It’s My Life


Eklampsia Diawali Kegagalan Ari-ari
April 24, 2009, 5:26 pm
Filed under: Kesehatan, Umum

EKLAMPSIA yang dialami Mercya sangat parah. Mercya buta selama 12 jam dan tak sadarkan diri selama tiga hari. “Mercya sangat beruntung karena dia bisa ditangani dengan cepat,” ujar dr. Hariyasa Sanjaya, Sp. OG., dokter yang merawat Mercya.

Menurut dr. Hariyasa, eklampsia adalah komplikasi kehamilan. Tidak ada kehamilan tanpa risiko. Pembagiannya, risiko rendah dan risiko tinggi. Eklampsia merupakan komplikasi yang berat dan mengancam nyawa seseorang. Tanda-tanda serangan eklampsia ada tapi perubahannya sangat cepat dan ditandai dengan adanya kejang. “Sebelum kejang, ada tanda. Misalnya, ketegangan di daerah otot muka. Tetapi, itu terjadi sekian detik sebelum kejang yang sifatnya kaku dan lemas, seperti yang dialami Mercya,” papar dr. Hariyasa.

Sebagian besar eklampsia adalah lanjutan perburukan, ada yang berat, ada juga yang ringan. Eklampsia merupakan kumpulan gejala, yang utama tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urin. Pada eklampsia ringan, tekanan darah 140/90 s.d. < 160/110 dan kadar protein semikuantitatif positif 2; eklampsia berat, tekanan darah > 160/110 dan kadar protein semikuantitatif lebih dari positif 2. “Lebih dari positif dua berarti kebocoran protein lebih banyak dan itu menunjukkan tingkat kebocoran ginjal lebih parah dibandingkan eklampsia ringan,” ujar dr. Hariyasa.

Dalam kondisi normal, tidak ada protein dalam urin. Ginjal yang normal seperti penyaring dengan lubang berukuran kecil. “Yang keluar dari ginjal ukurannya pun kecil-kecil. Nah, kalau protein, ukurannya besar. Seperti kita menyaring saat memasak, yang tertinggal di penyaring adalah bahan makanan yang berukuran besar, yang lewat berukuran lebih kecil daripada jaring. Pada orang yang mengalami preeklampsia atau eklampsia, terjadi kebocoran pada pembuluh darah ginjal. Ginjalnya berlubang, melebar karena mengalami kerusakan,” papar dr. Hariyasa.

Eklampsia selalu terjadi pada ibu hamil. Kalau terjadi darah tinggi di luar kehamilan, bukan disebut eklampsia tapi hipertensi atau penyakit lain seperti nefrotik syndrom. “Karena, penyebab eklampsia adalah kehamilan itu sendiri,” ungkapnya. Jika ibu hamil mengalami darah tinggi sebelum umur kehamilan 20 minggu disebut hipertensi dan kemungkinan ia menderita hipertensi sebelum hamil. Tetapi, kalau mengalami darah tinggi pada usia kehamilan minimal 20 minggu atau lebih, kemungkinan eklampsia,” lanjutnya.

Kehamilan itu mengandung protein suami dari sperma. Sperma membawa satu unit pesan genetik, kromosom, yang menyatu dengan kromosom ibu. Janin yang dikandung merupakan pertemuan protein ibu dan ayah. Protein ayah yang masuk lewat spermatozoa merupakan benda asing sehingga pada kasus eklampsia, protein ayah dianggap suatu benda asing yang harus dilawan. “Ini dasar teori tentang imun. Tetapi, sampai hari ini, para ahli belum mampu menjawab, mengapa tidak semua orang mengalami eklampsia? Malah disebutkan, kejadian preeklampsia kurang dari 1% ibu hamil. Di Indonesia, 4%,” kata dr. Hariyasa.

Ada teori yang mengatakan, eklampsia disebabkan karena kekurangan nutrisi. Pada kelompok ibu-ibu yang mengalami kekurangan nutrisi, kasus meningkat lebih tinggi. Tetapi lagi-lagi, tidak semua ibu yang kekurangan nutrisi mengalami eklampsia. Bahkan, ada juga ibu-ibu dengan asupan nutrisi memadai, namun mengalami eklampsia.

Kasus eklampsia juga banyak terjadi pada ibu-ibu dengan kehamilan pertama dibandingkan ibu pada kehamilan kedua atau ketiga. Hal itu diduga karena pengaruh sperma. “Masalahnya, sperma dianggap benda asing. Sistem imun ibu bekerja untuk melawannya,” kata dr. Hariyasa. Karena itu, dianjurkan pada pasangan yang baru menikah menunda kehamilan enam bulan atau satu tahun agar tubuh ibu mengenal sperma ayah. “Selain itu kan ada manfaat lain, bisa saling mengenal kepribadian, membangun kebersamaan, dan mempersiapkan finansial keluarga yang baik lebih dulu,” ajaknya.

Selain itu, banyak kasus preeklampsia terjadi pada wanita berusia muda dan hamil pada usia terlalu tua. Misalnya, hamil di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun. Pada usai muda, sistem imun tubuh belum bagus, sedangkan pada usia terlalu tua, penyakit mulai muncul seperti pembuluh darah mulai menyempit, kelainan metabolik, diabetes, gangguan ginjal, hipertensi. “Ini menyebabkan risiko pada ibu dan janin. Eklampsia sangat membahayakan,” katanya mengingatkan.

Teori lain mengenai penyebab terjadinya eklampsia ini diawali kegagalan ari-ari. Proses pertemuan ibu dan bayi di plasenta yang menempel di rahim ibu. Plasenta itu memiliki akar-akar; ada yang baik dan busuk. Akar busuk akan mengeluarkan zat seperti racun. Racun ini akan dicoba dihancurkan oleh sistem imun ibu yang akhirnya menciptakan kerusakan pada dinding pembuluh darah.

“Teori paling populer, kekurangan oksigen di plasenta. Sebagian akar-akar plasenta mati akibat kekurangan oksigen karena gagal mencapai pembuluh darah yang ada di rahim ibu,” kata dr. Hariyasa menjelaskan. “Kematian akar plasenta menciptakan racun. Jadi kayak perang dengan zat imun. Pembuluh darah di seluruh tubuh bisa bocor dan bisa beredar sampai ke otak,” katanya menjelaskan. Pembuluh darah di otak berlubang sehingga keluar cairan yang berada di sekitar jaringan sel otak dan membuat jaringan otak tertekan. “Sel-sel otak terkena. Aliran darah terganggu, bengkak, terjadi eklampsia dan kebutaan sesaat. Mercya mengalami kebutaan 12 jam. Paling lama, buta dua 2-3 hari. Pembuluh darah memperbaiki sendiri itu dengan menyerap kembali cairan pembuluh darah di otak dan kondisi jadi normal.

Karena penyebab eklampsia adalah kehamilan itu sendiri, melahirkan bayi jadi solusi untuk menghindari perburukan. “Kalau bayi belum cukup umur, jadi masalah. Kami harus memilih ibu atau bayi. Kita tidak bisa memilih bayi kalau ibu tak selamat. Tetapi kalau preeklampsia ringan, bisa dirawat agar tensi tidak naik,” ujarnya.

Pada kasus eklampsia ringan, penderita diberi obat antihipertensi. Tekanan darah diturunkan secara bertahap. Sirkulasi bayi juga diperhatikan. Selain itu, juga diberi obat untuk mencegah kejang. Bayi yang dilahirkan harus dengan kualitas sebaik mungkin, yaitu mencapai kehamilan minimal 37 minggu. “Kalau melahirkan prematur, risiko kematian bayi makin tinggi. Waktu melahirkan ditentukan kondisi ibu. Kalau tekanan darah membaik, tanda klinis yang lain seperti potein berkurang, fungsi organ seperti hati, ginjal, yang lain baik, tidak ada gangguan pernapasan, dan tingkat kesadaran baik, bayi bisa dilahirkan. “Jika ada tanda-tanda perburukan, kami pasti memilih mempertahankan ibu,” ucapnya.

Menurut dr. Hariyasa, seperti yang dialami Mercya, eklampsia bisa terjadi setelah bayi lahir. Penyebabnya sama. “Karena ada orang dengan tingkat kerusakan muncul di awal atau belakangan, tergantung individunya. Seperti orang kena virus demam berdarah, sama-sama diserang pada waktu yang sama, tapi muncul sakitnya berbeda-beda,” katanya.

Eklampsia bisa dicegah. Peluang terjadinya eklampsia meningkat pada orang yang memunyai kelainan pembuluh darah menetap, punya penyakit hipertensi kronis, penyakit diabetes, kelainan pada ginjal, penyakit trombopili, atau pada kehamilan kembar dan kehamilan anggur. “Karena ari-ari pada bayi kembar akan lebih besar daripada kehamilan tunggal. Makin besar plasenta, makin besar peluang akar-akar plasenta rusak,” katanya.

Meski demikian, pasien yang tidak memunyai riwayat ini juga bisa mengalami eklampsia. “Kita tak pernah tahu seseorang mengalami suatu kelainan atau tidak jika mereka tidak pernah memeriksakan diri sebelumnya. Yang penting, siapkan kondisi ibu baik fisik, mental, sosial dan ekonomi, edukasi yang baik, pengetahuan yang cukup sehingga melalui kehamilan dengan baik,” katanya menganjurkan. Jika mengalami eklampsia, segera ditangani dengan benar agar dapat memberikan proses penyembuhan yang lebih baik. – rat


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saya pernah dengar dari teman yang sekolah di kebidanan bahwa “berhubungan” pada saat istri sedang menstruasi menyebabkan sperma menjadi benda asing dan tubuh si ibu membentuk antibodi untuk “memerangi” sperma tsb, shg tidak terjadi kehamilan dan bahkan bisa terjadi kemandulan. apakah sperma yang diperangi ini berpotensi untuk menjadi yang disebutkan dalam artikel di atas? terima kasih atas penjelasannya

Komentar oleh Yulsika

selalu terjadi hal yang sama..membaca dan mencari di internet tentang artikel eklamsia setelah mengalami sendiri..merupakan pengalaman yang mengerikan..skaran ganak harus di rawat di NICU dengan waktu tak menentu..untung si Ibu selamat..segeralah ibu-ibu hamil yang menyadari gejala kaki bengkak untuk segera mungkin melahirkan secara caesar..sebelum kejang eklamsia menimpa anda..fatal bagi anak dan si ibu..(istri dan anakku semoga kalian segera sembuh)hiks

Komentar oleh kadek juni




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: