It’s My Life


Belajar Membatik di Stan Semarang: Kesalahan bisa Jadi Motif asalkan Kreatif
Juli 9, 2009, 9:26 pm
Filed under: Umum

“CANTINGNYA jangan diisi terlalu penuh agar tidak tumpah,” ujar Deka Yuda Prasetyo di stan “Semarang” di arena pameran PKB di Ardha Candra Art Center. Deka lalu meminta Erika melapisi sketsa bunga di atas kain mori dengan malam. “Jika seluruh pinggiran bunga sudah dilapisi malam, Erika bisa mewarnai bunga itu sesuai warna yang diinginkan,” katanya menjelaskan. Dengan gembira, Erika menyelesaikan batik buatannya. Ia pun menerakan namanya di lembaran kain itu. Sebagai kenang-kenangan, batik buatannya itu boleh dibawa pulang.

Di stan yang diisi oleh Zie Batik dari Semarang ini, anak-anak bisa berlatih membuat batik. Biayanya hanya Rp 20 ribu per lembar kain berukuran 20 cm x 20 cm. Sejak dibuka, stan ini diminati anak-anak SD yang ingin belajar membuat batik. Menurut Deka, peminat belajar membatik ini sangat tinggi. Dalam sehari, ada 15 anak yang belajar membatik. Desain batik di atas kain mori sudah disediakan Zie Batik. Anak-anak yang belajar membatik tinggal memilih desain sesuai selera. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan anak-anak maupun orang tua tertarik melestarikan batik sebagai warisan budaya Nusantara. “Tetapi, dalam proses pembuatan batik di sini, kami hanya mengenalkan sampai di proses perwarnaan. Sejatinya, setelah selesai diwarna, batik dilorot – dicelup dan dibilas dengan air panas – untuk menghilangkan malam yang menempel di kain,” papar Deka.

Selain anak-anak, kaum ibu pun tak mau ketinggalan. Sebagian dari mereka ada yang minta dilatih secara khusus. “Selama PKB, kami melayani permintaan itu. Biaya kursus membatik buat ibu-ibu Rp 500 ribu, tiga kali pertemuan seminggu,” kata Zazila, pemilik Zie Batik. Selain pelatihan, ibu-ibu itu juga memesan peralatan dan bahan-bahan membuat batik seperti kompor, wajan, canting, kain, pewarna, dan malam.”Mereka ingin menekuni pembuatan batik,” kata Zazila.

Berbisnis batik memang menguntungkan. Dengan modal Rp 500 ribu, sebuah bahan yang bagus bisa dijual Rp 5 juta atau bahkan Rp 10 juta. Tetapi, itu bukan alasan utama Zazila menekuni usaha batik. Keluarganya tak memiliki darah pembatik. Walau bukan penduduk asli Semarang, Zazila memilih mengembangkan batik ibu kota Jawa Tengah itu.

Sempat bekerja di perusahaan garmen dan kemudian menganggur akibat krisis moneter, tahun 2004 Zazila mengikuti pelatihan membatik di Museum Tekstil di Jakarta. Saat itu, Zazila mulai jatuh cinta pada batik. “Saat pelatihan, saya bertanya. Apakah pelatihan ini sampai di sini saja? Kata instrukturnya, untuk belajar membuat batik secara serius, ada tahap tertinggi, yaitu pewarnaan alam. Saya pun akhirnya menindaklanjutinya dengan belajar pewarnaan alam di Yogyakarta,” kisah perempuan kelahiran Tegal, 21 April 1970 itu.

Saat pelatihan di Jakarta itu, ada hal yang membuatnya terenyuh. “Peserta pelatihan membatik itu kebanyakan orang asing. Dari sana, saya jadi tertarik ingin mengembangkan batik Indonesia,” ungkapnya. Di sisi lain, di Semarang yang menjadi tempat tinggalnya kini, ia menemukan sebuah Kampung Batik namun tak ada pembatiknya. “Kampung Batik itu ada sejak tahun 1900-an. Tetapi, saat saya ke sana, tak ada pembatik samasekali,” katanya. Selain ada kampung batik, Semarang juga memiliki Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia, sebagai saksi bisu bahwa di kota itu pernah ada usaha mengembangkan batik Semarang yang akhirnya tenggelam.

Sisa-sisa sejarah tentang batik lawasan ala Semarang kini bisa ditemukan di museum di Los Angeles, Belanda dan Museum Batik Danar Hadi di Solo. Selain itu, tak ada yang tahu ciri khas batik lawasan Semarang. Melihat kondisi itu, Zazila pun tergerak mengembangkan batik Semarang. “Yang pertama kali diperlukan adalah pembatiknya. Karena itu, saya mulai mengenalkan pembuatan batik ke sekolah-sekolah di Semarang,” kisah istri Marheno Jayanto ini.

Ternyata, sambutan murid-murid dan guru-guru sangat antusias. Tiga sekolah; Al Azhar, Karangturi, dan Semesta langsung menjadikan kegiatan membatik sebagai kegiatan ekstrakurikuler mereka. Selain itu, istri Wali Kota Semarang ketika itu, Ny. Sinto Sukami pun menyambut positif. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah Semarang, mereka mengadakan pelatihan membuat batik di sekitar Kampung Batik. Tujuannya, menghidupkan kembali Kampung Batik. Agar bisa membuat selembar kain batik, ibu-ibu itu dilatih selama sebulan.

Di pengujung tahun 2005, usai melatih ibu-ibu di sekitar Kampung Batik itu, muncul masalah. Di Semarang, tak ada yang memproduksi batik. Akhirnya, Zazila memutuskan untuk memproduksi batik khas Semarang dengan mempekerjakan ibu-ibu yang telah dilatih tersebut. Masalah lain muncul, tak ada yang tahu secara pasti desain khas batik ala Semarang. “Kami putuskan membuat batik dengan motif ikon Kota Semarang seperti Lawang Sewu, Tugu Muda, asem dengan warna-warna natural,” kata peraih Juara II Gugus Kendali Mutu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang, Juni 2009 ini.

Pelatihan membuat batik kian diminati masyarakat ketika Indonesia diserbu batik dari Cina dan Malaysia mematenkan batik. Tiap hari, Zazila membuka pelatihan membuat batik di rumahnya, termasuk pelatihan pewarnaan alam. “Proses membuat batik itu tak terlalu sulit. Kesalahan pun bisa menjadi motif kalau kita kreatif,” katanya.

Kini, Kampung Batik di Semarang hidup kembali. Zie Batik dikenal pelopor dalam pengembangan batik Semarang. Zazila kerap diminta mewakili Semarang untuk mengikuti pameran di kota lain seperti PKB saat ini. “Saya membuat motif bertema khusus tiap ada pameran,” ungkap Zazila. Pada pameran kali ini, ia membuat batik dengan tema legenda seperti motif Ramayana, penari gambang Semarang, dan Srikandi. Tiap motif hanya dibuatkan satu lembar dengan harga Rp 4,5 juta per lembar. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 5 Juni 2009


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Salam Kenal Mbak Sazila,
Saya ada keinginan untuk menekuni usaha pembuatan Batik di daerah saya Bedono,Jambu,Kab.Semarang.
Agar setidaknya bisa turut serta melestarikan Budaya Bangsa ini sekaligus sedikit menciptakan peluang kerja buat masyarakat sekitar saya.
namun saya masih buta sama sekali tentang usaha Batik ini, dimana kiranya saya bisa mendapatkan bimbingan serta pendampingan dalam hal ini nantinya ?
Mohon dapat di berikan pencerahan serta gambaran seberapa besar Modal awal untuk memulai usaha ini ?
Demikian saya tunggu kabar baik nya dan semoga selalu Sukses serta Berkah buat Kita semua !

Komentar oleh Eko Budi Sulistiyo




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: