It’s My Life


Tuhan, Aku tidak bisa Melihat
April 24, 2009, 5:23 pm
Filed under: Kesehatan, Umum

KELAHIRAN anak kedua Mercya Soesanto dan Adriaan Evers, adalah momen antara kesedihan dan kebahagiaan bagi mereka. “Batas antara kesedihan dan kebahagiaan itu ibarat sehelai rambut yang terbelah menjadi 12,” kata Mercya. Tiga hari sesudah melahirkan menjadi masa yang tak akan pernah dilupakan Mercya dan keluarga. Berikut penuturan Mercya, dalam gaya ‘aku’.

Kelahiran anakku yang kedua adalah perjalanan yang sangat luar biasa. Aku hamil lagi setelah 10 tahun kelahiran Jasmine Adriana Maharani Evers atau yang lebih sering kami panggil Jazzy Jazz, anak pertamaku. Aku merasakan seperti layaknya seorang perempuan yang sedang hamil untuk kali pertama. Tentu saja, aku bahagia dan penuh sukacita. Perjalanan kehamilanku dari bulan pertama sampai terakhir berlangsung sangat baik. Beberapa tes yang harus aku lalui atas anjuran dr. Hariyasa Sanjaya, dokter kandungan dan kebidananku, hasilnya juga baik-baik saja. Kehamilanku juga tidak mengganggu pelaksanaan tugas yang aku jalankan sehari-hari di Komisi Penanggulangan AIDS Bali. Saat kehamilan trisemester pertama, aku bahkan harus berkeliling Bali menjalankan tugas advokasi mengenai HIV dan AIDS. Belum lagi dengan aktivitasku yang lain. Pendeknya, walaupun sarat dengan berbagai kesibukan dan aktivitas, aku benar-benar menikmati kehamilanku.

6 Oktober 2008. Ini kunjunganku terakhir kali ke dr. Hariyasa sebelum melahirkan. Saat diperiksa melalui USG, berat bayi menunjukkan 4.1 kg. Kami berdiskusi, mempertimbangkan perkembangan terakhir dan akhirnya memutuskan, aku melahirkan dengan operasi caesar.

7 Oktober menjadi hari yang sangat bersejarah bagiku. Kondisi lahir dan batin aku siapkan untuk melewati momen yang sangat ajaib bagiku. Aku percaya, kehamilan dan kelahiran adalah mukjizat terbesar dalam tangan semesta. Perasaan khawatir, tegang sudah pasti ada karena segala sesuatu bisa saja terjadi di luar perkiraan manusia. Namun, aku tahu di ujung sana ada kesukacitaan yang menanti, jadi aku kuatkan diriku bahwa semuanya akan berlangsung dengan baik.

Puji Tuhan, anakku lahir dengan selamat, seorang bayi laki-laki. Nama lama yang aku simpan 10 tahun lalu kini menjadi nyata. Welcome to the world my dear son, John Agung Galendra Evers. Kami memanggilnya Ian, yang dalam bahasa Caltic artinya adalah anugerah terbesar dari Tuhan. Dia sehat, tampan, lucu dan menggemaskan.

10 Oktober. Sejak semalam aku merasakan punggungku sakit, seperti pegal-pegal. Aku pikir, mungkin karena terlalu banyak berbaring pasca-operasi. Sempat juga terbersit, apakah karena pengaruh anastesi? Aku oleskan balsam dan sedikit memijat, namun tidak juga berkurang. Malam hari, aku sempat merasakan betapa susahnya menggerakkan tubuhku. Seperti kaku namun tak berdaya. Aku juga muntah-muntah.

Keesokan hari, aku terbangun pukul 03.00. Kepalaku sangat berat, aku merasakan sakit kepala tepat di ubun-ubun kepalaku. Sakitnya luar biasa, aku sampai tidak tahan. Aku tidak bisa tidur lagi.

Pukul 06.30, karena sudah tidak kuat aku menelepon dr. Hariyasa, menyampaikan keluhan yang terjadi. Aku merencanakan menemuinya pagi itu. Perubahan selanjutnya terjadi begitu cepat. Dalam dua jam berikutnya, aku kehilangan penglihatanku. Tiba-tiba pandanganku gelap, yang kulihat hanya bayangan seperti bintang-bintang bertaburan namun tidak nyata. Kutolehkan arah pandanganku ke kiri dan ke kanan, tapi tak ada yang berubah. Kuputar badanku ke belakang berharap bahwa aku akan melihat. Tidak juga. Aku nyaris panik, namun aku tetap berusaha mengontrol diriku untuk tidak berteriak histeris. Tuhan, aku tidak bisa melihat.

Aku berpikir cepat. Aku meminta ibu agar menyodorkan telepon genggamku. Aku memintanya memencet nomor telepon dr. Hariyasa. Dok, sekarang aku tidak bisa melihat, kataku. “Sekarang juga Mercya harus ke rumah sakit,” begitu katanya. Itu percakapan terakhirku dengan dokterku.

Uh, sial. Mobil sedang dipakai. Supirku juga sedang tak berada di rumah. Kondisiku yang memerlukan penanganan segera membuat ibuku makin panik. Tenang, tenang, tenang. Itu yang harus kulakukan, juga ibuku yang menemaniku. Syukur, tetangga depan rumahku belum berangkat ke kantor. Kami diperkenankan menggunakan mobilnya ke rumah sakit.

Aku tak tahu bagaimana paniknya mereka. Mataku sudah tak bisa melihat lagi. Aku benar-benar buta. Kata ibuku, dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku mengalami kejang-kejang. Bisa dibayangkan betapa panik ibu dan adikku yang mengantarkanku. Jari-jari tangan adikku harus direlakannya berdarah-darah karena dimasukkan ke mulutku supaya lidahku tidak tergigit saat aku kejang. Sampai di rumah sakit, aku mengalami kejang yang kedua kalinya. Dengan bantuan para dokter dan paramedis, aku dibawa ke ruang ICU. Aku sudah tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya gelap dan sunyi.

Pukul 22.10 aku tersadar. Aku mencoba membuka mataku. Perlahan namun pasti, aku melihat cahaya, aku mendengar suara “bip..bip…” Aku melihat tubuhku tergeletak dengan selang infus, kateter, pengontrol jantung, dan selang bantuan oksigen di hidungku. Aku bisa melihat lagi. Syukur kepada Allah. Kebahagiaan yang sungguh tak terkira. Ingin rasanya aku berteriak menggambarkan sukacitaku yang luar biasa.

Aku berada di ruang ICU selama tiga hari. Semuanya dipantau dengan cermat oleh tim dokter dan paramedis. Sakit kepalaku masih juga bertahan tak mau pergi, sementara rasa sakit di punggungku sudah berangsur-angsur menghilang. Semesta raya memberikan kehidupan kedua bagiku. Kuyakinkan pada diriku bahwa aku bisa bangkit lagi dan menjalani kehidupanku dengan jauh lebih baik.

Aku akhirnya menjalani perawatan selama seminggu di rumah sakit. Hal-hal yang aku alami sebelumnya ternyata adalah gejala eklampsia, dipicu dengan naiknya tekanan darah. Namun yang aku alami adalah kasus yang amat jarang terjadi, eklampsia yang terjadi setelah melahirkan. Walaupun kasus ini jarang tetapi dapat membawa kematian. Hal yang nyaris terjadi dalam hidupku.

Sejak mengalami eklampsia, aku sering berbagi pengalaman dengan banyak orang. Aku berpikir, pengalaman hidupku dapat menjadi cermin untuk siapa pun sehingga tidak perlu mengalami hal seperti yang aku alami. Hidup dan mati memang berada di tangan semesta. Tetapi jika kita masih boleh melalui hidup hari ini, bukankah itu anugerah yang sangat luar biasa? Eklampsia membawaku memaknai anugerah semesta tentang kehidupan manusia. – rat


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Mbak Ratna, ini Mbak Mercya Evers yang dulu MarCom-nya Hard Rock kan? I met her years ago, she was a very nice person! I’m so touched to read this story. I didn’t know that she went through this… U must be in touch with her pretty often, please tell her I say hi. Maybe she still remember me? Melati, waktu itu saya kerja sbg reporter di kuta news. She invited me to have lunch at her house in Renon at that time.
Thks,
Melati

Komentar oleh Melati

Iya, ini Mbak Mercya Evers. Nanti aku sampaikan.

Komentar oleh Ratna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: