It’s My Life


Film Itu bukan hanya Bercerita tentang Kekerasan
Maret 30, 2009, 9:35 am
Filed under: Umum

SEPTEMBER 2007, Michael Chick bangun dari tidurnya. Seperti biasa, dia langsung membaca koran hari itu. Tetapi, pagi itu menjadi tidak seperti biasanya ketika dia membaca berita tentang Nurin Jaslin. Nurin adalah seorang bocah perempuan berusia enam tahun yang tewas dibunuh. Badannya dimasukkan dalam tas, ada ketimun dan terung yang dimasukkan dalam vaginanya.

“Peristiwa ini terjadi dalam jarak 1 km dari kantorku. Ini terjadi di Kuala Lumpur, yang disebut kota aman oleh pemerintah Malaysia,” katanya bernada kelu. Hari itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Michael Chick meninggalkan semua pekerjaannya di bidang periklanan yang ditekuninya selama 18 tahun dan bertekad menyuarakan orang-orang yang selama ini tak pernah didengar melalui film yang dibuatnya.

“Saya tidak dibayar untuk membuat film ini dan tidak mendapat komisi dari pemerintah mana pun. Saya hanya ingin dunia yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya,” kata Direktur Eksekutif dan Produser Silicon Films ini. Ia berkeliling ke negara-negara di Asia Tenggara untuk memproduksi film ini. Ada 60 kasus yang sudah direkamnya dalam waktu 1,5 tahun.

“Saya pernah mewawancarai seorang perempuan di Sumatera yang diperdagangkan ke Malaysia. Di Malaysia, dia dipenjara tiga tahun. Selama dipenjara, dia diperkosa dan melahirkan tiga anak. Anaknya langsung diambil segera setelah dilahirkan. Pada saat terakhir di penjara, dia dikeluarkan. Rambutnya dicukur, lalu ia dibuang ke laut. Dia selamatkan nelayan dan dibawa pulang ke Sumatera. Suaminya meninggalkannya. Sekarang, dia hidup dari belas kasihan tetangganya. Itu salah satu kisah dalam film saya,” tuturnya. Ada juga kasus di Jalam Hayam Wuruk Jakarta, prostitusi anak-anak. “Ada 10 anak di sana, tiga di antaranya hamil dan mereka berusia 12 tahun,” imbuhnya.

Film berdurasi dua jam yang itu bukan hanya bercerita tentang kekerasan. Tetapi, juga berkisah tentang isu yang sensitif seperti sunat pada perempuan dan hubungan seksual sedarah. Film ini dibuat bukan untuk menunjukkan Jakarta atau Bali punya kasus seperti itu. Tetapi, film ini ingin menunjukkan bahwa kasus tersebut terjadi di seluruh negara di Asia Tenggara dan sebetulnya, kasus di Asia Tenggara mewakili kasus serupa di belahan dunia lain. “Kasus eksploitasi seksual bisa terjadi di mana saja,” ujarnya.

Pengalaman Fifi

Sejak kelas 2 SMP, Ika Lusi Trifisusanti yang kini duduk di bangku kelas 3 SMA 17 Agustus Surabaya, terlibat dalam pendampingan korban eksploitasi seksual komersial anak melalui Plan International, organisasi nirlaba peduli anak.

Keterlibatan Fifi dalam kegiatan Plan dimulai saat Koaliasi Perempuan Indonesia melakukan pendampingan di Wonokromo, daerah tempat tinggalnya. “Tempat tinggal saya dekat lokasi prostitusi. Kadang, lokasi itu malam-malam digerebek polisi. Kalau sudah begitu, para pekerja seks komersial itu lari ke permukiman penduduk. Tak jarang pula, anak-anak di lingkungan saya diajak menjadi pekerja seks komersial,” ungkapnya.

Menurut duta anak Indonesia dalam Kongres Dunia III Menentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Rio de Janeiro, Brasil tahun lalu ini, isu eksploitasi seksual komersial anak adalah salah satu isu anak-anak yang penting disuarakan. Banyak anak-anak dari daerah terpencil, dikirim ke tempat prostitusi. Ada kasus, seorang anak berusia 13 tahun pekerja kafe di Surabaya yang bergaji Rp 14 ribu per hari. Suatu hari, ada seseorang yang menawarkan bekerja di kafe di Batam dengan gaji Rp 200 ribu per hari. Dia pun tertarik. Oleh orangtuanya yang miskin, ia dinikahkan dengan orang yang dianggap kaya dan memberikan pekerjaan tersebut. Ternyata, saat tiba di Batam, ia dipekerjakan di tempat prostitusi.

“Karena tak mau, dia minta pulang. Eh, dia malah disuruh membayar ongkos perjalanan ke Batam dan baju-baju yang sudah dibelikan untuknya. Kalau tidak bisa membayar, ia tak boleh pulang. Dia dijual suaminya,” kata Fifi. Waktu dia sakit dan tetap harus bekerja, dia memukul pelanggannya. Pelanggannya tidak terima dan dilaporkan ke polisi. Perempuan itu akhirnya dipenjara. “Setelah keluar dari penjara, dia masuk ke tempat prostitusi lagi. Saat stres, dia memakai narkoba. Suatu saat, dia punya ide, menabung hasil kerjanya agar bisa melarikan diri dari tempat itu. Begitu balik ke Surabaya, masyarakat malah melecehkannya. Dia dicap menjijikkan,” lanjutnya.

Kisah lain, teman-teman sebayanya yang melakukan hubungan seksual dengan bebas. Ada seorang teman yang kerap “dipakai” oleh teman-teman sesama SMA. “Waktu saya beri tahu bahwa itu bentuk eksplotasi seksual, dia tak percaya. Dia malah menjawab, wong tinggal tidur bisa dapat uang, apa susahnya. Aku bisa beli ini, beli itu, beli apa pun yang aku inginkan. Apa pengaruhnya. Saya bilang lagi, nanti kamu kena penyakit, dia tertawa. Penyakit apa, kita kan masih muda, begitu katanya,” cerita gadis kelahiran Surabaya, 27 Oktober 1991 itu.

Ketika Fifi mendapat buku tentang penyakit seksual, ia membawanya ke sekolah. Ia tunjukkan kepada teman-temannya. “Saya tunjukkan pada teman saya itu. Dia heran, penyakit apa itu. Saya jelaskan. Dia tak percaya bisa mengalami penyakit seksual kalau berhubungan seks. Akhirnya, setelah dia mendapat informasi yang cukup, dia berhenti melakukan hubungan seksual,” papar Fifi.

Ada juga cerita tentang seorang anak yang dilarang berpacaran oleh orangtuanya. Dia malah hamil dengan pacarnya. Saat tahu dirinya hamil, anak itu bercerita pada Fifi. “Dia mau menggugurkan kandungannya. Dia takut ketahuan orangtuanya dan takut tak bisa ikut ujian. Meski saya larang, ternyata dia tetap menggugurkan kandungannya dengan obat,” kata Fifi.

Menurut Fifi, ada dua kecenderungan anak-anak yang terlibat dalam eksploitasi seksual. “Kalau anak-anak dari kalangan menengah ke atas, mereka sebenarnya punya uang. Tetapi, mereka bilang kurang kasih sayang orangtua. Pernah temanku bilang, masak aku dikasih uang, uang, dan uang aja. Orangtuaku nggak pernah mikir aku perlu kasih sayang juga,” ungkapnya. Kalau menengah ke bawah, anak-anak dieksploitasi karena uang. Ada teman perempuannya yang setelah kematian ibunya dijual bapaknya. Bapaknya penjudi ayam, anaknya dijual kepada teman-teman penjudi ayam itu. Akhirnya, si anak hamil. Dia dikeluarkan dari sekolah dan bapaknya malah memarahinya, mengapa dia bisa hamil.

“Eksploitasi seksual itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Dengan kedok cinta, pacar kita pun bisa melakukan eksploitasi seksual,” katanya mengingatkan. Fifi yang bercita-cita jadi guru SD ini mengatakan, dampak eksploitasi seksual banyak sekali. “Kalau yang menjadi korban pasti trauma. Kita juga bisa mengidap penyakit seksual seperti sifilis dan bisa dikeluarkan dari sekolah,” ujarnya.

Hilangkan Identitas

Menurut Dr. Mutia Prayanti, Sp. OG. Koordinator Pusat Krisis Terpadu RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, faktor yang paling parah akibat eksploitasi seksual komersial anak adalah faktor mental. “Walau tak tampak depresi, rasa itu bisa muncul ketika ia dewasa,” ungkapnya.

Mutia pernah menemukan kasus, seorang anak yang dieksploitasi seksual saat bocah. Ketika itu, dia tak pernah bercerita kepada siapa-siapa. Namun, saat dewasa ia menghilangkan identitas keperempuanannya meski tak ganti kelamin. Payudaranya ditekan agar tak menonjol. Waktu mengikuti wisuda, ia tak mau menggunakan kebaya dan sanggul. Akhirnya dia memakai jas seperti laki-laki. “Kalau korban ditangani segera setelah kasus terungkap, mentalnya bisa normal kembali. Tetapi, perlu waktu yang berbeda-beda tergantung respons korban terhadap kejadian itu. Ada yang bisa normal setelah terapi dua tahun,” kata Mutia.

Yang penting dalam penanganan kasus eksploitasi seksual terhadap anak adalah penanganan psikoterapi, support group. Di pusat krisis yang digawanginya, ada kelompok dukungan agar bisa saling berbagi. Orangtua dan lingkungan sekitar anak juga perlu diberi pemahaman agar tak muncul stigma atas diri korban. “Kami juga melakukan kunjungan ke rumah-rumah agar bisa menatalaksana dengan baik,” katanya.

Masalahnya, meski layanan di pusat krisis digratiskan, korban dari keluarga miskin kerap kesulitan datang. “Mereka perlu uang untuk transportasi. Kalau datang, si anak tak mungkin sendiri. Orangtuanya pasti mengantar. Itu artinya, keluarga itu kehilangan pendapatan hari itu. Akhirnya, tetap saja masyarakat kecil jadi korban,” papar Mutia.

Di sisi lain, menurut Jipy Priscilia dari Plan International, isu eksploitasi seksual komersial anak adalah domain perlindungan anak dan partisipasi anak. “Anak selalu menjadi korban dan seakan-akan anak hanya objek. Plan memunyai sudut pandang lain, anak-anak mampu jadi agen perubahan, jadi subjek yang berperan aktif untuk masalah anak. Karena itu, Plan melibatkan anak-anak sebagai agen perubahan, memfasilitasi mereka sehingga anak-anak bisa mengatakan ‘tidak’ pada eksploitasi seksual komersial anak,” kata Jipy. Plan bekerja sama dengan instansi pemerintah menyediakan layanan Tesa alias Telepon Sahabat Anak dengan nomor 129. “Dengan menekan nomor ini di seluruh Indonesia, anak-anak bisa mendapatkan bantuan yang diperlukan,” kata Jipy. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 29 Maret 2009


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: