It’s My Life


“Jaminan Kepastian” di Tengah Ketidakpastian
Mei 31, 2009, 1:51 pm
Filed under: Umum

Sebulan sebelum kematiannya, aku bertemu dengannya. Pak Jagat, begitu aku memanggilnya. Dia adalah klienku saat aku bekerja di perusahaan asuransi di divisi bancassurance. Pertemuan kami kali itu, lagi-lagi untuk membicarakan program asuransi untuknya.

Pagi itu ia menunjukkan selembar kertas catatannya. Ada daftar asuransi yang diikutinya plus daftar rekening di bank yang dimilikinya. Seingatku, ada 10 polis asuransi dengan tertanggung dirinya. Ditunjukkannya pula polis-polis itu.

“Bagaimana dengan asuransi yang dulu Bapak ikuti melalui saya? Masih lancar kan pendebetannya?” tanyaku. Ketika mengikuti program bancassurance tersebut, ia menggunakan sistem debet rekening bank.

“Wah, itu yang saya lupakan. Sudah tiga bulan ini saya tidak mengisi dana ke rekening itu,” jawabnya. Segera saja, aku mengingatkannya.

“Waktu itu, Bapak ikut program yang bayar Rp 200 ribu per bulan kan? Kalau tiga bulan, berarti Rp 600 ribu Pak. Genapkan Rp 1 juta agar bisa didebet lagi,” kataku.

“Iya, saya ingin ke bank tapi tidak sempat. Sibuk sekali,” kelitnya.

“Saya percaya kalau Bapak sibuk. Tetapi, diupayakanlah Pak. Sebentar saja. Kalau Bapak tidak membayar, polis Bapak bisa dinonaktifkan. Lapse, istilahnya. Pada masa lapse itu, asuransi Bapak tidak berlaku lagi. Kalau terjadi, maaf, Bapak meninggal misalnya, uang pertanggungan Bapak tidak bisa dikeluarkan. Kan sayang Pak. Cuma Rp 600 ribu, demi uang pertanggungan yang jauh lebih besar,” kataku lagi, mengingatkannya. Dia manggut-manggut.

“Kalau asuransi Bapak yang lain, masih aktif juga tidak? Polis Bapak banyak sekali,” tanyaku.

Nggak tahu. Beberapa agen asuransi tidak menghubungi saya lagi setelah itu,” jawabnya.

Perbincangan itu menjadi perbincangan terakhirku dengannya. Kami tak sempat bertemu lagi setelah itu. Genap sebulan kemudian, aku membaca berita di koran. Pak Jagat meninggal. Duh, aku kaget. Apakah sebenarnya saat dia mencatat dengan rapi daftar asuransi dan rekening bank yang dimilikinya adalah sebuah persiapannya sebelum kematian? Dia tak pernah melakukan itu sebelumnya. Tetapi, ada satu hal yang kukhawatirkan, apakah dia sudah membayar asuransinya yang terputus itu?

Kekhawatiranku menjadi kenyataan. Dia belum membayar beberapa asuransinya yang lapse. Aku menyesal karena tak memaksanya lagi setelah itu. Apalagi, ketika anaknya tak bisa mencairkan uang asuransi tersebut karena kelalaian bapaknya. Mereka sangat memerlukannya. Aku menyesal.

Kejadian itu kerap menjadi pengingatku. Dalam kehidupan, yang pasti adalah ketidakpastian. Kematian, sama halnya dengan kehidupan, adalah milik Tuhan. Tak pernah ada yang tahu. Yang pasti, semua orang pasti mati, entah kapan waktunya.

Karena ketidakpastian itu, kita perlu membuat sebuah “jaminan kepastian”. Jaminan bagi orang terdekat, orang terkasih dalam hidup kita: keluarga kita. Ini bukan perkara nyawa kita dihargai dengan sekian rupiah dari uang pertanggungan asuransi yang kita miliki. Bukan itu. Nyawa kita tak pernah bisa dihargai dengan uang, berapa pun nilainya. Tetapi, di balik kematian itu, ada hal yang harus dihadapi keluarga kita, sepeninggal kita yaitu meneruskan hidup mereka tanpa kita.

Seandainya, kita – orang yang mati – ini adalah penopang hidup keluarga kita, apa yang terjadi dengan mereka setelah kita mati? Kita tak pernah tahu. Tetapi yang pasti, ada sesuatu yang hilang. Bukan saja diri kita namun juga penghasilan yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kerap kali, ini menjadi masalah.

Melimpahkan Risiko

Sebagai manusia, kita memiliki dua kemungkinan: panjang usia atau pendek usia. Orang bisa meninggal pada usia muda atau saat lanjut usia. Keduanya memiliki risiko. Saat kita mati muda, terutama pada usia produktif, keluarga kita menanggung risiko atas tanggung jawab yang kita tinggalkan. Kalau kita memiliki anak, kita bertanggung jawab agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak-anak kita perlu pendidikan yang maksimal agar bisa hidup lebih baik kelak. Keluarga kita membutuhkan kehidupan yang lebih baik, dengan atau tanpa diri kita. Bila kita panjang umur, kita memiliki risiko kesehatan yang tak menentu dan tak memiliki penghasilan pada usia lanjut. Umumnya, menjadi orang tua sama artinya menjadi tidak produktif. Pada saat yang sama, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari harus terus bisa dipenuhi. Belum lagi ada kecenderungan kondisi kesehatan yang menurun pada usia senja, yang sudah pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja, melimpahkan risiko itu pada pihak lain, yaitu perusahaan asuransi. Banyak risiko yang bisa kita limpahkan pada perusahaan asuransi agar kita atau keluarga kita hidup lebih baik.

Pertama, risiko atas kehilangan penghasilan ketika pencari nafkah dalam keluarga meninggal. Siapa pun, suami atau istri yang bekerja, memiliki kontribusi bagi kesejahteraan keluarganya. Jika salah satu sumber penghasilan itu tak ada lagi, besar atau kecil, pasti ada dampaknya bagi keluarga.

Kedua, risiko atas kondisi kesehatan yang tidak menentu. Bukan hanya saat tua, kondisi kesehatan orang muda masa kini pun kian tak menentu. Pola hidup yang kian tak sehat cenderung memunculkan penyakit degeneratif pada usia yang lebih dini. Atau, kondisi kesehatan yang memburuk akibat kecelakaan.

Pelimpahan risiko atas kondisi kesehatan ini bisa berupa jaminan rawat inap di rumah sakit, jaminan biaya pengobatan, jaminan jika terjadi penyakit kritis, sampai jaminan jika tubuh kita mengalami cacat tetap secara total sehingga kita tak mampu bekerja seperti sebelumnya.

Biaya pengobatan saat ini sangat mahal. Meski penghasilan kita terbilang besar, tetapi jika kita tidak melimpahkan risiko itu pada pihak asuransi, uang tabungan kita bisa habis lebih cepat.

Ketiga, risiko atas hidup di usia senja dan tidak produktif. Selain harus bersiap menghadapi kematian yang tidak menentu datangnya, kita juga perlu bersiap menghadapi hidup panjang umur. Risikonya, kita tak memiliki sumber pendapatan karena tak lagi bekerja. Tentu, kita tak bisa terlalu tergantung pada anak-anak kita karena kelak, mereka tentu memiliki keluarga yang juga membutuhkan biaya hidup yang tidak kecil. Kita memerlukan jaminan hidup nyaman pada usia senja, yang kita sebut dana pensiun.

Jika perusahaan kita telah memberi jaminan dana pensiun, itu bagus. Tetapi, jangan cepat berpuas hati. Dana pensiun dari perusahaan biasanya hanya beberapa persen dari pendapatan ketika kita sedang bekerja. Bisa 80%, 70%, atau bahkan 50%. Ini masalahnya. Jika kita sudah terbiasa mendapatkan dan menggunakan 100% penghasilan lalu berkurang menjadi 50% penghasilan, akan terjadi gap penghasilan dan pengeluaran yang besar. Padahal dari tahun ke tahun biaya hidup selalu meningkat. Kita akan menemui kendala. Itulah yang kita harus pikirkan.

Sejak Dini

Kalau begitu, mulai kapan sebaiknya kita melimpahkan risiko kepada pihak asuransi? Sejak dini. Makin cepat, makin baik. Kita tak tahu, kapan berbagai jenis risiko itu datang. Selain itu, kian muda usia kita, kian murah biaya asuransi yang harus kita keluarkan. Akan lebih baik misalnya, kalau sejak pertama kali bekerja, kita mengikuti program asuransi.

Ada berbagai alasan ketika orang tak melakukan itu di usia muda dan belum menikah; saya belum memiliki tanggungan keluarga, saya masih sehat, dsb. Jika itu pemikiran yang muncul, kita kembali pada konsep pelimpahan risiko: risiko bisa datang kapan saja, tak peduli tua atau muda. Malah, pada usia muda adalah masa terbaik mengikuti asuransi karena premi yang dibayar lebih kecil dibandingkan ketika mengikuti asuransi pada usia yang lebih tua. Saat muda dan belum menikah, kita punya peluang lebih besar untuk menyiapkan kebutuhan masa depan karena ketika sudah menikah dan punya anak, pengeluaran kita akan kian besar. Keuntungan lain, kita bisa memanfaatkan selisih premi yang dibayarkan untuk kepentingan lain kelak.

Anda tertarik mengikuti program asuransi tetapi dana yang dimiliki sangat terbatas? Sangat mudah. Pilihlah program asuransi yang paling murah preminya dan membeli berdasarkan prioritas. Sebenarnya, ada tiga hal mendasar yang harus kita miliki, yaitu jaminan ketika kita meninggal, jaminan atas kesehatan, dan dana pensiun. Dari ketiga jaminan itu, biaya asuransi kesehatan yang paling tinggi. Kalau tak memiliki dana yang cukup, prioritaskan dua jenis pelimpahan risiko yang lain. Kalau penghasilan kita kelak meningkat, pikirkan untuk melengkapi program yang sudah diambil.

Memilih Asuransi

Perusahaan asuransi membuat berbagai macam program yang kadang sulit dimengerti calon konsumen. Agen asuransi yang baik akan bertindak sebagai konsultan keuangan calon pembeli, bukan sekadar memenuhi target pribadi semata. Mereka akan memberi nasihat, jenis asuransi terbaik untuk calon pembelinya disesuaikan kebutuhan dan kondisi keuangan nasabah.

Jenis asuransi yang paling mendasar yang harus dimiliki adalah asuransi murni tanpa nilai investasi. Uang pertanggungan yang diberikan hanya akan keluar jika tertanggung dalam program itu meninggal dunia. Nilai uang pertanggungan besar dengan premi yang relatif kecil. Tahun 2000-an, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 pernah meluncurkan program asuransi “Seumur Hidup Prima”. Masa asuransi, seumur hidup. Calon pembeli berusia 26 tahun cukup membayar premi Rp 526.000 per tahun selama 12 tahun dan akan diberi jaminan uang pertanggungan sebesar Rp 100 juta yang hanya bisa dicairkan jika tertanggung meninggal. Uang pertanggungan itu tentu bermanfaat bagi ahli waris saat tertanggung meninggal. Minimal, mereka bisa menutupi kebutuhan keluarga hingga jangka waktu tertentu. Saat ini, program tersebut telah digantikan dengan program lain yang sejenis.

Perubahan Perilaku

Ada hal yang paling penting dalam perencanaan keuangan keluarga kita, yaitu perubahan perilaku. Jika sudah memiliki penghasilan, orang sering bersikap “spend first, save later”: belanja dulu, menabung kemudian. Banyak orang yang menabung kalau ada sisa penghasilan. Jika seperti itu, kita tak akan pernah memunyai sisa penghasilan yang bisa ditabung. Pasalnya, akan selalu ada pengeluaran yang harus kita biayai. Berbeda jika sebagian penghasilan sudah kita sisihkan sejak awal. Berapa pun uang yang tersisa, maka akan cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita punya persiapan untuk masa depan.

Bersikap “save first, spend later” berarti pula mengubah perilaku jangka pendek menjadi perilaku jangka panjang. Hasil survei konsultan pemasaran Frontier menyebutkan, 98% konsumen Indonesia berperilaku jangka pendek. Padahal, menurut T. Harv Ekker dalam bukunya “Millionare Mindset”, salah satu syarat agar orang bisa menjadi kaya adalah memunyai horizon jangka panjang. Tantangan musuh dari diri sendiri inilah yang harus kita tangkis agar hidup kita lebih sejahtera. Selain itu, selalu utamakan meningkatkan anggaran untuk tabungan masa depan ketika terjadi kenaikan pendapatan, bukan mengutamakan anggaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.


12 Komentar so far
Tinggalkan komentar

hmmm..semi feature…human interet di awal…plus data yang valid di tengah..dan pandangan obyektif di bagian akhir tulisan…xixixixixi aq belajar dari tulisan mbak ratna lho..mantap!!

Komentar oleh Devi Ayu

Hehehe baguslah nggak perlu ngajarin lagi, kan dah bisa diserap langsung😀 ayo, segera posting

Komentar oleh Ratna

Woah! I’m really loving the template/theme of
this site. It’s simple, yet effective.

Komentar oleh business Article

ibu ratna, saya minta ijin copas tulisan ini ya. Tq

Komentar oleh ina

I all the time used to study piece of writing in news papers but now as I
am a user of net therefore from now I am using net for content,
thanks to web.

Komentar oleh wedding hairstyles for short hair half up

Hi there I am so grateful I found your blog page, I really found you by mistake, while I was browsing on Google for something else, Anyways I am here now and would just like to say thanks
a lot for a marvelous post and a all round exciting
blog (I also love the theme/design), I don’t have time to look over it
all at the moment but I have saved it and also
added your RSS feeds, so when I have time I will be back to read a great deal more, Please do
keep up the excellent job.

Komentar oleh “Jaminan Kepastian” di Tengah Ketidakpastian

Greetings! I know this is somewhat off topic but I was wondering if you
knew where I could locate a captcha plugin for my comment form?

I’m using the same blog platform as yours and I’m having problems
finding one? Thanks a lot!

Komentar oleh Http://Www.Fadous.Com/Se414/Index.Php/Blogs/50152/64553/Great-Hair-Care-It-S-The-First-Thing-People-Notice

Happy birthday wishes that you care. And if you have myriads of
designs for girls and choose that birthday parties also include trivia like a diva, zebra designed items and
they can be done. Because time itself is like a child involved in any part
of corporate history books. I am blessed to get married and
have been designed and birthday wishes built to last forever.
So be honest and positive about the age
and you want based on sharing and growing with me, it’s appropriate
to the images of fairies, angels and flowers.

Komentar oleh Www.Compalove.Com

fat loss factor

“Jaminan Kepastian” di Tengah Ketidakpastian | It’s My Life

Lacak balik oleh fat loss factor

Some claim you should abstain from the cervix, shallower sex, such as cheese, how
to conceive a girl yoghurt, flax seeds, tofu,
flax seed, evening primrose oil, protein, etc. This is assumed to be an influential factor in the womb, which forces you
to continue reading my story. There how to conceive
a girl are also faster moving boy sperm. If you would like to
see tried-and-tested, all-encompassing methods which
can greatly influence the sex of your preference, it’s important to be absolute how to conceive a girl fallacies and obviously are” urban legends”.

Komentar oleh Genesis

They come equipped with BRAVIA Sync, you should try to watch videos and lots 32 inch tv more.
Victor Sun Yeng, while loss-framed messages focus on larger HDTVs.
An LCD television would not be made better choices
may help your business? That could be met with encouragement and enthusiasm However, they supported
each other emotionally.

Komentar oleh 32 Inch Led Tv

see here

“Jaminan Kepastian” di Tengah Ketidakpastian | It’s My Life

Lacak balik oleh see here




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: