It’s My Life


Berburu Miniatur di PKB: Harga Becak lebih Murah Dibandingkan di Yogyakarta
Juli 9, 2009, 9:25 pm
Filed under: Umum

DI LAPAK dagangan di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, pengunjung dengan mudah mendapatkan berbagai macam miniatur sepeda gayung, dokar, atau becak. Miniatur serupa juga pasti ditawarkan oleh pedagang acung atau pedagang kaki lima di kawasan Candi Borobudur Magelang serta toko kerajinan yang tersebar di Yogyakarta.

Harganya bervariasi dan tidak tergantung tempat. Di pusat oleh-oleh khas Yogyakarta “Mirota” di Maliboro misalnya, becak ala Yogyakarta ukuran tanggung dijual seharga Rp 260 ribu per buah. Produk yang sama, dijual pedagang acung di kawasan Candi Borobudur seharga Rp 250 ribu. Bedanya, di Toko Mirota pembeli tak bisa menawar. Harga permintaan terendah untuk sebuah becak ukuran tanggung di pedagang kaki lima di kawasan Candi Borobudur, Rp 175 ribu, tak disetujui pedagang. Mereka menjual becak itu paling murah Rp 225 ribu.

Bagi penggemar miniatur, tak perlu jauh-jauh ke Yogyakarta untuk membeli becak. Selama Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar, pengrajin asal Kota Pelajar yang memproduksi bermacam-macam miniatur mengadakan pameran. Seperti yang dipamerkan Maryanto dari JP Kuningan; ada sepeda antik, sepeda balap, sepeda Mandarin, becak, gerobak, dokar, bajaj sampai miniatur sepeda motor Harley Davidson. Menariknya, harganya jauh lebih murah dibandingkan membeli produk sejenis di Yogyakarta. Miniatur becak ukuran kecil dijual Rp 125 ribu, becak ukuran sedang dijual Rp 150 ribu, dan becak ukuran besar lengkap dengan pengayuhnya dijual seharga Rp 250 ribu. Harga itu pun masih bisa ditawar. “Harga beli di sini bisa lebih murah karena pengunjung membeli langsung dari pengerajin,” katanya.

Maryanto memiliki misi khusus dalam pembuatan berbagai macam alat transportasi yang ada di Indonesia itu. “Harapan saya, anak-cucu kita dapat mengetahui jenis kendaraan yang pernah ada, yang sebagian sudah langka atau bahkan tidak ada lagi,” ujarnya. Maryanto juga memproduksi miniatur lain yang unik seperti kursi roda yang bisa dilipat seperti aslinya. Selain memproduksi bermacam-macam miniatur, Maryanto juga membuat kerajinan dari alumunium seperti kepala Buddha, patung Buddha tidur, topeng Panji, topeng penari Bali dsb.

Miniatur yang paling diminati pembeli adalah sepeda gayung, becak, dan dokar. “Pembeli miniatur di Bali masih minim. Pengunjung yang datang lebih banyak yang melihat-lihat saja. Pangsa pasar di Bali, rasanya lebih pas kalau pemilik galeri karena produk kami diminati turis mancanegara,” katanya. Pangsa pasar miniatur di Indonesia paling tinggi adalah Jakarta dan Medan.

Produk buatan Maryanto berupa cor-coran logam hasil daur ulang. Tiap satu komponen dibuatkan satu cetakan. Misalnya, sepeda memiliki 13 komponen yang berbeda. Masing-masing komponen memiliki satu cetakan dan bisa membuat 50 komponen yang sama sekali buat. Komponen tersebut dirangkai lalu dilapisi tembaga dan diwarna agar terkesan antik. Dalam seminggu, Maryanto bisa membuat 50 sepeda. Omzet perusahaannya sebulan rata-rata Rp 20 juta. “Kami terkendala dalam pemasaran,” ungkapnya. Selama ini, produk JP Kuningan yang dijual ke pembeli mancanegara selalu melalui eksportir. Maryanto bangga bisa memperkenalkan produknya di Bali meski target pasar belum ditemui. “Kalau ada pameran produk ekspor seperti di Jakarta, pembeli sudah jelas. Pengunjung yang datang memang benar-benar untuk berbisnis,” katanya.

Perak Kotagede

Bersama Pram Batik Natural, Ayuning Silver, dan Ciandari Craft, Maryanto mengisi pameran sampai 1 Juli di stan “Yogyakarta”. Pengerajin yang dikirim oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta, digilir. Tiap 10 hari, ada empat pengerajin di satu stan. “Di Yogyakarta ada ratusan pengusaha kecil. Karena itu, kami harus bergiliran kalau mau ikut pameran. Saya menunggu satu tahun agar bisa ikut pameran ke luar daerah yang dibiayai pemerintah,” ujar Kresi Tejo Bawono dari Ayuning Silver.

Berbeda dengan kerajinan perak di Bali, kerajinan perak ala Kotagede Yogyakarta dibuat dengan bahan baku tembaga yang dilapisi perak. Produk itulah yang dijual Tejo Bawono. “Kalau bahan bakunya khusus perak, harga jual jadi lebih tinggi, bisa-bisa tidak terjangkau calon pembeli,” begitu alasannya.

Sama seperti Maryanto, Tejo Bawono juga membuat berbagai macam miniatur, seperti sepeda dan dokar. Ia juga membuat miniatur bangunan yang menjadi ciri sebuah kota atau negara seperti Candi Borobudur, Menara Eiffel, Tugu Monas, dll. “Kalau ada yang memesan, kami juga bisa membuat miniatur pura dengan meru tumpang sebelas,” katanya. Tejo Bawono tak berani membuat ikon sebuah kota kalau tak ada yang memesan secara khusus, kecuali ikon di Yogyakarta, tempatnya berproduksi. “Biasanya, ikon kota atau negara itu diperlukan oleh penjual/konsumen di kota/negara bersangkutan sebagai suvenir khas daerah. Kalau saya jual di Yogyakarta, bisa tak diminati,” katanya berargumen. Selama pameran di PKB, Tejo Bawono menjual satu miniatur Menara Eiffel. “Orang yang membeli, pernah ke Paris,” tuturnya. Tejo Bawono juga memproduksi miniatur seperangkat gamelan. Miniatur buatannya dikemas dalam kotak kaca dan disiapkan tutup dari tripleks berbalut kain batik. “Kami kemas seperti itu agar miniatur ini bisa menjadi hadiah yang siap diserahkan kepada penerima,” ucap Tejo Bawono yang menekuni usaha turun-temurun keluarganya itu.

Selain itu, ia juga membuat berbagai macam perhiasan dan aksesoris dengan bentuk yang unik seperti bros berbentuk kipas dan penjepit dasi berbentuk keris lengkap dengan sarungnya. “Penjepit dasi itu seperti keris mini. Kerisnya bisa dikeluarkan dari sarungnya,” ujar Tejo Bawono.

Kreasi yang diciptakan Tejo Bawono umumnya berupa miniatur benda lain. Berbeda dengan miniatur buatan Maryanto, miniatur buatan Tejo Bawono diproduksi secara manual, tanpa mesin. Semuanya buatan tangan. Proses pembuatannya pun berbeda dengan kerajinan perak di Bali. “Perak Kotagede dirangkai satu persatu. Kalau sudah ahli, hanya perlu waktu dua hari untuk membuat satu karya,” katanya. Jika dibandingkan dengan proses pembuatannya yang begitu rumit dan perlu ketelitian tingkat tinggi, harga sebuah penjepit dasi Rp 65 ribu, menjadi setara. “Tetapi tidak semua pembeli bisa menghargai proses pembuatan itu. Tempat perhiasan yang kami jual Rp 20 ribu per buah, ditawar jadi Rp 5.000. Ya, tentu tak bisa kami berikan,” ujarnya. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 28 Juni 2009


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

untuk melihat2 desain perak atau bagi yg mau membeli perhiasan perak secara online boleh kunjungi eshop kami. thanks🙂

Komentar oleh silveragid




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: