It’s My Life


KamasanBali Hasilkan 3.000 – 5.000 Kepeng Sehari: Sekali Upacara bisa Pakai 100 Ribu Keping
Juli 13, 2009, 3:18 pm
Filed under: Umum

SEBAGAI pangempon pura, Jero Mangku Gede Ketut Telaga Pura Agung Gunung Raung di Taro, Gianyar, memerlukan uang kepeng sebagai bahan yadnya dalam upacara keagamaan. Jumlahnya tak bisa ditentukan; bisa hanya puluhan saat upacara di rumah sehari-hari atau ratusan saat ada odalan besar di pura. Uang kepeng diyakininya bisa memperkuat aura pura.

Uang kepeng atau pis bolong sudah menjadi bagian hidup masyarakat Bali sejak dulu. Fungsinya, sebagai alat pembayaran dan sarana upacara. Penggunaan uang kepeng sebagai alat pembayaran pertama kali disebut Stephen DeMeulenaere dalam situs appropriate-economics.org, sekitar tahun 900 M.  Situs babadbali.com menyebutkan, berdasarkan bukti-bukti prasasti Sukawana A1 yang berangka tahun 882 Masehi, uang kepeng diduga telah memunyai fungsi dalam hubungannya dengan upacara agama Hindu di Bali. Menurut Ida Bagus Sidemen dalam buku “Nilai Historis Uang Kepeng”, sejak tahun 1950-an, uang kepeng mulai berangsur-angsur kehilangan fungsinya sebagai uang kartal dan nilai religiusnya merosot karena kurang mendapat perhatian masyarakat Bali. Meski begitu, kebutuhan akan uang kepeng tetap ada untuk kepentingan upacara.

“Dulu uang kepeng Cina yang dipakai di Bali,” ujar I Made Sukma Swacita, pendiri industri uang kepeng KamasanBali. Karena uang kepeng kian langka, ada keinginan agar uang kepeng tak punah. Melalui SK Gubernur No. 68 Tahun 2003, dibentuk Bali Heritage Trust, lembaga yang bertugas melakukan upaya-upaya melestarikan budaya Bali, salah satunya uang kepeng. Dalam uang kepeng Cina, yang tergambar adalah nama kaisar yang berkuasa saat pembuatan uang kepeng itu. Karena itu, Bali Heritage Trust dan komponen masyarakat yang peduli, memikirkan desain uang kepeng sesuai budaya Bali. Pilihannya, uang kepeng panca-aksara dan padma. “Padma melambangkan dewata nawa sanga,” ujar Sukma Swacita.

Selain untuk melestarikan budaya Bali, uang kepeng itu bisa digunakan untuk pengganti uang kepeng lama dalam upacara keagamaan. Karena itu, bahan bakunya harus mengandung panca-datu (lima kekuatan hidup yang dipengaruhi kekuatan panca-dewata), yaitu besi, perak, tembaga, emas, perunggu dan kuningan. Besi adalah kekuatan Dewa Wisnu, berwarna hitam dan berada di utara; perak adalah kekuatan Dewa Iswara, berwarna putih dan berada di timur; tembaga adalah kekuatan Dewa Brahma, berwarna merah dan berada di selatan; emas adalah kekuatan Dewa Mahadewa, berwarna kuning dan berada di barat; perunggu dan kuningan adalah kekuatan Dewa Siwa, berwarna-warni dan berada di tengah. “Panca-datu adalah syarat mutlak dalam upacara karena memenuhi kelima unsur arah mata angin,” katanya.

UD KamasanBali dipilih untuk memroduksi uang kepeng tersebut yang kemudian disosialisasikan kepada 1.417 bendesa adat di Pura Puncak Mangu tahun 2004. “Saya tertarik menggeluti usaha ini karena memiliki nilai filosofi yang tinggi,” ujar pria kelahiran Klungkung, 28 November 1957 itu.

Selain itu, menjalankan usaha ini sama halnya dengan menjaga lingkungan. “Sebagian bahan yang kami gunakan berasal dari barang bekas seperti pegangan pintu, keran, dinamo sepeda, velg sepeda motor atau mobil yang sudah tidak terpakai,” ungkapnya. Beberapa pengepul barang bekas menjadi rekanannya. Bahan pembuatan uang kepeng itu terdiri atas 25% tembaga, 50% kuningan, 15% timah, 9% alumunium, serta 1% emas, perak dan besi,” kata peraih penghargaan Logam Terbaik dalam Pameran Produk Budaya Nusantara di Jakarta, Juli 2007 itu. Berbekal teknologi, ia melebur semua bahan dan mengolahnya kembali. Dalam sekali produksi, KamasanBali bisa menghasilkan 3.000 – 5.000 uang kepeng sehari. Sebagian besar tenaga kerja yang dipekerjakannya berasal dari masyarakat kurang mampu, putus sekolah, yang dididik secara serius.

Kebutuhan uang kepeng untuk upacara di Bali menurutnya sangat tinggi. Yang ia ketahui, saat upacara besar di Pura Kentel Gumi, uang kepeng yang dipakai bisa mencapai 100 ribu keping. Tahun lalu, uang kepeng sebagai bahan yadnya yang dijualnya menembus angka 1 juta keping. Per keping, dijual Rp 700. “Harga itu tidak pernah naik sejak kami memroduksi uang kepeng, tahun 2004,” kata penerima penghargaan Paramakarya dari Departemen Tenaga Kerja RI tahun 2007 berkat produktivitas dan kualitas yang baik ini.

Suvenir dan Aksesori

Tak cukup sampai di situ, suami Ni Made Sukanti ini melakukan inovasi. Ia membuat suvenir dan aksesori dari uang kepeng. “Uang kepeng kalau belum diupacarai, hanya aksesori biasa. Karena itu, dengan kreativitas saya mengembangkan uang kepeng menjadi berbagai macam produk,” ujarnya. Anyaman uang kepeng, begitu ia menyebutnya. Beberapa bentuk bangunan atau barang yang langka dibentuknya seperti lumbung arta, gedong arta, bale gading, pabuan. Berbagai ragam patung seperti patung Siwa, patung Ganesha, patung Dewi Kwam In, patung penari Tamulilingan juga dibuatnya. Begitu halnya dengan perangkat upacara seperti plangkiran, daksina, ider-ider, cilli, tamiyang, sampian, atau lamak. Selain itu, KamasanBali juga membuat aksesori seperti anting-anting, liontin, gelang, dan cincin. “Kami juga membuat uang kepeng wayang sebagai upaya pengembangan usaha,” ujar I Gede Andika Prayatna Sukma, S.E., anak tunggal Sukma Swacita dan Sukanti. “Kami memilih jenis wayang klasik Kamasan sebagai desainnya,” imbuh Sukma Swacita. Ada 18 macam jenis karakter wayang yang dibuatnya antara lain Arjuna, Kresna, Panca Pandawa, Malen/Semar, Sangut, dan Dewi Durga. Ia juga melestarikan caket (pembelah buah pinang) dengan motif kuda, singa, atau ayam.

Sebagian masyarakat Hindu di Jawa Barat, Lampung, Gorontalo, NTB, Jakarta dan Manado menjadi pelanggan KamasanBali. Selain itu, Sukma Swacita juga menerima pesanan dari Singapura, Thailand, Prancis, Swedia, dan Belanda. “Sebagian ada yang memberi desain pada kami, sebagian membeli yang sudah ada,” ujarnya. Harga jual produknya bervariasi. Misalnya, pabuan dijual Rp 1 juta, lumbung arta dijual Rp 3,5 juta per buah.

Industri binaan Bank BPD Bali ini pun kerap mengikuti pameran. Salah satunya, pameran di Pesta Kesenian Bali (PKB). Tahun ini merupakan tahun kelima keikutsertaan UD KamasanBali dalam PKB. “Respons masyarakat sangat positif. Saat pameran, yang kami tekankan adalah promosi, tidak melulu penjualan. Apalagi, kebutuhan uang kepeng untuk kepentingan upacara selalu ada kapan saja,” katanya.

Tahun 2007, UD KamasanBali mencetak rekor Muri dengan membuat uang kepeng terbesar. Diameternya 77 cm, tebal 1,5 cm, dengan berat 50 kg. Uang kepeng terbesar itu setara dengan 11.335 uang kepeng biasa atau 67.567 uang kepeng koci/jepun. “Pembuatannya dikerjakannya enam orang,” kata Andika. Upaya pelestarian budaya Bali ini juga mendapat apresiasi dari Presiden RI yang memberikan penghargaan Upakarti Jasa Pelestarian tahun 2008 di Jakarta. “Kami akan terus berkreativitas dan berinovasi,” kata Sukma Swacita. – rat


16 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bagus kenbetulan saya sedasng perlu dengan uang kepeng seperti ini jumlahnya cukup banyak. Mohon Konfirmasi alamat lengkap UD Kamasan Bali

Komentar oleh I Made Suena

Bagus kenbetulan saya sedang perlu dengan uang kepeng seperti ini jumlahnya cukup banyak. Mohon Konfirmasi alamat lengkap UD Kamasan Bali

Komentar oleh I Made Suena

terima kasih atas kepercayaan bapak yang berarti bapak mendukung warisan budaya bali.. yang mana bila tidak dilestarikan uang kepeng bisa menjadi punah!

best regards

Made Sukma

Komentar oleh Made Sukma

salam kenal mbak.. katanya dapet penghargaan ya? selamat mbak…

Komentar oleh mirahmaniezt

pa bapak / ibu jg membeli uan2 kepeng tersebut

Komentar oleh sink'qy

minta/ kirim alamat jg yg lengkap

Komentar oleh sink'qy

kebetulan saya mau cari uang kepeng.
saya mau coba 100 keping dulu bisa ga, kl bisa gimana cara transaksinya.
sms: 085248224865

Komentar oleh fani

minta alamat lengkapnya…

Komentar oleh Dira

Pak made, aji kude pengarge jinah kepenge asiki? suksme

Komentar oleh adnyana

Om swastyastu
Tyang made dri sanur,,,mohon informasiny dmnkah tyang bs mndptkan uang kepeng buatan bapak yg terdkat dri daerah tyang.
kalao berkenan bpk tolong info tyang di 083119631826
Trimakasih

Komentar oleh Made koko

Lha?kok gag nulis lagi mbak Ratna? Posting tulisan lama di Tokoh diperbolehkan gag ya ?

Komentar oleh pandebaik

saya juga berminat….hubung saya yaaa

Komentar oleh ben

[…] sudah mulai dilupakan : TriMartono, Sutawijaya, Ratna erhanana, RadioGrafer putu Adi Susanta, Yanuar Kutak Kutik, MiRah Trisna ADi, Fitria PS, Dwija Satria […]

Ping balik oleh PanDe Baik » BLoGWaLKing yoook

hubungi no 087864908666,, bossss ,,,, aku pengen sherrrssss,,,,

Komentar oleh baan

info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Affleck

Komentar oleh John

cara pembuatan nya mana …

Komentar oleh joni




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: