It’s My Life


Kemiskinan dan Gaya Hidup Menjadi Pemicunya
Maret 30, 2009, 9:25 am
Filed under: Umum

PEMERINTAH tak memungkiri adanya eksploitasi seks terhadap anak-anak di dunia pariwisata. “Itu memang ada. Mereka datang ke Batam atau Tanjung Pinang Jumat malam atau Sabtu pagi. Ada yang berbelanja, berolahraga, ada juga yang ingin berhubungan seks dengan anak-anak. Di Batam, tumbuh industri seperti itu, demikian juga di Lombok meski di permukaan kelihatan aman-aman saja,” ujar Bakri, Direktur Pemberdayaan Masyarakat, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI di sela-sela Southeast Asia Conference on Child Sex Tourism, di Sanur, 18-20 Maret.

Selain Batam, Tanjung Pinang, dan Lombok, daerah lain yaitu Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Jakarta dan Sumatera Utara dicurigai menjadi tempat eksploitasi seksual komersial anak di dunia pariwisata.

“Ini memang ekses berkembangnya industri pariwisata seperti yang dialami di Thailand, Vietnam, atau Kamboja. Penyebabnya, kurangnya lapangan pekerjaan yang mengakibatkan kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga mereka mudah terkena janji-janji muluk dengan iming-iming gaji besar,” papar Bakri.

“Kemiskinan hanyalah salah satu penyebab,” kata Chin Chanveasna, Executive Director ECPAT Kamboja. Anak-anak memerlukan uang agar bisa sekolah, demikian juga keluarga mereka yang memerlukan uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Para wisatawan seks anak itu menggunakan uang agar bisa mendekati mereka. “Mereka membangun hubungan yang dekat dengan keluarga, membiayai anak-anak itu sekolah, memberi uang kepada keluarganya dan pada beberapa kasus, mereka membelikan tanah dan rumah bagi keluarga tersebut. Para orangtua yang anaknya menjadi korban eksploitasi seksual bahkan tak percaya bahkan orang tersebut menjadi pelaku kejahatan karena sikap baik yang ditunjukkan pada mereka,” jelas Chin.

Prof. Irwanto, Ph.D. Ketua Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak mengatakan, ekonomi dieksploitasi untuk kepentingan orang yang ingin menciptakan akses. “Saya tidak percaya kemiskinan selalu menjadi alasan utama karena saat ini ada hal lain yang harus diperhatikan sebagai pemicunya yaitu gaya hidup,” katanya. Konsumerisme tumbuh di kalangan masyarakat karena tiap saat mereka ditawari berbagai barang konsumtif dengan harga yang relatif kurang terjangkau bagi golongan ekonomi lemah. Tiap saat, anak-anak dihadapkan pada informasi yang penuh kesenangan, kemewahan, dan kebebasan. Jika latar belakang ekonomi keluarga pas-pasan, sangat tidak mungkin mereka dapat berhura-hura seperti anak-anak yang berkecukupan. Akibatnya, mereka mencari jalan pintas untuk dapatkan uang banyak dalam waktu singkat. “Ingin punya handphone, gadget, dsb. adalah bagian motivasi yang bisa disalahgunakan,” kata Irwanto.

Transformasi struktural dalam pertumbuhan ekonomi juga ikut berperan. “Era modernisasi yang berubah menjadi era globalisasi berpengaruh terhadap perempuan dalam memaknai seksualitas dan norma-norma sosial berbasis gender,” kata Kaoru Aoyama dari Kyoto University, Jepang. Menurut Kaoru, untuk mengubah keinginan perempuan terlibat dalam perdagangan seksual adalah tidak hanya mengubah peraturan, tetapi juga mengubah cara yang membuat perekonomian bertumbuh, kultur, relasi gender, hubungan keluarga, kebutuhan akan uang, keinginan untuk tampil trendi, dan kita menjadi bagian di dalamnya.

Peran Pariwisata

Industri pariwisata juga dapat membantu memerangi eksploitasi seksual komersial anak seperti kampanye yang dilakukan grup Accor, “Against Child Sex Abuse”. “Kami memberi pelatihan lebih dari 5.300 staf dan membangun kesadaran pelanggan tentang eksploitasi seksual komersial anak sejak tahun 2004,” kata Ade Noerwenda, Director of Human Resources Accor Indonesia – Malaysia.

Berkat pemahaman yang diberikan kepada staf, dua tahun lalu mereka berhasil mengungkap kasus perdagangan anak yang dilakukan orangtuanya di Jakarta. Tamu hotel tersebut “membeli” keperawanan dengan harga Rp 5 juta dari orangtua si gadis. “Ada trik khusus untuk mengetahui apakah tamu yang check in (lapor masuk) adalah pelaku kejahatan seksual terhadap anak atau bukan,” ujarnya. Misalnya, kalau ada lelaki dewasa yang lapor masuk dengan anak-anak. “Dari bahasa tubuhnya, bisa dicurigai. Begitu juga jika wajah anak tersebut murung terus. Nah, staf kami bisa bertanya, di mana ibunya, bukan langsung menuduh. Kalau bahasa tubuhnya aneh, kami pantau,” paparnya.

Menurut I Gede Ardika, mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, ada nilai-nilai yang diterapkan dalam dunia pariwisata. Dalam selebaran yang dikeluarkan UNWTO (United Nations World Tourism Organizations), disebutkan tanggung jawab turis adalah respek terhadap hak asasi manusia. Eksploitasi dalam bentuk apa pun bertentangan dengan tujuan utama pariwisata. Eksploitasi seksual terhadap anak-anak adalah tindakan kriminal dan karena itu pelaku dapat dihukum di negara tempat terjadinya perkara atau di negara asal pelaku.

Hasil quick survey yang dilakukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 27 Februari s.d. 2 Maret di Bali, Lombok, Batam, Jakarta dengan responden hotel, biro perjalanan wisata, spa, panti pijat dan pemandu wisata menunjukkan, di Bali dan Batam pemerintah lokal tidak pernah mengadakan pelatihan rutin kepada industri pariwisata terkait penghapusan eksploitasi seksual komersial anak, di Jakarta baru 14%, dan di Lombok 38% responden mengatakan pemerintah lokal rutin mengadakan pelatihan tersebut. Tentang penerapan kode etik pariwisata terkait penghapusan eksploitasi seksual komersial anak, di Bali 58%, Batam 100%, Lombok 75%, dan Jakarta 29% responden mengatakan sudah diterapkan. Terkait edukasi kepada staf dan pelanggan tentang penghapusan eksploitasi seksual komersial anak, di Bali 60%, Lombok 50%, Batam 20%, dan Jakarta 14% responden mengatakan sudah diimplementasikan. “Meski edukasi sudah dilakukan tetapi tidak intensif. Hal itu juga belum diterapkan kepada tamu hotel,” ungkap I Gusti Putu Laksaguna, Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Dalam survei itu juga terungkap, industri pariwisata belum sepenuhnya menyebarkan informasi mengenai penghapusan eksploitasi seksual komersial anak kepada masyarakat, yaitu di Batam 100%, di Bali 75%, di Lombok 75%, dan di Jakarta 43%.

Padahal, hal itu sangat penting. Di Kamboja, ada program “Tuk Tuk Campaign Against Child Sex Tourism” yang dimulai tahun 2005. “100 pengemudi tuk tuk menjadi anggota ECPAT perlindungan anak-anak. Mereka dibekali melalui pelatihan mengenai child safe tourism. Tiap enam bulan, ada pelatihan penyegaran untuk memberi informasi terbaru mengenai perkembangan child sex tourism,” jelas Chin. Selain itu, ada juga “Child Safe Network Program” yang diluncurkan tahun 2005 dengan wilayah konsentrasi di Provinsi Phnom Penh, Sihanoukville, Siem Reap and Kg. Cham. “Lebih 1.000 anggota komunitas dilatih. Kami juga meluncurkan child safe hotline dan menyebarkan informasi melalui anggota,” lanjut Chin.

Kampanye Media

Human rights are important to our business, because our business is all about people,” kata Suzy D. Hutomo dari The Body Shop Indonesia. Salah satu pelaksanaan hak asasi manusia yang diterapkan The Body Shop Indonesia adalah melakukan kampanye untuk penegakan hak asasi manusia dan perubahan sosial yang positif dan lingkungan.

Salah satunya, kampanye “Stop Sex Trafficking of Children and Young People” yang akan diluncurkan Agustus tahun ini. “The Body Shop sangat peduli terhadap masalah child sex trafficking karena child sex trafficking terjadi di seluruh negara dan memengaruhi jutaan anak-anak. Meski demikian, isu ini hanya mendapat perhatian yang sangat kecil dari masyarakat,” kata Suzy. Di Indonesia, 30% pekerja seks komersial berusia di bawah 18 tahun dan sebagian mereka berusia 10 tahun. 40 ribu s.d. 70 ribu anak-anak menjadi korban. “Angka ini terus bertambah karena masalah kemiskinan,” katanya mengutip data UNICEF.

Bagi The Body Shop, kampanye yang mereka lakukan adalah untuk menciptakan perubahan sosial dan lingkungan secara terus-menerus; menginspirasi dan menginformasikan konsumen mereka; memengaruhi pembuat kebijakan; dan mendukung pekerjaan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). “Kami yakin, perubahan sikap masyarakat dapat membuat perubahan yang besar,” ujar Suzy.

Hal serupa juga dilakukan MTV dengan melakukan kampanye MTV EXIT (End Exploitation and Trafficking). Alex Heath, Distribution Manager MTV mengatakan, diperkirakan 2,5 juta orang diperdagangkan di seluruh dunia dalam satu waktu. Lebih dari separuhnya berada di Asia dan Pasifik dan lebih dari 40% korbannya adalah perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan secara paksa ke dalam prostitusi. “Korban perdagangan manusia itu mengalami kekerasan seperti pemerkosaan, penyiksaan, aborsi, kelaparan, dan penyiksaan atau pembunuhan anggota keluarga mereka,” kata Alex. Dalam dekade terakhir, perdagangan manusia menjadi salah satu bisnis ilegal yang sangat menguntungkan. Diperkirakan, pendapatan melalui perdagangan manusia mencapai 7 s.d. 13 miliar dolar AS per tahun.

“Remaja, baik laki-laki atau perempuan, mudah menjadi korban perdagangan manusia karena kurangnya pengetahuan dan penipuan,” kata Alex. Karena itu, MTV yang memiliki pasar remaja yang luas, mencapai 300 juta rumah tangga di Asia, berusaha meningkatkan kesadaran dan pencegahan eksplotasi dan perdagangan manusia melalui kampanye MTV EXIT.

Pertama kali, program ini diluncurkan di Eropa tahun 2004 dan meluas ke Asia Pasifik tahun 2007 dengan memanfaatkan kekuatan dan pengaruh musik, film, dan selebritis untuk mengedukasi masyarakat dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang sosio-ekonomi yang berbeda. “Sejak diluncurkan, kampanye ini telah menjangkau dan mengedukasi lebih dari 20 miliar orang,” ungkap Alex. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 29 Maret 2009


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Superb post however , I was wondering if you could write a litte more on this subject?
I’d be very grateful if you could elaborate a little bit more. Thank you!

Komentar oleh Koh Samui Bungee Jump




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: