It’s My Life


Tanpa Kreativitas, tak Mungkin Ada Produksi
Juli 13, 2009, 3:17 pm
Filed under: Umum

PENCULIKAN Shinta oleh Rahwana, si raksasa bermuka sepuluh, di Hutan Dandaka membuat Rama meminta bantuan Hanoman untuk mencarinya. Dalam perjalanannya, saudara Subali dan Sugriwa itu mendapat kabar, jika Shinta ditawan di Kerajaan Alengka. “Aku akan menyelamatkanmu,” kata Hanoman kepada Shinta ketika bertemu. Tetapi, Shinta menolak. Shinta berharap Rama yang menyelamatkannya. Hanoman pun berpamitan. Sebelum meninggalkan Alengka, ia memporakporandakan Taman Asoka di Kerajaan Alengka dan membunuh tentara Rahwana. Epos Ramayana ini berakhir dengan pertempuran besar yang dimenangkan Rama.

Kisah heroik Hanoman itu menarik minat mahasiswa jurusan animasi dan digital sinema New Media College yang mengangkatnya menjadi sebuah film animasi berjudul “Hanoman, The Movie”. Serbuan film kartun dari luar negeri yang ditayangkan di televisi dan menjadi tontonan utama anak-anak Indonesia membuat mereka prihatin. Karena berbeda budaya, film kartun dari luar negeri belum tentu cocok dengan budaya Indonesia. Karena itu, mahasiswa yang tergabung dalam Bali Motion Studio tertantang untuk melahirkan karya dengan mengangkat muatan lokal. “Selama ini, tayangan televisi telah mengambil ruang anak-anak. Mereka menonton yang disuguhkan, terlepas itu cocok atau tidak buat mereka. Di sisi lain, anak-anak memerlukan pelajaran budi pekerti tanpa merasa digurui. Karena itu, kami tertarik memproduksi film animasi dengan muatan budaya lokal,” ujar Drs. Pica Kusuma Turker, mahasiswa New Media College yang juga seorang guru.

“Selain itu, pembuatan film animasi ini juga menjadi sebuah upaya agar film animasi Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan malah didominir oleh film animasi dari luar negeri,” susul W. Joniartha Siada, S.T., Ketua Jurusan Komputer Animasi dan Digital Sinema New Media College. Selama ini, orang selalu berkiblat ke Jepang atau Amerika Serikat dalam hal produksi film animasi. “Banyak orang berpikir, hanya Jepang dan Amerika Serikat yang jago membuat film animasi karena tayangan kartun di stasiun televisi Indonesia kebanyakan dari dua negara itu,” ungkap Joni, panggilan karib lelaki kelahiran Ubud, 12 Juni 1979 itu.

Ketika penggunaan komputer dalam pembuatan film animasi belum berkembang seperti sekarang, orang Bali sudah sering mendapat pesanan pembuatan gambar kartun dari Jepang. Di Jakarta, ada studio animasi yang kualitasnya sekelas dengan Hollywood. Mereka sering mendapat pesanan dari luar negeri untuk membuat berbagai film animasi dan gem. Pihak pemesan tinggal memberi merek dagang pada buatan karya anak Indonesia itu. “Honor mereka juga selangit, bisa Rp 2 miliar untuk pembuatan karakter Disney tiga dimensi,” ungkap Joni.

Media juga berperan besar terhadap perkembangan film animasi Indonesia. “Produk lokal cenderung susah diterima karena dinilai lebih mahal dibandingkan produk luar negeri. Pengelola stasiun televisi lebih memilih film kartun luar negeri yang lama karena harganya lebih murah,” kata Joni lagi. Kondisi itu makin memperkuat paradigma bahwa film animasi hanya bisa dibuat di luar negeri. Kesan lain yang muncul di benak masyarakat, membuat animasi itu sulit.

“Membuat film animasi itu memang gampang-gampang susah. Tetapi, kesulitan yang utama masih masalah perangkat keras,” kata Verdila Sintya Devy, mahasiswa New Media College dan Wakil Ketua Bali Motion Studio. Pembuatan animasi menjadi gampang, asalkan kita memiliki kreativitas. “Tanpa kreativitas, tak mungkin ada produksi,” ujar Joni. Agar bisa maju, juga diperlukan inovasi. Terbukti, ketika Bali Motion Studio membuat pelatihan membuat animasi, dalam dua hari peserta mampu membuat karya sendiri.

“Kami terus berupaya menciptakan peluang agar animasi bisa menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat,” ujar Pica yang juga Ketua Bali Motion Studio. Misi mereka, membawa nilai-nilai perdamaian dari Bali dan nilai-nilai universal yang diangkat dalam karya-karya mereka. Guru-guru di Bali banyak yang antusias belajar animasi. “Dengan belajar animasi, guru bisa memperkenalkan teknologi dan budaya pada anak yang bisa diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Cara mengajarnya pun tak perlu konvensional lagi,” kata lelaki kelahiran 7 Oktober 1963 itu. Dengan mengenalkan dunia animasi pada anak-anak, mereka bisa juga diminta sebagai penilai. “Karena konsumennya anak-anak, kita bisa mencari tahu keinginan anak-anak terhadap teknologi dan memadukannya dengan kebutuhan mereka terhadap nilai-nilai budi pekerti sehingga menjadi tayangan yang menarik,” papar Pica.

“Banyak hal yang bisa dilahirkan dengan animasi,” kata Joni. Situs Bali Motion Studio menjadi salah satu sarana memamerkan animasi buatan anggotanya. Selain film, animasi juga dikembangkan dalam format CD interaktif atau materi iklan. Karya-karya itu diharapkan dapat menginspirasi pengunjung. “Untuk mengembangkan film animasi Indonesia, yang diperlukan sekarang hanya keterbukaan media agar mengutamakan produksi lokal dalam tayangan mereka,” kata Joni. Dengan begitu, peluang film animasi Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kian besar. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu 12 Juli 2009


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

woowww…..jadi semangat lagi nih….tug buat fil animasi.tag sia2222 masuk smk jurusan animasi…….

Komentar oleh vandi

saya mau tanya, adakah studio animasi di bali yang bisa menampung siswa SMK untuk prakerin???

Komentar oleh vayeni




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: