It’s My Life


Korban Pedofil di Bali sudah Dua Generasi; Berbagai Hambatan Mengungkap Kasus
Maret 30, 2009, 9:30 am
Filed under: Umum

INVESTIGASI yang dilakukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada di Bali tahun 2002 menemukan, korban pedofil di Bali sudah mencapai dua generasi. “Ada orangtua yang pernah menjadi korban pedofil dan ketika menikah dan memiliki anak, anaknya pun menjadi korban pedofil,” ujar peneliti PSKK UGM yang tak mau disebutkan namanya.

“Sebenarnya, kasus pedofil sudah ada sejak 1996,” ungkap Sang Ayu Alit S., S.H., M.M. Kepala Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polda Bali. Waktu itu, Tony Brown masuk ke Indonesia dan menetap di Lombok. Tetapi, kasus itu baru terungkap di Bali tahun 2004 karena sulit dibuktikan. Dari kasus tersebut, diketahui Tony Brown merupakan jaringan pedofil internasional. Dia melakukan perjalanan di daerah rawan eksploitasi seksual komersial anak seperti Vietnam, Kamboja, Meksiko. Dia juga pernah bertempat tinggal di Medan, Bogor, dan Tegal.

Ada juga kasus yang menghebohkan masyarakat, eksploitasi seksual terhadap pedagang acung anak-anak di Kuta. Kasus ini mengalami hambatan dalam penyidikan karena anak-anak itu tidak mengetahui pelakunya. Saat dieksploitasi secara seksual, mereka dalam keadaan tidak sadar dan sesudah itu ditelantarkan di jalanan.

“Kasus eksploitasi seksual komersial anak telah kami tangani sejak tahun 2001. Waktu itu pelakunya warga negara Italia, dengan korban sembilan anak dan dihukum 10 tahun penjara,” kisah Sang Ayu Alit. Tahun 2005, Polda Bali menyibak kasus pedofil warga negara Prancis di Karangasem. Kejadiannya tahun 2003. Sayangnya, saat di pengadilan, ada hambatan. Korban tertekan, pengakuannya berubah. Yang digunakan hakim juga hanya pasal dalam KUHP bukan UU Perlindungan Anak. Akhirnya, dia divonis 2 tahun 6 bulan. Tetapi, karena Prancis menerapkan hukum ekstrateritorial, maka setelah tiba di Prancis, dia dihukum lagi. Pada tahun yang sama, terjadi kasus di Buleleng. Pelakunya warga negara Belanda yang berpura-pura menjadi pelatih sepak bola. Dia dihukum lima tahun penjara dan denda Rp 60 juta.

Tahun 2007, pedofil berwarga negara Jerman ditangkap di Serangan, Denpasar Selatan. Korbannya 11 anak. Dalam komputer dan kameranya ditemukan adegan dia mengonani anak-anak. Ada juga foto anak-anak untuk dijual kembali ke rekan-rekannya. Ada juga warga Belanda dengan korban dua orang dan warga Italia di Denpasar Selatan. “Orang Italia ini melarikan diri ketika mengetahui dirinya menjadi buronan seperti diberitakan di media massa. Wartawan kurang sabar, kami masih sembunyikan tetapi sudah diberitakan. Pelaku masih di Surabaya, langsung kabur tidak ke Bali lagi padahal polisi nyanggong di Bali. Pelaku utama tidak didapatkan tetapi pelaku perantara sudah diproses hukum. Sampai saat ini, dia masih buronan dan belum kembali ke Italia,” tutur Sang Ayu Alit.

Tahun 2008, kasus pedofil Australia, terjadi di Buleleng. “Kami juga bekerja sama dengan interpol. Ada warga Australia dengan lima paspor yang berbeda masuk ke Bali, akhirnya kami cari,” lanjutnya. Tahun lalu juga ada warga negara Swiss yang melakukan eksploitasi seksual komersial anak di Prancis. Dia melarikan diri ke Kamboja, Thailand, dan Bali. Akhirnya, dia diekstradisi. “Orang Swiss ini menyimpan 3.000 foto porno anak-anak. Anak-anak yang difoto sebagian anak Thailand dan Bali,” katanya.

Menurut Sang Ayu, cara pelaku mendekati korban bermacam-macam, yaitu menjadi orangtua asuh korban, membantu ekonomi keluarga korban, membantu perlengkapan olahraga, menyiapkan mainan anak-anak, memberikan hadiah berupa uang dan barang kepada korban, membantu masyarakat perdesaan yang miskin dan menjadi donatur panti.

Biasanya, cara pelaku melakukan eksploitasi seksual terhadap korbannya adalah dengan menyuruh korban mengonani kemaluan pelaku dan sebaliknya, melakukan sodomi dan oralseks. Mereka juga mengoleksi pornografi anak/korban, merekam adegan pornografi anak, dan memutarkan film porno kepada korban.

Dalam pengungkapan kasus, hambatan yang terjadi adalah korban tidak mau memberikan keterangan secara terus terang karena takut diejek teman-temannya. “Kita harus menyosialisasikan kepada masyarakat agar tidak mengucilkan korban supaya tidak ada korban berikutnya,” ajak Sang Ayu Alit. Hambatan lain, keengganan masyarakat untuk melapor. “Pelaku sering memberi bantuan. Walaupun mereka curiga, tetapi jadi tak berdaya karena merasa berutang budi,” imbuhnya.

Kurangnya pemahaman masyarakat termasuk di lingkungan pariwisata juga menjadi salah satu hambatan. Seorang turis pernah ditangkap di bandara Sydney, Australia. “Turis itu baru saja tiba dari Bali. Dia kedapatan membawa foto-foto anak-anak telanjang. Saat dilacak, diketahui sebagian foto tersebut foto anak dan cucu seorang pemandu wisata di Bali. Si pemandu wisata tersebut tidak tahu jika tamunya adalah seorang pedofil. Karena bersikap ramah, si bule diajak ke kampungnya. Saat memotret, tak ada yang curiga. Ternyata, yang difoto di bagian alat kelamin saja,” kisahnya. “Yang sudah biasa bergaul dengan bule saja tidak paham mengenai masalah ini,” sambungnya. Masyarakat kurang waspada karena masih menganggap orang asing adalah tamu yang harus dihormati dan dianggap semuanya orang baik. Masyarakat kita bangga kalau anaknya bisa berbicara dengan orang asing dan dibiarkan tanpa pengawasan. Ini membahayakan.

Hambatan lain, kasus terlambat dilaporkan dan belum adanya persamaan persepsi aparat penegak hukum. “Kami berjuang agar bisa menegakkan UU Perlindungan Anak, masih ada jaksa yang menyatakan harus ada saksi yang melihat,” katanya. Dalam pengungkapan kasus, birokrasi juga bikin ruwet. Misalnya, perlu informasi penyelidikan. “Untuk mendapatkan kartu penumpang dari kantor imigrasi susah sekali, apalagi data yang sudah berbulan-bulan. Sekarang kami dapat informasi ada pedofil yang masuk ke Bali lima bulan lalu, cari data di kantor imigrasi sulit. Sekarang, komputer di kantor imigrasi rusak dan itu dibiarkan dengan alasan anggaran belum turun. Jawaban atas surat yang dilayangkan juga perlu waktu berbulan-bulan. Ada juga hotel yang tidak melaporkan tamunya. Padahal, informasi kepolisian Australia menyebut, tamu itu berangkat tanggal sekian ke Bali tetapi sampai di sini malah susah dilacak,” katanya.

Dalam hal penanganan kasus, Polda Bali bekerja sama perwakilan kepolisian Australia di Bali dan interpol. “Mereka menginformasikan orang-orang yang terdeteksi sebagai pedofil di negaranya. Kalau berisiko tinggi, kami lakukan pembuntutan. Kalau berisiko sedang sampai rendah, cukup pengawasan. Kami juga melakukan penolakan kalau diketahui tiba di Bali dengan alasan mereka bukan orang yang dikehendaki datang ke Indonesia karena memiliki catatan hukum yang buruk di negaranya,” katanya menjelaskan. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 29 Maret 2009


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: