It’s My Life


Tak Diizinkan Bertemu Ibu yang Terinfeksi HIV
Mei 24, 2009, 6:50 am
Filed under: Kesehatan, Umum | Tag:

Usianya kini baru tiga tahun. Jika Putu boleh meminta, ia tentu tak mau mendapat “warisan” Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari ayahnya yang meninggal setahun lalu.

Sebelum meninggal, Made, ayah Putu sakit-sakitan. Ia terserang TBC. Made tak memedulikannya karena tak punya uang cukup untuk berobat. Jika ada sedikit uang, ia datang ke puskesmas. Suatu saat, oleh dokter yang memeriksanya, Made dirujuk ke RS Sanglah. Namun, Made menolak. Alasannya klasik, ia tak punya cukup uang. Akan lebih baik jika ia membiarkan penyakit itu berdiam di tubuhnya, berharap sembuh sendiri.

Dokter di puskesmas yang mengetahui kondisinya, berusaha mengajaknya ke rumah sakit. “Dokter itu datang ke rumah bersama tujuh orang lain. Ada perawat, ada dokter. Keluarga kami dikumpulkan. Ia mengatakan, ini penyakit yang membahayakan. Suamiku terpapar HIV/AIDS. Kami terkejut luar biasa,” ujar Kadek, istri Made.

Dua hari kemudian, Made meninggal. Sejak itu, Putu tak lagi bisa menikmati indahnya dunia kanak-kanak. Dunia yang bersahabat tercerabut dari hidup Putu dan Kadek, seketika. “Jika sebelumnya Putu disayang oleh keluarga suamiku, sekarang tidak lagi,” tutur Kadek. Meski tak mengetahui hasil tes darah Putu dan Kadek, keluarga mereka langsung berprasangka, keduanya pun telah terpapar HIV.

“Kami dikucilkan,” kata Kadek lesu. Saudara sepupu Putu tak lagi boleh berdekatan dengannya. Kalau Putu memegang mainannya, langsung disuruh ambil saja, tak perlu dikembalikan. Mereka juga tak boleh menggunakan piring atau gelas di rumah keluarga itu. “Kami disediakan air mineral dalam kemasan plastik sekali pakai,” ungkap Kadek.

Jika Putu dan Kadek ditawari makan dan menerimanya, tak akan ada anggota keluarga yang lain mau makan. Begitu pula saat mereka mandi. “Kami tak boleh memakai kamar mandi yang ada di rumah. Kalau ketahuan pakai kamar mandi di rumah, mereka segera membersihkan kamar mandi,” lanjutnya. Putu dan Kadek harus rela berjalan kaki sejauh 1,5 Km untuk mencapai pancuran agar bisa mandi dengan nyaman.

Putu pun harus rela ketika kakek dan neneknya tak lagi mau menyentuhnya. “Semua orang takut tertular. Kami seperti orang asing di keluarga sendiri,” keluh Kadek. Mereka diminta keluar dari rumah itu, dikembalikan ke orangtua Kadek. “Anak saya belum mapamit di pura keluarga suami. Walau tak ada warisan, sebagai anak laki-laki, dia masih punya hak di sana,” imbuhnya.

Kembali ke rumah orangtua Kadek tak berarti menyelesaikan masalah begitu saja. “Keluarga besar orangtua tahu kondisi saya. Mereka pun mulai bersikap beda. Mereka tak lagi berkunjung jika tak ada upacara yang harus dilakukan di rumah. Kalau datang, mereka tak lagi mau minum kopi atau teh yang disuguhkan. Keakraban itu menghilang begitu saja,” kisah Kadek.

Satu Keluarga

Pengalaman Putu dan Kadek di Tabanan terjadi juga di Klungkung. Putri, aktivis yang peduli terhadap permasalahan HIV/AIDS mendampingi kliennya yang mengalami kejadian seperti itu. “Ada satu keluarga dengan tiga anak. Dalam keluarga itu, hanya satu anak yang tidak terpapar HIV. Saat ayahnya meninggal, mereka diminta tidak bertempat tinggal di rumah itu lagi. Oleh mertuanya, dua anak yang positif terinfeksi HIV disuruh ikut ibunya yang juga terinfeksi HIV. Satu anak yang sehat, tidak boleh berkumpul dengan ibu dan saudara-saudaranya. Ia bahkan tak diizinkan bertemu ibu karena ibunya terinfeksi HIV,” ungkap Putri.

Menurut Putri, banyak orang yang takut tertular karena minim informasi mengenai HIV/AIDS. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang didampinginya, rata-rata tidak terbuka kepada keluarga. “Paling-paling mereka membuka status pada suami atau istri. Kalau membuka status lalu dibantu masyarakat, bagus. Tetapi kalau yang terjadi sebaliknya, apa jadinya? Itu sebabnya, mereka lebih memilih tertutup,” ungkap Putri.

Risiko membuka status terpapar HIV memunyai dua risiko, dilabel negatif atau dibantu. “Masalahnya, kadang orang mengerti tentang HIV/AIDS tapi belum tentu berempati,” lanjutnya. Beberapa bulan yang lalu, ada ODHA meninggal. Mayatnya tak diurus keluarga. Ada juga ODHA yang meninggal tak boleh diaben karena masyarakat takut asapnya mengandung virus HIV. Padahal, sejatinya HIV hanya bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu.

“Yang kita perlukan sekarang adalah menumbuhkan empati. Kalau sekarang kasus HIV/AIDS dialami orang lain, bisa jadi besok terjadi pada diri kita sendiri atau keluarga kita,” kata Putri. Di Bali, prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk per 31 Desember 2008 mencapai 33.75, berada di peringkat kedua setelah Papua. Kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Bali hingga 28 Februari 2009 tercatat 2.666 kejadian. 1.284 kasus terjadi di Denpasar, 520 kasus terjadi di Buleleng, dan 477 kasus terjadi di Badung. Di seluruh kabupaten/kota di Bali telah ditemukan kasus HIV/AIDS. Dari seluruh kejadian, 63% kasus HIV/AIDS dari kelompok risiko heteroseksual dan 26% dari pengguna jarum suntik (narkoba). 49% dari mereka berasal dari golongan usia 20-29 tahun; 35% dari golongan usia 30-39 tahun, dan 9% dari golongan usia 40-49 tahun. “Ironisnya, 2% dari mereka adalah remaja berusia 15-19 tahun dan hampir 3% adalah anak-anak berusia hingga 14 tahun,” kata Mercya Soetanto, Media Relations Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali. “Saya yakin kasus HIV/AIDS akan kian meningkat. Tiap bulan, saya selalu menemui enam ODHA baru. Itu baru saya saja, belum pendamping yang lain,” susul Putri. Buruknya, mereka baru ketahuan terpapar HIV/AIDS setelah dalam kondisi sakit-sakitan seperti TBC, diare kronis, penurunan berat badan drastis, atau jamur di mulut. “Orang Bali bilang, mereka terkena black magic, padahal terpapar HIV/AIDS. Sialnya, pemerintah daerah sepertinya kurang peduli terhadap permasalahan ini,” keluh Putri.

Belajar dari Buleleng

Masyarakat di Pemuteran, Gerokgak, Buleleng bisa menjadi contoh pemelajaran adanya kasus HIV/AIDS. Ni Nyoman Renti dan Putu Suastika adalah salah satu pasutri yang terpapar HIV/AIDS di daerah itu. “Kalau saya tidak sakit-sakitan, saya mungkin tidak tahu kalau terkena HIV/AIDS,” ujar Renti.

Sejak dinyatakan HIV positif, keluarga dan tetangganya resah. Apalagi, ada juga saudara sepupunya yang meninggal dan disebut-sebut karena AIDS. Kabarnya, dia terpapar HIV. “Kami tidak tahu HIV/AIDS itu seperti apa, kami jadi takut,” ujar Nyoman Tika, kemenakan Renti. Ketakutan itu kian parah ketika ternyata, suami Renti, Suastika juga terpapar HIV.

Kondisi seperti itu membuat keluarga dan tetangga membuat jarak dengan mereka. Sampai akhirnya, ada sosialisasi mengenai HIV/AIDS yang berulang kali dilakukan Yayasan Citra Usada Indonesia di sana. “Kalau tidak ada sosialisasi, kami tak akan pernah tahu tentang HIV/AIDS,” kata Tika. Tika kini tahu, HIV tidak menular melalui interaksi dalam pergaulan sehari-hari meskipun berdekatan dengan orang yang sudah terinfeksi HIV karena HIV bukan virus yang menular seperti virus flu atau kuman penyakit kulit. Renti dan Suastika pun bisa hidup bermasyarakat seperti ketika belum terinfeksi HIV. “Keinginan saya sekarang, jangan sampai ada orang lain lagi yang tertular HIV seperti saya. Biarlah, cukup saya saja yang terinfeksi,” harap Renti. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 24 Mei 2009


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: