokok menjadi hal yang wajib ada saat kenduri. Bahkan ada istilah memberi “uang rokok”. Karena itu, kita memerlukan kesadaran baru tentang rokok, yaitu rokok adalah sesuatu yang abnormal.

Peran pemerintah untuk mengatasi masalah ini sangat diperlukan. “Lemahnya kemauan politik pemerintah dalam menanggulangi masalah rokok membuat industri rokok bisa dengan mudah ‘bermain’ di sini. Padahal, kerugian ekonomi akibat rokok mencapai Rp 150 triliun. Sedangkan pendapatan pemerintah dari cukai rokok pada tahun 2008 hanya Rp 45 triliun,” ungkap Fuad Baradja.

Menurut Dina Kania dari Komisi Nasional Perlindungan Anak, ada empat hal penting dalam konvensi tentang pengendalian tembakau, yaitu peningkatan cukai rokok untuk melindungi masyarakat terutama anak-anak menjadi perokok pemula; adanya larangan iklan, promosi, dan sponsorship rokok; peringatan kesehatan di bungkus rokok; dan ketentuan merokok di luar ruangan. “Larangan iklan, promosi, dan sponsorship rokok adalah hal yang paling mendasar untuk dilakukan,” ujarnya. “Tidak adanya perlindungan hukum bagi anak-anak dari dampak iklan, promosi dan sponsor rokok menyebabkan anak menjadi korban eksploitasi industri rokok,” kata Aries Merdeka Sirait menambahkan.

Selain itu, perlu adanya informasi yang lebih gencar tentang bahaya merokok. Hasil studi Pusat Penelitian Kesehatan Unversitas Indonesia menunjukkan lebih dari 90% masyarakat pernah membaca peringatan kesehatan di bungkus rokok. Meski demikian, 42,5% tidak percaya karena tidak melihat bukti, 26% tidak termotivasi berhenti merokok, 26% tidak peduli karena telanjur ketagihan, dan 20% mengatakan tulisan tidak jelas. “Di luar negeri, peringatan bahaya merokok yang terdapat di bungkus rokok berupa gambar, dan luasnya mencapai 50% dari kedua sisi lebar bungkus rokok. Dengan begitu, orang jadi lebih jelas ketimbang hanya tulisan dengan ukuran yang lebih kecil pula,” kata Fuad Baradja. Jika itu dilakukan juga di Indonesia, asumsinya, dengan konsumsi rokok rata-rata 11 batang per hari, perokok akan terpapar gambar penyakit akibat rokok 4.000 kali setahun untuk menanamkan kesan informatif yang mengimbangi iklan rokok.

Pengendalian bahaya tembakau juga harus dilakukan dengan menekan akses. Saat ini, akses masyarakat termasuk anak-anak terhadap rokok sangat mudah karena bisa dibeli di mana saja dan kapan saja dengan harga murah. Anak-anak bahkan bisa membeli rokok di warung dekat sekolah atau rumah dengan harga Rp 500 per batang. “Kita harus mengendalikan peredaran tembakau. Harus ada gerai khusus menjual rokok dan rokok tidak boleh dijual eceran,” kata Aries Merdeka Sirait. Hal ini sebagai bentuk kompromi pengendalian bagi orang-orang dewasa yang kecanduan. Karena rokok itu adiktif, mereka pasti mencari rokok walau dijual di tempat tertentu.

“Jangan menyebarkan mitos bahwa cara paling efektif mencegah anak menjadi perokok adalah dengan melarang mereka merokok,” kata Fuad Baradja. Secara psikologis, anak akan makin melawan jika dilarang. Larangan merokok bagi anak justru membuat mereka penasaran. Larangan merokok pada anak menempatkan anak sebagai subjek yang dilarang. “Kalau begitu, jika anak merokok, dia diposisikan sebagai pelaku yang bersalah karena melanggar larangan. Ini juga tidak benar. Dalam perlindungan anak, anak harus diposisikan sebagai subjek yang dilindungi dari segala sesuatu yang bisa membuat mereka mencoba merokok. Sehingga letak kewajiban bukan pada anak tetapi pada orang dewasa untuk melindungi pengaruh yang mendorong mereka untuk merokok, termasuk pengaruh iklan, promosi, dan sponsorship rokok,” paparnya. Seperti di Thailand, terbukti, larangan iklan serta kebijakan peningkatan cukai rokok efektif dalam mengurangi konsumsi tembakau di kalangan remaja. – rat

Media Muat: Koran Tokoh, Minggu 22 Maret 2009


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

semoga kita bisa hidup di dunia tanpa asap rokok… yah, berharap kan gapapa… xD

Komentar oleh lenny

Wah… Bener juga, informasi tentang bahaya rokok itu sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada sama sekali, palingan hanya poster yang terpampang di puskesmas, rumah sakit…
Naikkan aja harga rokok, dan tidak boleh ada eceran…🙂

Komentar oleh telapakkaki




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: