It’s My Life


60 Ribu Anak Korban Wisatawan Seks di Asia Tenggara; Home Stay Berisiko Tinggi – Sanur Bagian sangat Signifikan
Maret 30, 2009, 9:19 am
Filed under: Umum

WORLD Travel and Tourism Council (2004) menyebutkan, pariwisata merupakan industri terbesar di dunia. Mengingat pariwisata menggabungkan banyak sektor seperti industri yang terkait keramahtamahan, jasa boga, dan persewaan kendaraan, maka pariwisata mempekerjakan lebih dari 8% tenaga kerja dunia dan menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan industri lain dalam ekonomi global. Tahun 2005, jumlah wisatawan mancanegara lebih dari 800 juta orang dan menghasilkan lebih dari dua miliar dolar AS per hari.

Pertumbuhan industri pariwisata di Asia Tenggara tiap tahun pun meningkat. “Tahun 2006, kunjungan turis mancanegara meningkat 9%. Pariwisata menjadi salah satu kunci dalam pembangunan ekonomi,” ujar Chin Chanveasna, Executive Director ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes) Kamboja dalam Southeast Asia Conference on Child Sex Tourism, di Sanur, 18-20 Maret.

“Indonesia, Thailand, Filipina, Kamboja, dan Vietnam, merupakan negara yang memiliki reputasi sebagai destinasi wisata untuk tujuan eksploitasi seksual komersial terhadap anak,” ungkapnya. Salah satu bentuk eksploitasi seksual komersial yang kini mendapat perhatian besar masyarakat dalam 15 tahun terakhir ini adalah pariwisata seks anak. Pariwisata seks anak mengacu pada eksploitasi seksual anak dalam pariwisata yang terjadi di berbagai daerah tujuan wisata dan bahkan di tempat-tempat yang sebenarnya tidak memiliki prasarana pariwisata samasekali.

“Pelaku pariwisata seks anak adalah orang yang melakukan perjalanan dari daerah asalnya ke daerah tujuan, dalam satu negara atau dari satu negara ke negara lain, untuk melakukan hubungan seksual dengan anak-anak,” papar Chin. Para wisatawan seks anak ini bisa merupakan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Menurut Chin, ada tiga kategori wisatawan seks anak, yaitu wisatawan seks anak situasional, wisatawan seks anak preferensial, dan pedofil. Wisatawan seks anak situasional sebenarnya tidak memiliki kecenderungan seksual khusus terhadap anak-anak. Tetapi, mereka memiliki kesempatan melakukan hubungan seksual dengan seseorang di bawah 18 tahun dan memanfaatkan kesempatan itu. Wisatawan seks anak preferensial menunjukkan keinginan melakukan seks secara aktif terhadap anak-anak. Meski mengalami ketertarikan seksual terhadap orang dewasa, mereka aktif mencari anak-anak untuk melakukan hubungan seksual. Umumnya, wisatawan seks anak preferensial mencari anak-anak yang masih puber atau remaja. Pedofil menunjukkan kecenderungan seksual khusus terhadap anak-anak yang belum puber. Walau dianggap menderita gangguan klinis, pedofil bisa saja tidak menunjukkan pilihan terhadap jenis kelamin anak dan beranggapan bahwa hubungan seks dengan anak-anak tidak berbahaya. “Wisatawan seks anak preferensial dan pedofil hanyalah sebagian kecil wisatawan seks anak,” ujar Chin. Beberapa negara asal wisatawan seks anak adalah Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, dan Australia.

“Tetapi, kita tidak boleh menutup mata, bahwa wisatawan seks anak itu juga merupakan wisatawan domestik,” kata Frans van Dijk, Regional Director of Terre des Hommes, Belanda. Prof. Irwanto, Ph.D. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Atma Jaya Jakarta menambahkan, “Walaupun banyak kasus dilakukan orang asing, yang paling banyak mengakses wisata seks adalah orang pribumi. Tak sedikit industri pariwisata yang menawarkan anak-anak untuk berhubungan seksual. Ini kultur yang ada di kalangan laki-laki kita.”

Korban 60 Ribu

Prof. Marco Scarpati dari Milano University, Italia, mengatakan, dari total wisatawan seks anak, jumlah pedofil 5%. “Wisatawan seks anak preferensial 30% dan sisanya, 65%, wisatawan seks anak situasional,” ujar President of ECPAT Italia ini. Hasil risetnya menunjukkan, wisatawan seks anak tertinggi berusia 31 s.d. 40 tahun, yaitu 34%, disusul wisatawan seks anak berusia 18 s.d. 30 tahun, 30%; wisatawan berusia 41 s.d. 50 tahun, 19%, dan wisatawan berusia 51 s.d. 80 tahun, 17%. Mereka umumnya berada di kalangan berpendapatan menengah ke atas, yaitu 50%; kalangan menengah, 45%; dan kalangan atas 5%. Ketiga kategori wisatawan seks anak itu rela mengeluarkan banyak uang dan waktu asalkan dapat memuaskan keinginan mereka.

“Dari seluruh kasus, 90%-95% wisatawan seks anak adalah laki-laki,” ungkap Marco. Persentase itu sama dengan wisatawan seks anak melalui internet. 10% s.d. 25% dari mereka adalah homoseksual. Anak-anak yang menjadi korban berusia 13 s.d. 17 tahun, 60%; berusia 7 s.d. 12 tahun, 30%; dan berusia s.d. 6 tahun, 10%. “Jika wisatawan seks anak adalah perempuan, korbannya adalah remaja. Tetapi, kondisi itu tidak dirasakan sebagai sesuatu yang negatif jika orientasinya adalah heteroseksual. Umumnya, gigolo dianggap tidak terlalu negatif dibandingkan prostitusi,” ungkap Marco. Penelitiannya di Kamboja mengungkapkan, biaya yang dikeluarkan pelaku untuk satu kali hubungan seksual jangka pendek, 2 s.d. 5 dolar AS.

Korban pariwisata seks anak sering memiliki latar belakang sosio-ekonomi buruk. Tetapi, hal tersebut bukan satu-satunya. Korban bisa juga berasal dari kelompok minoritas, warga pengungsi, dan kelompok sosial yang termarginalkan. Mereka bisa anak laki-laki atau perempuan dan sebagian mereka telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan penelantaran. Anak-anak yang bekerja, khususnya yang terlibat dalam industri pariwisata dan tergantung pada penghasilan musiman, yatim-piatu akibat AIDS, serta anak-anak jalanan dapat menjadi korban. Kadang-kadang, karena mereka dilahirkan di daerah tujuan wisata yang dicirikan dengan ketidakmerataan kekayaan antara para wisatawan yang berkunjung dan para penduduk setempat, dapat dieksploitasi dalam pariwisata seks anak. “Sulit menentukan jumlah korban secara pasti. Tetapi, diperkirakan jumlah anak yang dieksploitasi lebih kurang 60 ribu di Asia Tenggara,” ungkap Frans.

Menurut Chin, pariwisata seks anak tak bisa dilepaskan dari bentuk-bentuk eksploitasi seksual komersial anak yang lain yaitu perdagangan anak, pornografi anak, dan prostitusi. Anak-anak yang dieksploitasi di berbagai daerah tujuan pariwisata seks anak biasanya berbasis lokal. Tetapi, anak-anak juga diperdagangkan secara internal atau ke luar negeri untuk melayani para wisatawan seks. Selain itu, daerah tujuan wisata sering menjadi daya tarik ekonomi yang membuat anak-anak lebih rentan terhadap janji-janji palsu tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi yang diiming-imingkan pelaku perdagangan anak. Dalam kasus pariwisata seks anak dan pornografi anak, wisatawan seks anak kerap memfilmkan atau mendokumentasikan foto anak-anak untuk konsumsi pribadi atau mengirimkannya kepada konsumen pornografi anak yang lain untuk mendapatkan keuntungan. Tahun 2008, Polda Bali menangkap seorang warga negara Swiss yang melakukan eksploitasi seksual terhadap anak di Prancis. Di laptopnya, ditemukan dokumentasi 3.000 foto anak-anak telanjang. Sebagian anak-anak itu berasal dari Thailand dan Bali.

Perkawinan anak dapat menjadi salah satu bentuk pariwisata seks anak jika anak yang dinikahkan tersebut digunakan sebagai objek pemuas nafsu seks dengan imbalan uang atau pembayaran yang lain. Setelah dinikahkan dan hidup bersama dalam beberapa waktu, anak itu kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa pernah menghubunginya kembali.

Menurut Irwanto, adat masyarakat yang membolehkan anak-anak menikah juga kerap menjadi salah satu faktor terjadinya eksploitasi seksual komersial terhadap anak di dunia pariwisata. Di Jawa Timur, anak bisa dikawinkan pada usia yang sangat muda, 12-13 tahun. Walaupun dalam KUHP disebutkan, orang yang melakukan hubungan seksual dengan anak-anak diancam hukuman 7-9 tahun, mereka tetap menjalaninya karena pasal itu merupakan pasal laporan, tidak efektif. “Payahnya lagi, sering terjadi hukum positif ditabrakkan dengan hukum adat atau agama,” keluh Irwanto yang juga Ketua Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial ini.

Risiko Tinggi

Berbagai variabel yang terkait pariwisata seks anak adalah tempat terjadinya eksploitasi, kehadiran dan jenis perantara, lama tinggal, ukuran/luas daerah tujuan, situasi kehidupan anak dan situasi penginapan wisatawan tersebut. “Berbagai bentuk akomodasi, hotel berbintang lima sampai wisma, dapat menjadi tempat untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap anak,” ujar Chin.

Chin menegaskan, adanya penawaran akomodasi dengan konsep baru seperti home stays, rumah atau flat yang disewa secara pribadi juga menjadi isu penting yang harus dicermati. Para wisatawan dapat menyewa atau memiliki rumah sendiri yang memberi mereka akses tempat untuk mengeksploitasi anak-anak. “Akomodasi seperti itu merupakan tempat dengan kontrol minimal dari orang luar, tanpa petugas resepsionis, staf hotel, wisatawan lain atau penduduk setempat yang peduli. Home stay memiliki risiko tinggi bagi anak-anak karena terjadi interaksi yang lebih besar antara keluarga pemilik rumah dan turis,” katanya.

Menurut Irwanto, Sanur merupakan bagian sangat signifikan karena turis yang menyewa rumah umumnya memunyai pekerja rumah tangga anak kecil laki-laki atau perempuan. “Kalau hanya pekerja tidak apa-apa. Tetapi, tidak ada kajian lebih lanjut. Kami pernah melakukan investigasi mendalam, 5-6 tahun yang lalu, di rumah-rumah seperti itu dengan menyamar sebagai pembantu, tukang bakso di depan rumah, guru les. Hasilnya, beberapa anak dieksploitasi secara seksual,” ungkap Irwanto.

Internet juga menjadi salah satu sarana yang wajib diwaspadai. “Para wisatawan seks anak menggunakan internet dan teknologi komunikasi lainnya. Mereka melakukan perjalanan tanpa menyebutkan nama sebenarnya,” ungkap Chin. Pernyataan itu diteguhkan hasil riset Marco, bahwa para wisatawan seks itu mencari teman sebaya melalui internet. “Mereka ngobrol melalui internet. Apalagi, anak muda kerap mencari teman melalui internet secara teratur. Biasanya, materi pembicaraan seputar pertemanan atau pengalaman,” papar Marco. Penelitiannya di New Zealand menunjukkan, para wisatawan seks anak adalah orang yang berusia kurang dari 30 tahun, pengguna internet dan layanan chat. Selain itu, internet juga digunakan untuk menyebarkan foto-foto yang melecehkan anak-anak tanpa diketahui korban.

Perjalanan dari satu negara ke negara lain bagi wisatawan seks anak juga kian mudah dengan adanya penawaran penerbangan berbiaya rendah dengan destinasi yang lebih banyak. “Apalagi, ditambah dengan dibukanya destinasi wisata baru,” kata Chin. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 29 Maret 2009


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

memprihatinkan yah , kalo sudah begini siapa yang care sama mereka

Komentar oleh mesin kasir

Sangat memprihatinkan sekaligus juga sangat rumit.
Masalah ini dipengaruhi oleh begitu banyak faktor yang saling kait mengait satu dengan yang lain, sehingga menjadi benang kusut yang butuh usaha besar untuk dirapikan.
Perhatikanlah anak-anak di sekeliling kita, jaga dan lindungi mereka. ^^

Komentar oleh peduli




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: